RSS

Jaringan Parut

Jika pernah belajar tentang anatomi, fisiologi, dan mgkn patologi, pastinya tahu kenapa dalam hubungan antar manusia, tidak seharusnya banyak luka yang menimbulkan lesi, scar, bekas luka, jaringan parut. Itu karena, bekas luka yg terlalu dalam pd akhirnya akan menjadi lesi, jaringan parut, membekas menjadi jaringan tanpa saraf, tanpa rasa. Mati.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 24, 2019 in Uncategorized

 

Random Notes of Life

Build your own dreams, or someone else will hire you to build theirs.” ~Farrah Gray

Beberapa waktu terakhir ini, saya banyak sekali bertemu anak-anak muda, seumuran saya, dengan karir yang tadinya cukup cemerlang, memutuskan untuk quit their job, meninggalkan runitias kantoran sehari-hari, dan membangun usaha dan mimpi mereka sendiri. Sebagian masih lajang, bekerja di perusahaan bonafid atau sedang naik daun. Yang lainnya, bahkan ada yang sudah di level AVP (Asisten Vice President), atau yang setaranya. Menarik! Menurut saya.

“Enough is enough kadang. Ternyata karir itu bukan segalanya.” Memang. Orang ini, bahkan tak pernah sedikitpun bercerita tentang keluarganya, seperti kebanyakan orang Indonesia pada umumnya. Telling about family life, kids or spouse. Tapi dia bilang, “Posisi saya sebenarnya sudah bagus di kantor. But in life, enough is enough, saya merasa hidup saya dibeli oleh perusahaan. Jadi saya memutuskan mengerjakan yang lain.” Cerita uniknya yang saya korek setelah mendengar rencananya berlibur ke Islandia. Traveling memang connecting people, most often.

Pemuda lainnya, mengirimkan saya text whatsapp dan memperkenalkan diri sebagai vendor yang ingin bekerja sama. Karena bahasanya sangat sopan, akhirnya saya (entah kenapa) memutuskan untuk ketemuan saja. Ternyata, kami satu almamater, dan satu angkatan, hanya beda jurusan (dan mungkin pergaulan, wkwkwk). Obrolan kami end-up pada cerita yang agak personal, tentang karir masing-masing, dan tentang lingkaran-lingkaran orang yang kami kenal satu sama lain. Dunia itu, memang sempit! Teman baru saya satu ini, memutuskan untuk meninggalkan karirnya dari sebuah Unicorn Startup, dan serius dengan bisnis yg telah dirintisnya. Dan dalam 2 tahun, menurut cerita dia dan rekan-rekannya, itulah titik point bisnisnya berkembang: karena serius nyemplung di dalamnya.

Ada juga yang lain, ternyata juga kami satu almamater, dan satu angkatan. Seperti layaknya karakter umum almamater saya yang bisanya, bisa dibilang flamboyan dan easy to blend, obrolan nyambung ke mana-mana. Dia pun akhirnya mengaku dulunya bekerja di perusahaan multinasional dan memutuskan untuk quit. Well, saya jadi berpikir: gw ngapain aja selama ini? Hahaha, begitu simpelnya.

Sepertinya Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang menjadi penyemangat atas impian, dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Banyak orang yang telah saya (dan suami) temui, mulai tipe para “yes-person” yang disukai para atasan, anak kemaren sore yang rada nekad cari celah ngesub kerjaan kantor, hingga orang tak tahu malu yang tidak punya integritas dan harga diri sekedar untuk mencari recehan. Semua ada, dan itu nyata adanya.

Dengan suami yang bekerja mandiri sebagai geologist, dan kami yang baru merintis usaha baru untuk bisa hidup lebih mandiri, kami banyak sekali menemui orang-orang tidak jujur. Bahkan seolah tidak ada ruang bagi orang yang jujur. Seolah pintu rejeki itu lebih lebar didapatkan dengan segala manipulasi. Padahal tidak. Kami percaya rejeki itu ada di sana, pilihan kita lah untuk menjemputnya dengan jalan yang benar atau tidak. Kadang agak sulit untuk menerima, apalagi jika itu melibatkan orang dekat, tapi saya percaya di luar sana masih banyak orang baik. Banyak sekali. Pastinya. Dan kami percaya kami hanya akan didekatkan dengan orang-orang baik itu. Itu saja.

