RSS

Traveling with Baby #2: Singapore Trip

Ini tulisan kelanjutan dari blog post saya sebelumnya tentang Traveling with Baby. Agak telat update kali ya. Secara trip ini sudah dari akhir Mei 2016 lalu. Tapi tak apalah. Siapa tahu membantu mereka yang akan trip pertama kali membawa bayi.

Trip saya ke Singapore lalu lumayan seru, karena itu kali pertama membawa  Maryam trip overseas. Selain itu, karena pertama kali overseas trip sama Bapak, Ibu, Lala dan Dani, setelah sekian lama kami tidak jalan-jalan keluarga. Dulu sampai saat saya sudah kuliah dan kerja, kami sering jalan-jalan keluarga. Hampir setiap ada long weekend, pasti ada acara entah itu hanya ke Jogjakarta, atau ke Malang. Ke mana saja yang penting judulnya jalan-jalan sekeluarga. Ah, jadi kangen masa-masa itu.

Jujur sampai sekarang saya belum berani trip ke destinaasi non negara maju kalau membawa bayi. Thailand misalnya. Repotnya itu, bakalan berasa. Bukan isu repot saja sih. Kebersihan dan fasilitasnya selama trip itulah yang menjadi pertimbangan utama.

Nursery Room

Kalau menurut saya, Singapore itu sangat proper untuk wisata keluarga, terutama bagi para pembawa bayi. Semua fasilitas umumnya sangat memadai, mulai dari toilet, transportasi, tempat wisata, sampai infrastruktur jalan dan fasilitas lainnya. Toilet misalnya. Meskipun lebih dominan toilet kering, tapi tempatnya selalu bersih. Jadi karena kebanyakan toilet di sana adalah toilet kering, saya selalu membawa botol aqua untuk di toilet. Dan ini selalu saya lakukan setiap kali berkunjung ke Singapore (atau negara lain juga sih), jaga-jaga kalau toiletnya adalah toilet kering. Bagaimanapun, karena kami Muslim, kami tidak cukup hanya menggunakan toilet kering yang hanya disediakan tissue saja. 🙂

Tak hanya itu, di manapun itu selalu mudah ditemukan Nursery Room. Nursery Roomnya pun sangat nyaman dan memadai, apalagi di lokasi-lokasi wisata. Selain menggunakan instalasi water heater, tersedia tempat untuk changing diaper dan bisa juga untuk mandiin Maryam. Heheh. Bahkan tersedia air panas untuk membuat susu. Ini saya temui di Singapore Zoo. Ketika di Gardens by The Bay, saya tidak sampai masuk ke Nursery Roomnya, jadi tidak bisa menuliskan reviewnya di sini. Tapi saya yakin tempatnya juga proper.

Transportasi & Infrastruktur

Trotoar di Singapore selalu menyediakan jalur untuk stroller dan para disabled persons. Jadi saat membawa stroller tak perlu banyak angkat-angkat stroller karena jalanan yang beda tinggi. Tak hanya itu, instalasi air bersih dijamin mudah diakses. Tap water (air kran) di Singapore juga mostly layak minum saking bersihnya. Transportasinya? Jangan tanya. Meskipun agak mahal memang, tapi relatif mudah dijangkau dan again, proper. Dari naik bis umum, subway, semua selalu menyediakan tempat khusus untuk disabled person dan juga ramah keluarga. Seat khusus orang tua yang membawa anak-anak hampir selalu terjamin ketersediaannya karena penggunanya tertib sesuai aturan. Jadi selama trip kemarin, overall semuanya jauh lebih mudah daripada perkiraan saya. Maryam bahkan lebih banyak jalan kaki daripada digendong, sehari dia bisa berjalan 1.5KM maybe kalau ditotal. She was very much excited karena di jalan-jalan banyak burung-burung dan sesekali ada juga kucing gembul nan lucu berkeliaran.

Selama di Singapore, saya menggunakan kombinasi bus, subway atau MRT, dan juga Uber dan taksi biasa.