 
Leave a comment

Posted by on March 28, 2019 in Uncategorized

 

6 Tips Menghemat Biaya Pernikahan

Halo….

Akhirnya setelah 4 tahun terakhir berkutat dengan dunia per-wedding-an dan melihat-lihat trend pernikahan beberapa waktu terakhir, saya ingin share sedikit mengenai Tips Menyiasati Biaya Pernikahan. Tips ini mungkin paling relevan untuk mereka yang menikah di Jakarta dan sekitarnya.

Yang jelas, semua orang pasti punya dream wedding ya. Cuma, kebanyakan pasti akan terbentur dengan terbatasnya biaya pernikahan yang kian mahal. Nah ini dia, saran saya supaya acara/ pesta pernikahan minimal mendekati impian, tapi masih menyesuaikan dengan budget kita.

  1. Pertimbangkan Ulang Jumlah Tamu

Tidak bisa dipungkiri, jumlah tamu yang akan diundang merupakan salah satu faktor utama yang akan menentukan besarnya biaya pernikahan. Ini karena akan berkaitan dengan jumlah catering yang kita pesan, di mana normalnya dapat mencapai hingga 70% dari total biaya. Jadi, diskusikan dengan kedua orang tua dan keluarga calon, apakah harus mengundang tamu dengan jumlah besar hingga 1000 pax/ orang? Atau bisa disiasati dengan mengundang orang-orang yang dikenal cukup baik saja, tentu, selain keluarga ya. Pilihan untuk mengadakan pesta pernikahan dengan jumlah tamu yang tidak terlalu besar bisa jadi pilihan, misalnya dengan membatasi hingga 400-500 pax, atau 200-300 undangan.

Jumlah ini, bagi tipe pernikahan di Indonesia kebanyakan, memang agak sulit. Karena kita terbiasa memiliki keluarga besar, atau superbesar (seperti keluarga saya, heheh, yang untuk 1 extended family dari pihak ibu saja bisa 400 pax sendiri). Jika memang biaya terbatas, coba pertimbangkan opsi ini. Karena sebenarnya, toh sunnah pernikahan sebenarnya TIDAK harus mengundang semua orang yang kita kenal (bagi muslim ya). Yang penting ada walimah/ selebrasi/ perayaan sehingga orang-orang akan notice kalau si A dan B telah menikah.

Selain itu, intimate wedding kini mulai menjadi tren baru. Tak ada salahnya hanya mengundang teman-teman terdekat, true friends and family, untuk hadir di hari bahagia kita. Justru mereka itu yang akan memberikan doa tertulusnya untuk kebahagiaan kita.

Kalau saran saya sih, utamakan menjamu tamu dengan makanan yang lebih baik, daripada mengundang semua orang tapi seadanya. Ingat, tamu kita juga meluangkan waktu, tenaga, biaya untuk datang ke pesta pernikahan kita, sehingga baiknya mereka mendapat jamuan yang sebaik mungkin.

2. Venue Pernikahan

Pilih venue/gedung/lokasi pernikahan yang menerapkan surcharge vendor yang tidak terlalu besar, tapi tetap sesuai dengan kebutuhan kamu. Venue pernikahan ternama, misalnya gedung-gedung di tengah kota, atau di jalan-jalan protokol utama, biasanya menerapkan surcharge vendor yang sangat besar, bahkan dapat mencapai 30% dari jumlah transaksi per vendor (khususnya catering). Contoh, jika catering yang kamu order aslinya sejumlah 70jt rupiah, maka dengan venue A yang menerapkan surcharge 30%, kamu harus membayar lagi sebesar 30juta HANYA untuk charge tambahan untuk pesanan catering kamu. Surcharge ini sebenarnya tak lain semacam biaya komisi bagi gedung atas vendor-vendor yang digunakan. Akan tetapi, charge ini tentunya akan kembali dibebankan kepada konsumen, sehingga kita yang harus membayarnya.

Kurang yakin? Coba saja tanyakan ke salah satu catering, harga buffet per pax di gedung A dan B, dengan item yang sama, nanti mereka akan memberikan harga yang berbeda. Kalau mau tanya harga catering aslinya? Tanyalah untuk acara di rumah, karena tidak akan ada surcharge yang ditambahkan untuk acara di rumah.