Akomodasi

Singapore adalah negara yang sadar wisata. Jadi, saya pikir, meskipun hospitality di negara ini relatif tidak seperti di Indonesia (yang tipe hospitality-nya ramah dan tulus, haha), Singaporean mampu memperlakukan tamu dengan proper. Meskipun tinggal di hostel, host di hostel kami cukup helpful. Bahkan saya diijinkan membawa rice-cooker untuk masakin Maryam. Saya juga membawa bottle sterilizer dan itu SANGAT membantu. Mentok-mentok ketika stok makanan Maryam hampir habis, saya bisa membeli telur dan mengukusnya dengan bottle sterilizer. And it was perfectly OK. Saya kurang paham bagaimana jika di hotel. Tapi biasanya hotel akan cukup tegas untuk aturan ini (alias biasanya tidak diijinkan). Jadi menurut saya, memilih akomodasi apartemen atau hostel lebih preferable daripada stay di hotel biasa (hotel 1-3 star). Hotel bintang 4 atau 5 boleh lah, dengan catatan hospitality mereka cukup OK, seperti misalnya, mereka bersedia memasakkan makanan khusus untuk bayi, lebih bagus lagi kalau sesuai request. Terus terang saja, untuk hotel di Singapore saya tidak begitu yakin mereka mau. Saya pernah juga menginap di Sheraton Tower Singapore, yang per malamnya saja di atas 4 juta. Tapi hospitalitynya menurut saya nilainya 5.5. Heheh. So I would still recommend Airbnb appartment or hostel instead of common hotel. 🙂

Oh ya, satu lagi. Microwave. Selama di hostel, saya sama sekali tidak menggunakan microwave hostel karena microwavenya bau daging babi. Padahal tadinya berharap bisa menghangatkan makanan pakai microwave hotel. Jadi makanan yang saya bawa untuk Maryam cukup dihangatkan dengan rice cooker saja.

Makanan dan Minuman

Sekali lagi, saya sendiri tidak bermasalah dengan makanan. Saya bisa makan apa saja selama itu halal. Dan di Singapore cukup banyak tempat makan halal. Di Orchard, biasanya saya makan di Foodcourt Orchard ION, hanya saya luma nama tempatnya. Di sana ada beberapa opsi, tapi menurut saya ada 1 “warung” yang tastenya cukup OK meskipun tetap ala-ala Chinese food. Tempat makan wajib yang harus saya kunjungi adalah Warung Kampong Glam yang letaknya dekat dengan Masjid Sultan. I think it’s still the best in town untuk rasa dan harga. Hampir semua menu yang pernah saya coba selalu enak, dengan menu pilihan masakan Indonesia dan Melayu. Ada modifikasi rasa tapi modifikasinya OK. Kampong Glam tidak pernah sepi pengunjung, bahkan waiting list over the weekend, dan buka dari pagi sampai dini hari.

Stroller

Hmm…Untuk stroller selama trip, ini wajib dibawa. Wajib pakai banget. Karena Maryam akan tidur di stroller saat kami jalan-jalan. Juga kalau sedang tidak dipakai Maryam, bisa untuk membawa tas dan perkakas Maryam, mulai dari makanan, botol, termos dan susu. Pilihan stroller saya akhirnya jatuh ke Pockit. Selain karena mudah sekali dilipat, strollernya juga cukup nyaman. Sayangnya stroller ini hanya bisa untuk 1 posisi, tidak bisa reclined (posisi tidur), dan spacenya tidak cukup luas. But that’s the trade off. Kalau mau stroller yang lebih nyaman, biasanya strollernya besar dan kurang handy. Karena saya cukup banyak perjalanan dengan kendaraan umum, jadilah menurut saya Pockit cukup mengakomodir kebutuhan. Selain itu harganya tidak terlalu mahal (sekitar 1,5 juta). Lagipula saat itu Maryam sudah cukup besar dan justru tidak mau jika pakai stroller dengan posisi tidur/ reclined.

Ok, menurut saya itu sih yang bisa saya share. Mungkin nanti akan share lagi tentang destinasinya ya.Tidak banyak karena hanya 3 hari 2 malam, but it’s Ok lah… 🙂

Happy traveling!