Masih ada kok, venue pernikahan di Jakarta, yang ramah surcharge. Misalnya Felfest UI, dia menerapkan surcharge flat dan masih rasional. Gedung Sabha Widya di Wisma Makara UI malah tidak menerapkan surcharge di tahun 2018, tapi entah untuk 2019. Azila Villa juga menerapkan surcharge flat, bahkan tidak perlu membayar surcharge jika menggunakan catering in-house.

3. Vendor Pilihan

Setelah hitung tamu dan dapat tempat yang cocok, nah saatnya untuk memilih vendor lainnya. Untuk memilih vendor, kamu bisa utamakan memilih vendor rekanan. Karena vendor rekanan biasanya telah dijamin kualitasnya, dan juga, dikenakan surcharge vendor yang lebih murah daripada vendor non rekanan.

Sebagai opsi, kamu bisa juga pilih vendor-vendor yang baru merintis. Banyak yang menawarkan harga promo, misalnya photography, atau entertainment. Karena mereka baru, biasanya akan butuh lebih banyak promosi dan portofolio. Nah, manfaatkan momen ini untuk mendapatkan best deal dari mereka. Yang penting, tentu saja kamu cocok dengan produknya, dan yakin dengan orang-orangnya. Untuk vendor baru, ada baiknya juga kalau kamu tetap mencari referensi dari vendor lain yang terkait, atau pernah bekerja sama dengannya.

4. Buat Prioritas Vendor

Alokasikan mana yang akan menggunakan budget lebih besar dari masing-masing vendor. Misal, lebih baik kamu memilih menikah di gedung A yang mengenakan surcharge catering 10%, daripada di gedung B yang surchargenye adalah 30%. Selisih 20%, bisa kamu gunakan untuk menghemat, atau meng-upgrade kualitas catering pilihan, misalnya dari harga 75ribu/pax menjadi 85ribu/pax.

Lalu, contohnya lagi, manakah yang lebih kamu pilih? Dekorasi oke punya, tapi vendor foto pas-pasan, atau, turunin dikit standar dekorasi, lalu selisihnya kamu bisa gunakan untuk upgrade kualitas foto dan video kenangan kamu? Well, sekadar saran, meski dekor kamu standar, kalau fotografer kamu oke punya, nanti fotonya akan terlihat jauh lebih manis, elegan, berkelas. Jadi, kalau saya sih, utamakan vendor foto dan videonya dulu, karena nanti foto dan video yang akan tersisa untuk menjadi kenangan. 🙂

5. Gunakan Paket Pernikahan

Menggunakan paket pernikahan bisa jadi opsi juga. Karena dengan memilih paket, setidaknya kamu telah menghemat untuk menyeleksi vendor yang bonafid atau tidak. Kedua, para vendor biasanya menerapkan harga khusus untuk paket pernikahan, sehingga at the end harganya akan lebih murah daripada jika kamu memesan vendornya satu-satu. Jika tidak memakai WO, menggunakan paket pernikahan juga semacam menyelesaikan 1/2 kerempongan pernikahan, apalagi untuk acara-acara dengan jumlah tamu yang tidak terlalu besar, 400 pax misalnya. Cukup tambahkan beberapa orang panitia dan PJ acara, dari keluarga dan/atau teman kamu untuk membantu check2 pada saat acara, karena dengan adanya paket pernikahan, penyedia paket mestinya telah mengkoordinasikan persiapan-persiapannya.

6. Gunakan Waktu Weekday

Ini memang agak tidak lazim, tapi sebenarnya Friday Night bisa jadi opsi lhoh, karena besoknya adalah hari Sabtu (kebanyakan libur), dan orang bisa sekalian kondangan sepulang kerja. Kalau kamu merasa opsi ini oke, kamu bisa juga mencoba menanyakan ke vendor-vendor (utamanya venue), apakah mereka punya diskon khusus untuk pernikahan yang diadakan saat weekday. Negosiasi potongan ke vendor lainnya pun akan lebih longgar, karena job vendor pernikahan itu menumpuk di hari Sabtu dan Minggu saja. 🙂

Mungkin itu ya, sedikit tips dari saya. Kalau punya saudara, kenalan, yang pusing mau menikah, mungkin bisa dibantu untuk share 🙂

 
Leave a comment

Posted by on January 9, 2019 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Terminal “Baper”

Nggak tahu kenapa ya, saya itu suka banget kalo ke airport di terminal 2 keberangkatan. You know lah, itu terminal keberangkatan luar negeri di Bandara Soetta. The smell, the ambience, the crowd, Hokben, troli and the rest of the things. Mungkin karena banyak ke-baper-an yang terjadi. Mulai dari excitement pertama ke luar negeri, baper antar Bangladeshi, baper ngantar teman balik ke negaranya, baper ngantar teman sekolah, baper ngantar bapak ibu umroh, dan baper-baper lainnya.

Mungkin karena banyak kenangan-kenangan yang bikin baper itulah, sekadar mengunjungi terminal 2 bandara Soetta itu seperti refreshment sederhana. Simply sometimes it reminds me on things happen in life: people come and go at the same time. It was a place where happiness and sadness exist at the same moment. Someone leaving their loved ones or someone going to meet his/her loved ones. People back home or people going somewhere to a place they dream about.

 
Leave a comment

Posted by on August 13, 2018 in Uncategorized

 

Tips Trip Hemat ke Hong Kong (Part 1)

Setelah berbulan-bulan vakum ngeblog, akhirnya back to my blog lagi. Kali ini saya ingin sharing sedikit mengenai trip saya ke Hong Kong. Btw, ini adalah trip pertama kami (saya, suami dan Maryam) ke Hong Kong, dan hanya bertiga saja. Trip lainnya (ke luar negeri) sebelumnya kami beramai-ramai, dengan orang tua dan adik-adik saya, atau teman-teman kantor. Jadi, tentunya beda kerempongannya. Karena, barang bawaan kami tetap buanyak, dan kami harus bawa sendiri ke mana-mana. Stroller, tas punggung, koper 3 biji, tas tenteng dll. Belum lagi kami ke mana-mana naik kendaraan umum. Bahkan sekalipun kami tidak naik taksi, even dari airport ke hotel. Kebayang kan…hehe.

Kali ini, saya ingin berbagi tips supaya hemat selama trip di Hong Kong. Well, sehemat-hematnya Hong Kong, tetap saja living costnya lumayan ya. So, just read the rest of my travel notes:

Tiket Pesawat Murah

Salah satu key cost dalam trip adalah tiket pesawat. Jadi, penting untuk hunting tiket dari jauh-jauh hari supaya kita bisa mendapatkan best offer. Saya beli tiket ke Hong Kong kira-kira 6 bulan sebelum trip. Harga normal tiket PP Jakarta ke Hong Kong rata-rata adalah 4 juta- 4.5 juta rupiah untuk flight Garuda Indonesia. Bisa jadi lebih murah, kira-kira 3.5 juta dengan low cost carrier (LCC), seperti Jetstar atau Airasia. Kalau saya, karena membawa balita (Maryam usianya kurang dari 3 tahun), saya lebih memilih terbang agak nyaman dengan Full Service Airlines seperti Garuda dan sejenisnya. Terutama sih, karena ini pengalaman terbang pertama Maryam dengan durasi cukup lama, dan juga dengan transit. Jadi kenyamanan anak cukup menjadi prioritas daripada dia rewel karena kecapekan.

Trip saya ke Hong Kong kemarin saya dapat tiket promo Traveloka. Well, tiket saya Singapore Airlines CGK-HKG PP “hanya” 3.1juta saja per orang. Harga itu bs dibilang sangat miring, karena biasanya SQ harganya bs 1.5kali atau 2x tiket Garuda. Promo itu saya dapatkan pada saat Travel Fair (lupa namanya), tapi justru bukan di acara Travel Fairnya. Jadi, saya tetap booking online bertepatan dengan acara travel fair. Ternyata para online travel agent (semacam Traveloka) sepertinya banting harga. Hehe. Jadilah saya dapat harga miring. Sebenarnya waktu itu dapat flight Garuda juga yg lebih murah dari SQ. Tapi, berhubung pengen coba SQ, sy lebih memilih SQ yg sedikit lebih mahal.

Hotel di Hong Kong

Sebagai perbandingan, harga hotel di Hong Kong kira-kira mirip seperti hotel di Singapore (harga vs fasilitasnya). Yaaa…agak relatif lebih murah di Hong Kong sih… Dengan harga 550rb per malam, sy mendapatkan kamar yang sangat kecil (seukuran kamar kos), tapi amenitiesnya cukup lengkap. Bahkan disediakan dispenser dan microwave (sharing) di luar kamar. Dispenser ini sangat membantu berhemat, hehe. Karena sebotol air minum 600ml di sana harganya 15.000-20.000. Adanya microwave juga sangat membantu, terutama utk makannya Maryam.