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 30, 2016 in trip/traveling, Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Note of A Working Mom #3

Fiuh, lama ya tak update blog. Sebenarnya banyak yang mau ditulis, tapi begitu waktu menginjak jam 5 sore, lebih pengen segera jemput Maryam di daycare daripada nulis blog. hehe. Mau nulis tengah malam juga mager kalau udah ngelonin Maryam. Jadi apa boleh buat? 😀

Kali ini saya ingin cerita sedikit tentang “emosi” Maryam. Hahah. Saya baru tahu nih kalau ternyata bayi juga bisa ngambek dengan cara khusus. Beneran ngambek. Dan saya menyadari kalau anak saya, Maryam, ngambek beberapa minggu lalu, setelah sekian lamaaaa…

Jadi begini ceritanya. Sejak Maryam di daycare, memang seringkali ayahnya yang antar dan jemput Maryam. Biasanya kami berangkat bersama, lalu saya turun di jalan, dan suami lanjut mengantar Maryam. Maklum karena suami saya waktunya lebih fleksibel, jadilah seringkali dia yang mengantar dan menjemput Maryam. Setelah itu, pas lewat kantor saya, saya ikut sekalian. Maryam dititip ke daycare mulai umur sekitar 6 bulan. Kecuali kalau ayahnya sedang di luar kota, barulah saya mengantar dan menjemput Maryam.

Ketika Maryam kira-kira mulai menginjak usia 9 – 10 bulan, Maryam sudah mulai memperlihatkan “preference”nya terhadap orang-orang di sekitarnya. Turning pointnya adalah waktu malam-malam di rumah, kami bertiga (saya, Maryam, dan Aldi) sedang bermain boneka di kamar. Nah entah tiba-tiba waktu itu Maryam nangis dan marah waktu bonekanya ketindih saya dan Mas Aldi. Wew. Kami pikir waktu itu, bonekanya nggak boleh disentuh sama ayahnya. Eh ternyata eh ternyata, bukan nggak boleh disentuh ayahnya, melainkan nggak boleh dipegang sama saya. Ibunya. Hahah. Syeeediiiihhh…. Waktu itu, kejadiannya cukup bikin saya nangis bombay dan drama. Wakakak. Semacam jealous kenapa anak saya lebih milih bapaknya daripada saya. Ternyata emak-emak juga bisa jealous ketika si anak lebih dekat sama bapaknya. Hahah.

Saya sendiri tidak tahu kenapa begitu, perkiraan saya sih, karena memang Maryam relatif lebih banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya. Pagi setelah bangun tidur, saya lebih banyak berkutat dengan pekerjaan rumah dan memasak dan menyiapkan piranti kebutuhan Maryam. Apalagi waktu itu dia masih MP Asi dan belajar makan, jadi step by step makanan dan snacknya lebih banyak saya buat sendiri meskipun sesekali juga memakai makanan yg instant. Sesekali saja tapi jarang. Mulai dari makan pagi, siang sore, dan juga snack pagi sore. Belum lagi susu dkk-nya. Suami saya lebih banyak “handle” Maryam. Mulai dari ada waktu bangun tidur, dan mandiin Maryam sampai ganti baju. Terkadang juga menyuapi ketika sarapan. Sepulang kerja, saya juga terkadang masih berkutat dengan cucian, hehe. Nyetrika baju dan beberes yang lain. Alhasil, Maryam pun lebih sering main dengan ayahnya.

Mungkin karena itu, Maryam lebih dekat dengan ayahnya ketimbang saya. Awalnya saya memang jealous, sejealous-jealousnya. Tapi ya lama-lama terbiasa dan saya “maklumi”. Ditambah lagi, kata orang-orang, anak perempuan memang commonly lebih dekat dengan ayahnya. Okelah.

Nah suatu ketika, tepatnya bulan September lalu, saya harus pulang malam karena pekerjaan. Jam 9 lebih  saya baru sampai rumah. Pulang-pulang di rumah saya temui Maryam belum tidur. Dia memang biasa tidur malam sih, jam 10 – 11 an bahkan. Maryam menangis ketika saya pulang dan entah kenapa raut wajahnya sedih sekali. Bukan menangis karena minta mainannya, haus ingin minum susu, dsb. Bukan menangis seperti biasanya. Dia semacam menunjukkan emosi lain dari sekadar tangis batita. Dia seperti sedih dan marah. Sambil melihat saya dengan tatapan agak aneh, dia masih saja menangis dan tampak sangat sedih. Bukan marah teriak-teriak, tapi marah kecewa. Ah entahlah. Tatapannya semacam berkata, “Kenapa ibu baru pulang??? I was looking and waiting for you after all day long…” Saya pun jadi ikut berkaca-kaca. Saya peluk Maryam sambil saya meminta maaf karena baru pulang.

Sejak itu, saya jadi curious, jangan-jangan selama ini semacam protes kepada saya. Setiap perjalanan di mobil, hampir selalu dia hanya mau nempel sama ayahnya. Tidak mau saya peluk atau duduk dipangku. Setiap kali diminta cium saya, dia juga tidak mau, tapi selalu mau cium ayahnya. Saya sampai kangen. Kangen anak saya sendiri meskipun dia ada di sebelah saya.

Akhirnya beberapa waktu terakhir saya coba tes. Saya coba untuk mengantar dan menjemput Maryam di daycare. Atau setidaknya, kalau saya tidak bisa mengantar, saya pasti ikut menjemput Maryam di daycare. Entah kenapa ya, sejak saat itu, Maryam jadi lebih dekat dengan saya. Setidaknya dia tidak menolak saya pangku di mobil, bahkan sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Semarang/Jepara dia lebih banyak spent waktu dengan saya. Hanya sesekali saja minta dipangku ayahnya sambil menyetir. Dan saya pun sempat test case: selama beberapa hari saya tidak mengantar dan tidak juga menyemput Maryam. Dan hasilnya? Dia ngambek lagi sama saya. Apa-apa semuanya hanya mau dengan ayahnya. Mulai dari cebok, mandi, makan, bahkan duduk di mobil hanya mau dengan ayahnya. Lihat tv juga hanya mau sama ayahnya. Hahah. Sooo…jadi mungkin memang selama ini Maryam protes. Protes karena dia merasa kurang diperhatikan oleh ibunya. Maybe.

 

 
Leave a comment

Posted by on November 16, 2016 in Uncategorized

 

5 Tips Booking Hotel Murah

Tips booking hotel murah? Emang ada ya? Saya juga tidak tahu sebelumnya. Hanya saja, saya mencoba merangkum perjalanan saya bekerja di bidang hospitality & property management yg juga nyemplung di dunia perhotelan.

Ternyata eh ternyata, ada banyak trik lho supaya kita dapat harga miring dari hotel. Kalau dulu sih, saya seringnya booking via Agoda atau Booking.com. Jarang-jarang atuh booking langsung ke hotel. Pertama ribet, kedua harganya sering dapat lebih mahal. Tapiii, ternyata bisa jadi sebaliknya lho. Berikut tips booking hotel supaya murah, berdasarkan pengalaman saya dalam mengelola hotel.

1.  Direct Booking ke Hotel

Coba saja lakukan direct booking ke hotel. Bisa dilakukan via website-nya langsung, tapi saran saya lebih enak kontak ke salesnya atau email ke reservation hotel. Pertama, akan lebih personal. Kedua, kita bisa menawar #evilaugh. Kenapa direct booking ke hotel bisa lebih murah? Ini karena hotel tidak perlu membayar biaya komisi ke Online Travel Agent/ OTA seperti Agoda, Booking.com, Traveloka, dll. Sehingga alokasi komisi itu bisa dialihkan dengan pemberian diskon ke tamu. Cara ini tidak menjamin kita akan dapat harga murah, tapi bisa dicoba. Karena beberapa hotel juga menerapkan harga sama dari manapun sumber booking tamunya. 🙂

2. Traveling Saat Low Season

Beda harga antara low dan high season bisa cukup tinggi. Kenaikannya bahkan bisa sampai 40%. Jika normal harga hotel Rp 1.000.000, di high season bisa mencapai Rp 1.400.000. So, traveling saat low season bisa jadi pilihan untuk berhemat. Selain bisa mendapat harga murah untuk hotel, harga pesawat pun juga miring. Double kan? Akan tetapi memang low season bukan waktu “terindah” dari destinasi tujuan kita. Low season untuk destinasi tropis biasanya berlangsung di bulan Februari-Mei atau Oktober-20 Desember setiap tahunnya. 😀