Transportasi Dari dan Ke Airport

Selama di Hong Kong, kami hanya menggunakan public transport. Simple saja alasannya: taxi luar biasa mahal buat kami. Haha. Kalau di Singapore kami masih “mampu” bayar taksi yang setidaknya 8-10 SGD sekali jalan. Kalau di Hongkong, Ahiirrr, sekali jalan dan cm beberapa kilometer (2-3km) saja bs kena charge 250-300 ribu kalau dirupiahkan. wkwkwk. Eman lah kalau saya. Bisa-bisa mahalan naik taksinya daripada tiket pesawat kami. Dari Airport ke hotel pun kami naik bis umum, semacam Damri kalau di sini. Harganya cukup terjangkau, sekitar 33 HKD sekali jalan. Tarif ini berbeda-beda tergantung nama bis dan tujuan. Kebetulan hotel kami juga sangat strategis, hanya 300an meter dari halte bis terdekat. Jadi OK lah. Transportasi lain, seperti kereta dan taksi tentunya lebih mahal, meski kereta lebih cepat. Untuk transport dari HKIA dan selama di Hongkong, kami menggunakan Octopus Card yang dapat diisi ulang. Octopus Card adalah semacam kartu sakti multifungsi, berlaku di hampir semua outlet pembayaran di Hong Kong, mulai dari jasa transportasi hingga minimart. Untuk detail penggunaan Octopus Card sendiri bisa dilihat di: www.octopus.com.hk

Makan Murah di Hong Kong

Berapa ya biaya rata-rata makan di Hong Kong? Well, untuk soal makan, budgetkan saja standar makan kalo ke Eropa (T.T). Mahal. Yes it is. Asal tahu saja, nasi bungkus ala warteg yg dijual TKI di masjid-masjid pada saat weekend saja harganya 35ribu kalau dirupiahkan. And that was the cheapest food I found selama di Hongkong. Saya makan di kantin masjid Kowloon yg terkenal itu, berdua hbs 300ribu itu sekali makan. Heheh. Untuk amannya sih, budgetkan saja 150ribu sekali makan. Untuk berhemat? Bawa indomie, spageti, telor asin untuk sarapan dan makan malam can be a good idea. 🙂

Di Chungking Mansion tempat saya menginap, sebenarnya banyak penjual makanan halal. Di Mirador Mansion juga banyak. Rata-rata masakan India-Melayu. Harganya, ya kurang lebih 100-150 ribu untuk sekali makan. Itu baru makannya saja ya, belum termasuk minum. Menu termurah biasanya nasi goreng, heheh. Untuk tempatnya, bayangkan saja warteg-warteg di basement ITC, or even worse.

Sisanya bersambung ke Part 2 ya….

 
Leave a comment

Posted by on October 30, 2017 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Traveling with Baby #2: Singapore Trip

Ini tulisan kelanjutan dari blog post saya sebelumnya tentang Traveling with Baby. Agak telat update kali ya. Secara trip ini sudah dari akhir Mei 2016 lalu. Tapi tak apalah. Siapa tahu membantu mereka yang akan trip pertama kali membawa bayi.

Trip saya ke Singapore lalu lumayan seru, karena itu kali pertama membawa  Maryam trip overseas. Selain itu, karena pertama kali overseas trip sama Bapak, Ibu, Lala dan Dani, setelah sekian lama kami tidak jalan-jalan keluarga. Dulu sampai saat saya sudah kuliah dan kerja, kami sering jalan-jalan keluarga. Hampir setiap ada long weekend, pasti ada acara entah itu hanya ke Jogjakarta, atau ke Malang. Ke mana saja yang penting judulnya jalan-jalan sekeluarga. Ah, jadi kangen masa-masa itu.

Jujur sampai sekarang saya belum berani trip ke destinaasi non negara maju kalau membawa bayi. Thailand misalnya. Repotnya itu, bakalan berasa. Bukan isu repot saja sih. Kebersihan dan fasilitasnya selama trip itulah yang menjadi pertimbangan utama.