3. Traveling Tepat Setelah/Sebelum Peak Season

Selain traveling saat Low Season, bisa juga dicoba untuk traveling setelah Peak Season. Peak Season Hotel biasanya berlangsung tanggal 20 Desember – 10 Januari (Libur Natal & Tahun Baru) setiap tahunnya. Setiap hotel biasanya menerapkan range tanggal berbeda, tetapi tidak jauh dari tanggal-tanggal tersebut, misalnya 23 Desember – 5 Januari. Traveling tepat sebelum atau sesudah Peak Season bisa mendapat harga murah, karena tanggal-tanggal tersebut merupakan “tanggal mati” bagi hotel, dan mungkin juga bagi airlines. Hotel akan sangat sepi di tanggal-tanggal sebelum atau sesudah Peak Season karena sebagian besar orang akan traveling di Peak Season, sehingga bisa jadi mereka banting harga.

4. Booking Jauh-jauh Hari

Lainnya, bisa dicoba dengan booking jauh-jauh hari. Salah satu strategi penjualan di hotel adalah menerapkan harga jauh lebih murah untuk mereka yg booking jauh-jauh hari. Tujuannya untuk “mengamankan” jumlah kamar yg terbooking, sehingga jumlah revenue dari outlet hotel seperti restoran, spa, gym, dll juga terjaga. Jarak waktu bookingnya bisa 3-6 bulan sebelum kedatangan. Lama sih memang, tapi kalau sudah punya tanggal fix, tidak ada salahnya dicoba, karena diskon yg diberikan bisa sampai 30-40% harga normal. 🙂

5. Last Minute Booking

Belum berhasil dengan cara-cara di atas? Coba saja dengan Last Minute Deals. Ada beberapa hotel yang membuka harga spesial untuk mereka yg booking last minute di online travel agents. Tidak banyak opsi memang, tapi tetap saja bisa dicoba 🙂

Oke, silakan kalau mau dicoba ya. Dikombinasikan tipsnya juga bisa lho: booking jauh hari, pas low season atau setelah/sebelum Peak Season dan direct booking ke hotel. Siapa tahu harganya bisa mantap 😀 hehehe.

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2016 in Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Traveling with Baby

Well, lama tidak menulis blog, kali ini saya ingin sedikit sharing tentang persiapan trip dengan Maryam, anak saya yang baru berumur 16 bulan pada saat keberangkatan (eits, pas ulang bulan ternyata).

Jadi, persiapannya mungkin akan sedikit heboh. Sedikit ya, sedikit versi saya. Haha. Jadi ceritanya weekend ini saya akan ke Singapore bersama Mas Aldi, Maryam, Ibu, Bapak, Dani dan Lala (adek-adek saya). Cuma 3 hari sih sebenarnya, tapi yakin bawaannya akan heboh. Secara Maryam kemungkinan punya alergi, jadi nggak bs makan sembarangan. So, rencananya saya akan membawa rice cooker, bottle sterilizer, botol-botol dot (6 set), tempat makan maryam, makanan jadi untuk Maryam, snacknya Maryam dan termos air panas kecil untuk bikin susu.

Kami memutuskan untuk menginap di hostel. Pertama karena lebih ekonomis, kedua karena ada dapurnya. Awalnya kami ingin stay di apartmen via Airbnb karena akan bisa lebih leluasa untuk masakin Maryam, tapi kok cukup ribet juga ternyata. Selain apartement yang harganya masuk budget itu jauh di pinggiran kota (atau at least agak jauh dari stasiun MRT atau halte), biaya staynya jadi 2X lipat kalau dibandingkan tinggal di hostel. Lumayan kan bs buat masuk 1 tempat wisata untuk ber-enam. hehe. Jadilah kami memilih stay di hostel, sekamar ber-6 (7 termasuk Maryam), dan jaraknya cuma 500-an meter dari Lavender MRT. Selain itu, mereka juga punya pantry yg bs kalau sekadar untuk menghangatkan makanan. So, rencana yg tadinya mau masak-masak di apartemen, jadi cukup bawa masakan matang nanti diangetin di microvawe. Kalau untuk rice-cooker, saya sudah ijin dulu ke hostelnya, memastikan bahwa nanti akan diijinkan bawa rice-cooker buat Maryam. Begitulah. 🙂

Persiapan pun tak cukup itu. Berhubung nanti akan banyak jalan kaki, mau tak mau akan lebih nyaman kalau pakai stroller. Sebenarnya di rumah sudah ada stroller, tapi berat dan besar. Bukan tipikal stroller untuk travel yg ringan dan bs masuk kabin. Bs nyahek kalo gendong-gendong Maryam di Bandara Changi kan. Jadilah, saya berburu travel stroller. Review travel stroller mungkin sebaiknya saya tulis terpisah kali ya.

Awalnya sempat terlintas untuk sewa stroller saja. Toh saya di rumah sudah punya stroller. Masa’ ya stroller 2. Nah, saya pun hunting info sewa travel stroller, mulai dari yg di Jakarta (harganya sekitar mulai dari 150.000/bulan), juga di Singapore (3 Hari sekitar 500 ribu itu merk Mini). Nah, kalo dihitung-hitung kok sayang ya. Di Singapore mahal, di Jakarta ribet ngambil dan antarnya. Akhirnya kami memutuskan untuk beli stroller saja. Jadilah kami beli travel Stroller Cocolatte Pockit yg bs dilipat kecil banget dan juga ringan dan bisa ditenteng.

Oke, stroller beres. Lainnya? Tentu saja persiapan rute dr itinerary yg sudah disusun. Pada dasarnya saya memang org yg well-prepared. Dengan travelling sm Maryam, jadilah persiapan tambah extra. Intinya, saya tdk suka nanti direpotkan di jalan karena printilan-printilan kecil. Sebelum berangkat saya pun sudah mengecek rute dan alternatif transportasi (jarak, waktu dan biaya), termasuk berapa jauh kami berjalan kaki dan rute yg dipilih dari transportasi tertentu, misalnya pakai MRT vs pakai bus + MRT, atau mungkin Uber saja. Saya yang bukan pengguna Uber, kini sudah menginstall Uber di HP dan set Credit Card di dalamnya, untuk meminimalisir membawa uang cash.

 
Leave a comment

Posted by on May 26, 2016 in Uncategorized

 

Tags: , , , , ,

Instagram: The Power of 3m Followers

Welcome to social media marketing, fellas! 

Saya sebenarnya bukan bukan marketing geek, tetapi saya baru saja menemukan fakta menarik tentang social media marketing di instagram. Baru-baru ini, project yang saya handle (Svarga Resort Lombok, http://www.svargaresort.com) baru saja dikunjungi oleh instaseleb: Dian Pelangi, yang memiliki 3 juta followers. Siapa tak tahu Dian Pelangi? Desainer muda berbakat yang menyasar segmen market fashion muslim ini bahkan sudah cukup rajin fashion show di kancah internasional: New York, Paris, Milan, London, dll.

Dian Pelangi di Svarga Resort Lombok

Dian Pelangi ketika menginap di Svarga Resort Lombok

Apa fakta yang saya temukan? Sejak Dian mengunggah foto pertamanya di Svarga, Follower akun instagram Svarga Resort Lombok, yang tadinya hanya berkisar 600-an, setelahnya langsung kebanjiran follower. Hampir setiap detik di dua hari pertama kunjungan Dian Pelangi, ada saja notifikasi follower baru. Belum lagi, satu foto yang diunggah oleh Dian, dalam kisaran waktu hanya 1 jam, langsung mendapat belasan ribu Likes. Belasan ribu! Bayangkan, apa kabar kalau yang datang Raisa ya??? hehehe. Dan hasilnya, hingga hari ini saya menulis tulisan ini, follower Svarga sudah mencapai 2144 followers. Naik lebih dari 3X lipat followers sebelumnya. Menarik, bukan?