Nursery Room

Kalau menurut saya, Singapore itu sangat proper untuk wisata keluarga, terutama bagi para pembawa bayi. Semua fasilitas umumnya sangat memadai, mulai dari toilet, transportasi, tempat wisata, sampai infrastruktur jalan dan fasilitas lainnya. Toilet misalnya. Meskipun lebih dominan toilet kering, tapi tempatnya selalu bersih. Jadi karena kebanyakan toilet di sana adalah toilet kering, saya selalu membawa botol aqua untuk di toilet. Dan ini selalu saya lakukan setiap kali berkunjung ke Singapore (atau negara lain juga sih), jaga-jaga kalau toiletnya adalah toilet kering. Bagaimanapun, karena kami Muslim, kami tidak cukup hanya menggunakan toilet kering yang hanya disediakan tissue saja. 🙂

Tak hanya itu, di manapun itu selalu mudah ditemukan Nursery Room. Nursery Roomnya pun sangat nyaman dan memadai, apalagi di lokasi-lokasi wisata. Selain menggunakan instalasi water heater, tersedia tempat untuk changing diaper dan bisa juga untuk mandiin Maryam. Heheh. Bahkan tersedia air panas untuk membuat susu. Ini saya temui di Singapore Zoo. Ketika di Gardens by The Bay, saya tidak sampai masuk ke Nursery Roomnya, jadi tidak bisa menuliskan reviewnya di sini. Tapi saya yakin tempatnya juga proper.

Transportasi & Infrastruktur

Trotoar di Singapore selalu menyediakan jalur untuk stroller dan para disabled persons. Jadi saat membawa stroller tak perlu banyak angkat-angkat stroller karena jalanan yang beda tinggi. Tak hanya itu, instalasi air bersih dijamin mudah diakses. Tap water (air kran) di Singapore juga mostly layak minum saking bersihnya. Transportasinya? Jangan tanya. Meskipun agak mahal memang, tapi relatif mudah dijangkau dan again, proper. Dari naik bis umum, subway, semua selalu menyediakan tempat khusus untuk disabled person dan juga ramah keluarga. Seat khusus orang tua yang membawa anak-anak hampir selalu terjamin ketersediaannya karena penggunanya tertib sesuai aturan. Jadi selama trip kemarin, overall semuanya jauh lebih mudah daripada perkiraan saya. Maryam bahkan lebih banyak jalan kaki daripada digendong, sehari dia bisa berjalan 1.5KM maybe kalau ditotal. She was very much excited karena di jalan-jalan banyak burung-burung dan sesekali ada juga kucing gembul nan lucu berkeliaran.

Selama di Singapore, saya menggunakan kombinasi bus, subway atau MRT, dan juga Uber dan taksi biasa.

Akomodasi

Singapore adalah negara yang sadar wisata. Jadi, saya pikir, meskipun hospitality di negara ini relatif tidak seperti di Indonesia (yang tipe hospitality-nya ramah dan tulus, haha), Singaporean mampu memperlakukan tamu dengan proper. Meskipun tinggal di hostel, host di hostel kami cukup helpful. Bahkan saya diijinkan membawa rice-cooker untuk masakin Maryam. Saya juga membawa bottle sterilizer dan itu SANGAT membantu. Mentok-mentok ketika stok makanan Maryam hampir habis, saya bisa membeli telur dan mengukusnya dengan bottle sterilizer. And it was perfectly OK. Saya kurang paham bagaimana jika di hotel. Tapi biasanya hotel akan cukup tegas untuk aturan ini (alias biasanya tidak diijinkan). Jadi menurut saya, memilih akomodasi apartemen atau hostel lebih preferable daripada stay di hotel biasa (hotel 1-3 star). Hotel bintang 4 atau 5 boleh lah, dengan catatan hospitality mereka cukup OK, seperti misalnya, mereka bersedia memasakkan makanan khusus untuk bayi, lebih bagus lagi kalau sesuai request. Terus terang saja, untuk hotel di Singapore saya tidak begitu yakin mereka mau. Saya pernah juga menginap di Sheraton Tower Singapore, yang per malamnya saja di atas 4 juta. Tapi hospitalitynya menurut saya nilainya 5.5. Heheh. So I would still recommend Airbnb appartment or hostel instead of common hotel. 🙂

Oh ya, satu lagi. Microwave. Selama di hostel, saya sama sekali tidak menggunakan microwave hostel karena microwavenya bau daging babi. Padahal tadinya berharap bisa menghangatkan makanan pakai microwave hotel. Jadi makanan yang saya bawa untuk Maryam cukup dihangatkan dengan rice cooker saja.

Makanan dan Minuman

Sekali lagi, saya sendiri tidak bermasalah dengan makanan. Saya bisa makan apa saja selama itu halal. Dan di Singapore cukup banyak tempat makan halal. Di Orchard, biasanya saya makan di Foodcourt Orchard ION, hanya saya luma nama tempatnya. Di sana ada beberapa opsi, tapi menurut saya ada 1 “warung” yang tastenya cukup OK meskipun tetap ala-ala Chinese food. Tempat makan wajib yang harus saya kunjungi adalah Warung Kampong Glam yang letaknya dekat dengan Masjid Sultan. I think it’s still the best in town untuk rasa dan harga. Hampir semua menu yang pernah saya coba selalu enak, dengan menu pilihan masakan Indonesia dan Melayu. Ada modifikasi rasa tapi modifikasinya OK. Kampong Glam tidak pernah sepi pengunjung, bahkan waiting list over the weekend, dan buka dari pagi sampai dini hari.

Stroller

Hmm…Untuk stroller selama trip, ini wajib dibawa. Wajib pakai banget. Karena Maryam akan tidur di stroller saat kami jalan-jalan. Juga kalau sedang tidak dipakai Maryam, bisa untuk membawa tas dan perkakas Maryam, mulai dari makanan, botol, termos dan susu. Pilihan stroller saya akhirnya jatuh ke Pockit. Selain karena mudah sekali dilipat, strollernya juga cukup nyaman. Sayangnya stroller ini hanya bisa untuk 1 posisi, tidak bisa reclined (posisi tidur), dan spacenya tidak cukup luas. But that’s the trade off. Kalau mau stroller yang lebih nyaman, biasanya strollernya besar dan kurang handy. Karena saya cukup banyak perjalanan dengan kendaraan umum, jadilah menurut saya Pockit cukup mengakomodir kebutuhan. Selain itu harganya tidak terlalu mahal (sekitar 1,5 juta). Lagipula saat itu Maryam sudah cukup besar dan justru tidak mau jika pakai stroller dengan posisi tidur/ reclined.

Ok, menurut saya itu sih yang bisa saya share. Mungkin nanti akan share lagi tentang destinasinya ya.Tidak banyak karena hanya 3 hari 2 malam, but it’s Ok lah… 🙂

Happy traveling!

 

 
Leave a comment

Posted by on November 30, 2016 in trip/traveling, Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Note of A Working Mom #3

Fiuh, lama ya tak update blog. Sebenarnya banyak yang mau ditulis, tapi begitu waktu menginjak jam 5 sore, lebih pengen segera jemput Maryam di daycare daripada nulis blog. hehe. Mau nulis tengah malam juga mager kalau udah ngelonin Maryam. Jadi apa boleh buat? 😀

Kali ini saya ingin cerita sedikit tentang “emosi” Maryam. Hahah. Saya baru tahu nih kalau ternyata bayi juga bisa ngambek dengan cara khusus. Beneran ngambek. Dan saya menyadari kalau anak saya, Maryam, ngambek beberapa minggu lalu, setelah sekian lamaaaa…

Jadi begini ceritanya. Sejak Maryam di daycare, memang seringkali ayahnya yang antar dan jemput Maryam. Biasanya kami berangkat bersama, lalu saya turun di jalan, dan suami lanjut mengantar Maryam. Maklum karena suami saya waktunya lebih fleksibel, jadilah seringkali dia yang mengantar dan menjemput Maryam. Setelah itu, pas lewat kantor saya, saya ikut sekalian. Maryam dititip ke daycare mulai umur sekitar 6 bulan. Kecuali kalau ayahnya sedang di luar kota, barulah saya mengantar dan menjemput Maryam.

Ketika Maryam kira-kira mulai menginjak usia 9 – 10 bulan, Maryam sudah mulai memperlihatkan “preference”nya terhadap orang-orang di sekitarnya. Turning pointnya adalah waktu malam-malam di rumah, kami bertiga (saya, Maryam, dan Aldi) sedang bermain boneka di kamar. Nah entah tiba-tiba waktu itu Maryam nangis dan marah waktu bonekanya ketindih saya dan Mas Aldi. Wew. Kami pikir waktu itu, bonekanya nggak boleh disentuh sama ayahnya. Eh ternyata eh ternyata, bukan nggak boleh disentuh ayahnya, melainkan nggak boleh dipegang sama saya. Ibunya. Hahah. Syeeediiiihhh…. Waktu itu, kejadiannya cukup bikin saya nangis bombay dan drama. Wakakak. Semacam jealous kenapa anak saya lebih milih bapaknya daripada saya. Ternyata emak-emak juga bisa jealous ketika si anak lebih dekat sama bapaknya. Hahah.

Saya sendiri tidak tahu kenapa begitu, perkiraan saya sih, karena memang Maryam relatif lebih banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya. Pagi setelah bangun tidur, saya lebih banyak berkutat dengan pekerjaan rumah dan memasak dan menyiapkan piranti kebutuhan Maryam. Apalagi waktu itu dia masih MP Asi dan belajar makan, jadi step by step makanan dan snacknya lebih banyak saya buat sendiri meskipun sesekali juga memakai makanan yg instant. Sesekali saja tapi jarang. Mulai dari makan pagi, siang sore, dan juga snack pagi sore. Belum lagi susu dkk-nya. Suami saya lebih banyak “handle” Maryam. Mulai dari ada waktu bangun tidur, dan mandiin Maryam sampai ganti baju. Terkadang juga menyuapi ketika sarapan. Sepulang kerja, saya juga terkadang masih berkutat dengan cucian, hehe. Nyetrika baju dan beberes yang lain. Alhasil, Maryam pun lebih sering main dengan ayahnya.

Mungkin karena itu, Maryam lebih dekat dengan ayahnya ketimbang saya. Awalnya saya memang jealous, sejealous-jealousnya. Tapi ya lama-lama terbiasa dan saya “maklumi”. Ditambah lagi, kata orang-orang, anak perempuan memang commonly lebih dekat dengan ayahnya. Okelah.

Nah suatu ketika, tepatnya bulan September lalu, saya harus pulang malam karena pekerjaan. Jam 9 lebih  saya baru sampai rumah. Pulang-pulang di rumah saya temui Maryam belum tidur. Dia memang biasa tidur malam sih, jam 10 – 11 an bahkan. Maryam menangis ketika saya pulang dan entah kenapa raut wajahnya sedih sekali. Bukan menangis karena minta mainannya, haus ingin minum susu, dsb. Bukan menangis seperti biasanya. Dia semacam menunjukkan emosi lain dari sekadar tangis batita. Dia seperti sedih dan marah. Sambil melihat saya dengan tatapan agak aneh, dia masih saja menangis dan tampak sangat sedih. Bukan marah teriak-teriak, tapi marah kecewa. Ah entahlah. Tatapannya semacam berkata, “Kenapa ibu baru pulang??? I was looking and waiting for you after all day long…” Saya pun jadi ikut berkaca-kaca. Saya peluk Maryam sambil saya meminta maaf karena baru pulang.

Sejak itu, saya jadi curious, jangan-jangan selama ini semacam protes kepada saya. Setiap perjalanan di mobil, hampir selalu dia hanya mau nempel sama ayahnya. Tidak mau saya peluk atau duduk dipangku. Setiap kali diminta cium saya, dia juga tidak mau, tapi selalu mau cium ayahnya. Saya sampai kangen. Kangen anak saya sendiri meskipun dia ada di sebelah saya.

Akhirnya beberapa waktu terakhir saya coba tes. Saya coba untuk mengantar dan menjemput Maryam di daycare. Atau setidaknya, kalau saya tidak bisa mengantar, saya pasti ikut menjemput Maryam di daycare. Entah kenapa ya, sejak saat itu, Maryam jadi lebih dekat dengan saya. Setidaknya dia tidak menolak saya pangku di mobil, bahkan sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Semarang/Jepara dia lebih banyak spent waktu dengan saya. Hanya sesekali saja minta dipangku ayahnya sambil menyetir. Dan saya pun sempat test case: selama beberapa hari saya tidak mengantar dan tidak juga menyemput Maryam. Dan hasilnya? Dia ngambek lagi sama saya. Apa-apa semuanya hanya mau dengan ayahnya. Mulai dari cebok, mandi, makan, bahkan duduk di mobil hanya mau dengan ayahnya. Lihat tv juga hanya mau sama ayahnya. Hahah. Sooo…jadi mungkin memang selama ini Maryam protes. Protes karena dia merasa kurang diperhatikan oleh ibunya. Maybe.

 

 
Leave a comment

Posted by on November 16, 2016 in Uncategorized