Sebelumnya, Svarga pernah juga didatangi oleh beberapa public figures, misalnya Alvin Adam (Pembawa Acara Just Alvin), Nina Tamam (Personil grup musik WARNA), Ria Miranda, dan juga Lisa Namuri (instruktur yoga privat dan juga brand ambassador brand fenomenal, Wardah). Sejauh ini, follower mereka memang masih kalah banyak dengan Dian Pelangi, sehingga “imbas” kedatangan Dian Pelangi ini terasa cukup berbeda dan signifikan.

Pantas saja, sekarang ini banyak sekali produk barang dan jasa yang kemudian berbondong-bondong berburu endorsement para public figure. Lihat saja hadiah-hadiah yang diterima oleh Raffi-Gigi dan diupload di instagram pasca kelahiran anak mereka. Atau, coba amati beberapa public figure lainnya, dan bagaimana mereka “mention” dan “show off” produk yang mereka gunakan. Mereka tak hanya menyebutkan merek produk, tetapi juga menunjukkan mengapa mereka menyukai produk tersebut, keunggulannya, dll. Ternyata, ini kuncinya: social media marketing!

Awalnya, saya sendiri tak menyangka bahwa efek dari social media marketing itu akan cukup besar. Ternyata, memang dunia pemasaran telah memiliki babak baru yang mungkin belum banyak ditulis di buku-buku teks konvensional. Saya sendiri telah melihat hasilnya. 🙂

Well, again, welcome to new marketing world, fellass!

 
Leave a comment

Posted by on September 4, 2015 in Uncategorized

 

5 Tempat Wedding Outdoor di Jakarta

Beberapa hari lalu saya sempat keliling-keliling di beberapa venue yang biasa digunakan untuk garden party di Jakarta. Mulai dari yang berada di lokasi yang sangat mudah diakses di sekitaran Jakarta Selatan, hingga ke tempat yang agak “ngumpet” di Jakarta Timur. Rata-rata tempat yang saya kunjungi bergaya tradisional Jawa, namun ada juga yang modern minimalis. Berikut tempat-tempat yang saya kunjungi di sekitaran Jakarta yang bisa dijadikan referensi untuk mereka yang sedang mencari tempat untuk acara pernikahan.

Plataran Cilandak

Plataran Cilandak terletak di dekat Jalan Jagakarsa, tepatnya di Jalan Durian. Tempat ini sangat luas (2,5 Ha), dan memiliki area parkir tersendiri yang cukup memadai bagi tamu-tamu. Desain area agak mirip seperti resort-resort di area pintu masuk, dengan desain bangunan bernuansa Jawa – Bali. Plataran Cilandak memiliki pool kira-kira berukuran 7×15 meter, dikelilingi taman berumput dan beberapa Joglo di sekitarnya. Selain Joglo dan Pool side Garden, sesuai dengan namanya, tempat ini juga memiliki “plataran” yang tidak kalah luas dengan area poolside-nya. Area plataran ini biasanya digunakan untuk mereka yang mengadakan acara dengan Live Music. Terdapat panggung di area plataran ini. Selain itu, Plataran Cilandak memiliki 1 rumah joglo yang bisa digunakan oleh pengantin dan keluarganya untuk beristirahat/keperluan rias, serta 1 rumah joglo berukuran lebih kecil yang bisa digunakan untuk “markas” panitia. Kapasitas yang disarankan pengelola adalah 600-800 pax, dengan harga sewa Rp 55.000.000 untuk seluruh area yang sudah termasuk dengan valet parking, dan tidak termasuk dengan catering, dekorasi, dll. Website: http://plataranjakarta.com/cilandak

Omah Pawon/ Pawon Jawa (Restaurant)

Omah Pawon dulunya bernama Pawon Jawa. Tempat ini merupakan restaurant yang berada di tepi jalan Ampera, sekitar 200 meter dari lampu merah Jalan TB Simatupang/Ampera. Seiring berjalannya waktu, restoran Omah Pawon memperluas areanya untuk area Wedding, dengan 1 buah Joglo ukuran medium (biasanya untuk area pelaminan), dan 1 joglo kecil untuk live music dengan area poolside. Catering “harus” dari Omah Pawon. Jika catering berasal dari luar Omah Pawon, maka akan dikenakan charge tambahan sebesar 30%, begitu juga jika penyewa menggunakan vendor di luar rekanan Omah Pawon. Harga Sewa mulai dari Rp 12.500.000 jika digunakan untuk acara pernikahan (sewa tempatnya saja). Untuk acara garden party selain pernikahan, maka tidak dikenakan harga sewa, dan hanya dihitung biaya makanan per pax-nya minimal Rp 125.000, dengan minimal pemesaran 50 pax.

Rumah Sarwono

Rumah Sarwono memiliki lokasi yang cukup strategis di tepi Jalan Raya Pasar Minggu, tepatnya di seberang Carrefour Jalan Raya Pasar Minggu. Areanya cukup luas, dengan desain bangunan bergaya tradisional Jawa yang terdiri atas 2 joglo (besar dan kecil), 1 rumah Jawa, 1 area serbaguna, serta area taman yang cukup luas. Rumah Sarwono dapat menampung hingga 1500 pax, dapat disewa seluruh area atau hanya setengahnya saja, dengan biaya sewa per 7 jam. Harga sewa untuk seluruh area Rp 25.000.000 per 7 jam. CP Bapak Donny: donnyguy69@gmail.com

Rumah Saya

Rumah Saya berada dalam satu grup dengan Rumah Sarwono. Akan tetapi, lokasinya tidak se-strategis Rumah Sarwono, dengan luas area yang juga lebih kecil. Kapasitas Rumah Saya sekitar 600 pax, dengan fasilitas 1 Rumah Joglo, 1 Kamar Tidur, 1 Mushola, dan 2 taman di bagian depan dan samping rumah joglo. Harga sewa Rp 20.000.000 untuk seluruh area. Lokasi berada di Gang Arab, tidak jauh dari Rumah Sarwono. CP: Ibu Siska 0816789060

Azila Villa

Azila Villa berada tepat di depan PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) di Cipayung, Jakarta Timur. Desain bangunan bergaya modern minimalis, dengan poolside garden area, lobby, 1 kamar tidur utama, 6 kamar tidur, VIP Room, Pantry, Pool, Docking Area, dan Multifunction Hall. Azila Villa baru dibuka bulan Agustus 2015, dengan harga Sewa mulai dari Rp 9.500.000 untuk sewa seluruh area dan sudah termasuk dengan valet parking. Untuk sementara, tidak ada charge tambahan untuk catering, dekorasi, EO, dll. Cocok untuk digunakan sebagai tempat garden party, dengan kapasitas maksimal 500 pax. Di dalamnya juga banyak spot yang bisa digunakan untuk foto pre-wedding. Azila Villa ini bisa juga disewa hanya setengah area atau hanya untuk foto prewedding saja. Oh ya, Azila Villa baru dibuka sehingga area-area “kritis” seperti kamar mandi dan Mushola-nya lebih bersih daripada tempat lainnya. Email: azilavillajakarta@gmail.com

*Foto menyusul 😀

 
1 Comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

A Note of A Working Mom #2

So today’s Maryam’s second day at her Daycare (Childcare). And yes, of course, yesterday was her first. Nanny-less days have come and the episode of morning-crying-along-the-way-to-office starts again. I said, it is this (unexpectedly) uneasy of leaving my daughter “alone”, even more at a Daycare, with some nannies I have just known for the last few days. But it is my and my husband’s choice of giving a trust at a Daycare. At least, there won’t be TV-series-without-value (sinetron–in Indonesia) she’ll going to watch during at the Daycare. And by then, as she growing, we hope that she’ll be more sociable than if she “just” staying at home with her “only” nanny.

She looked sad when I picked her up after around 4 hours staying at the Daycare. I knew she was looking for me and her dad. And when she woke up from her nap, she did not find either me or her dad. 😥

Though I’m starting to think of giving up my “formal” job. A bit. But it’s not that easy. I will only give up my job as I start pursuing my master degree, and start over something bigger after my master study. And that’s keeping me to be motivated to stay at the office a bit “longer”. This is what I chose. And all must have its trade-off. I chose to make my career as running my family life, so that I have to let some of my time not seeing my daughter at least half of my day. And this is how I train my self, that someday she’ll step her feet and see others, not to share her whole lifetime with only me, and that I have to let her run her own life.

 
Leave a comment

Posted by on August 5, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , ,