RSS

Tag Archives: Singapore

Traveling with Baby #2: Singapore Trip

Ini tulisan kelanjutan dari blog post saya sebelumnya tentang Traveling with Baby. Agak telat update kali ya. Secara trip ini sudah dari akhir Mei 2016 lalu. Tapi tak apalah. Siapa tahu membantu mereka yang akan trip pertama kali membawa bayi.

Trip saya ke Singapore lalu lumayan seru, karena itu kali pertama membawa  Maryam trip overseas. Selain itu, karena pertama kali overseas trip sama Bapak, Ibu, Lala dan Dani, setelah sekian lama kami tidak jalan-jalan keluarga. Dulu sampai saat saya sudah kuliah dan kerja, kami sering jalan-jalan keluarga. Hampir setiap ada long weekend, pasti ada acara entah itu hanya ke Jogjakarta, atau ke Malang. Ke mana saja yang penting judulnya jalan-jalan sekeluarga. Ah, jadi kangen masa-masa itu.

Jujur sampai sekarang saya belum berani trip ke destinaasi non negara maju kalau membawa bayi. Thailand misalnya. Repotnya itu, bakalan berasa. Bukan isu repot saja sih. Kebersihan dan fasilitasnya selama trip itulah yang menjadi pertimbangan utama.

Nursery Room

Kalau menurut saya, Singapore itu sangat proper untuk wisata keluarga, terutama bagi para pembawa bayi. Semua fasilitas umumnya sangat memadai, mulai dari toilet, transportasi, tempat wisata, sampai infrastruktur jalan dan fasilitas lainnya. Toilet misalnya. Meskipun lebih dominan toilet kering, tapi tempatnya selalu bersih. Jadi karena kebanyakan toilet di sana adalah toilet kering, saya selalu membawa botol aqua untuk di toilet. Dan ini selalu saya lakukan setiap kali berkunjung ke Singapore (atau negara lain juga sih), jaga-jaga kalau toiletnya adalah toilet kering. Bagaimanapun, karena kami Muslim, kami tidak cukup hanya menggunakan toilet kering yang hanya disediakan tissue saja. 🙂

Tak hanya itu, di manapun itu selalu mudah ditemukan Nursery Room. Nursery Roomnya pun sangat nyaman dan memadai, apalagi di lokasi-lokasi wisata. Selain menggunakan instalasi water heater, tersedia tempat untuk changing diaper dan bisa juga untuk mandiin Maryam. Heheh. Bahkan tersedia air panas untuk membuat susu. Ini saya temui di Singapore Zoo. Ketika di Gardens by The Bay, saya tidak sampai masuk ke Nursery Roomnya, jadi tidak bisa menuliskan reviewnya di sini. Tapi saya yakin tempatnya juga proper.

Transportasi & Infrastruktur

Trotoar di Singapore selalu menyediakan jalur untuk stroller dan para disabled persons. Jadi saat membawa stroller tak perlu banyak angkat-angkat stroller karena jalanan yang beda tinggi. Tak hanya itu, instalasi air bersih dijamin mudah diakses. Tap water (air kran) di Singapore juga mostly layak minum saking bersihnya. Transportasinya? Jangan tanya. Meskipun agak mahal memang, tapi relatif mudah dijangkau dan again, proper. Dari naik bis umum, subway, semua selalu menyediakan tempat khusus untuk disabled person dan juga ramah keluarga. Seat khusus orang tua yang membawa anak-anak hampir selalu terjamin ketersediaannya karena penggunanya tertib sesuai aturan. Jadi selama trip kemarin, overall semuanya jauh lebih mudah daripada perkiraan saya. Maryam bahkan lebih banyak jalan kaki daripada digendong, sehari dia bisa berjalan 1.5KM maybe kalau ditotal. She was very much excited karena di jalan-jalan banyak burung-burung dan sesekali ada juga kucing gembul nan lucu berkeliaran.

Selama di Singapore, saya menggunakan kombinasi bus, subway atau MRT, dan juga Uber dan taksi biasa.

Akomodasi

Singapore adalah negara yang sadar wisata. Jadi, saya pikir, meskipun hospitality di negara ini relatif tidak seperti di Indonesia (yang tipe hospitality-nya ramah dan tulus, haha), Singaporean mampu memperlakukan tamu dengan proper. Meskipun tinggal di hostel, host di hostel kami cukup helpful. Bahkan saya diijinkan membawa rice-cooker untuk masakin Maryam. Saya juga membawa bottle sterilizer dan itu SANGAT membantu. Mentok-mentok ketika stok makanan Maryam hampir habis, saya bisa membeli telur dan mengukusnya dengan bottle sterilizer. And it was perfectly OK. Saya kurang paham bagaimana jika di hotel. Tapi biasanya hotel akan cukup tegas untuk aturan ini (alias biasanya tidak diijinkan). Jadi menurut saya, memilih akomodasi apartemen atau hostel lebih preferable daripada stay di hotel biasa (hotel 1-3 star). Hotel bintang 4 atau 5 boleh lah, dengan catatan hospitality mereka cukup OK, seperti misalnya, mereka bersedia memasakkan makanan khusus untuk bayi, lebih bagus lagi kalau sesuai request. Terus terang saja, untuk hotel di Singapore saya tidak begitu yakin mereka mau. Saya pernah juga menginap di Sheraton Tower Singapore, yang per malamnya saja di atas 4 juta. Tapi hospitalitynya menurut saya nilainya 5.5. Heheh. So I would still recommend Airbnb appartment or hostel instead of common hotel. 🙂

Oh ya, satu lagi. Microwave. Selama di hostel, saya sama sekali tidak menggunakan microwave hostel karena microwavenya bau daging babi. Padahal tadinya berharap bisa menghangatkan makanan pakai microwave hotel. Jadi makanan yang saya bawa untuk Maryam cukup dihangatkan dengan rice cooker saja.

Makanan dan Minuman

Sekali lagi, saya sendiri tidak bermasalah dengan makanan. Saya bisa makan apa saja selama itu halal. Dan di Singapore cukup banyak tempat makan halal. Di Orchard, biasanya saya makan di Foodcourt Orchard ION, hanya saya luma nama tempatnya. Di sana ada beberapa opsi, tapi menurut saya ada 1 “warung” yang tastenya cukup OK meskipun tetap ala-ala Chinese food. Tempat makan wajib yang harus saya kunjungi adalah Warung Kampong Glam yang letaknya dekat dengan Masjid Sultan. I think it’s still the best in town untuk rasa dan harga. Hampir semua menu yang pernah saya coba selalu enak, dengan menu pilihan masakan Indonesia dan Melayu. Ada modifikasi rasa tapi modifikasinya OK. Kampong Glam tidak pernah sepi pengunjung, bahkan waiting list over the weekend, dan buka dari pagi sampai dini hari.

Stroller

Hmm…Untuk stroller selama trip, ini wajib dibawa. Wajib pakai banget. Karena Maryam akan tidur di stroller saat kami jalan-jalan. Juga kalau sedang tidak dipakai Maryam, bisa untuk membawa tas dan perkakas Maryam, mulai dari makanan, botol, termos dan susu. Pilihan stroller saya akhirnya jatuh ke Pockit. Selain karena mudah sekali dilipat, strollernya juga cukup nyaman. Sayangnya stroller ini hanya bisa untuk 1 posisi, tidak bisa reclined (posisi tidur), dan spacenya tidak cukup luas. But that’s the trade off. Kalau mau stroller yang lebih nyaman, biasanya strollernya besar dan kurang handy. Karena saya cukup banyak perjalanan dengan kendaraan umum, jadilah menurut saya Pockit cukup mengakomodir kebutuhan. Selain itu harganya tidak terlalu mahal (sekitar 1,5 juta). Lagipula saat itu Maryam sudah cukup besar dan justru tidak mau jika pakai stroller dengan posisi tidur/ reclined.

Ok, menurut saya itu sih yang bisa saya share. Mungkin nanti akan share lagi tentang destinasinya ya.Tidak banyak karena hanya 3 hari 2 malam, but it’s Ok lah… 🙂

Happy traveling!

 

 
Leave a comment

Posted by on November 30, 2016 in trip/traveling, Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Pariwisata Kita: Belajar dari Singapore dan Thailand

Setiap kali membaca tulisan Trinity di buku Naked Traveler, saya seperti diingatkan pada mimpi saya yang lain: kelak punya restoran, resort, travel agent. Intinya bergerak di sektor pariwisata.

Entahlah, rasanya aneh saja. Apa yang aneh? Saya juga tidak tahu. Saya pernah bilang, bahwa saya ingin punya restoran, yang lebih cantik dari The Hills: restoran paling perfect yang pernah saya datangi (terlepas dari dengan siapa saya makan di sana, hehe), yang terletak di atas bukit Gombel di Semarang itu. Atau, sky dinning di mana pun itu, yang terkenal mahal, meskipun tidak semuanya benar-benar mahal–katanya. The Hills juga mahal sebenarnya. Sekali makan, per kepala taruhlah 100-150 ribu untuk sajian berupa main course (makanan utama), minuman, dan dessert (“s”nya dua ya, kalau “desert” s-nya satu artinya gurun pasir, *mengingatkan diri sendiri, hehehe). Tapi dengan tempatnya yang sangat cozy, pelayanan yang sangat baik, serta kualitas masakannya, 100-150 ribu itu worth enough, meskipun untuk orang seperti saya yang tak hobi makan. Sejak itu, saya, dalam hati, selalu punya mimpi baru: tak apa jadi ibu rumah tangga saja, tapi mengelola restoran minimal semacam The Hills, hehehe.

Mimpi lain adalah punya resort. Yah, sebenarnya intinya sih pengen bekerja di sektor tourism alias pariwisata. Karena, saya miris dengan resort-resort yang ada di Indonesia, yang sepertinya didominasi oleh kepemilikan orang asing. Kita, orang pribumi, tetap saja jadi “babu” di negeri sendiri. Padahal, potensi pariwisata Indonesia itu luar biasa. Saya pikir, kita bahkan akan bisa “hidup”, meskipun dari sektor pariwisata saja, kalau saja mau benar-benar serius mengembangkannya.

Tilik saja Singapore. Negeri seuprit itu, yang sebenarnya (kalau menurut saya) tak punya daya tarik apa-apa compare to Indonesia, bisa bergantung sedemikian besar dari sektor pariwisatanya. CBS bahkan memberitakan data pariwisata Singapore pada tahun 2010, bahwa 49% pendapatan Singapore berasal dari pariwisatanya. Jumlah turis yang berkunjung berjumlah 11,8juta orang, dimana 80% turis berasal dari Asia yang didominasi oleh orang Indonesia!

Saya mengambil sisi positifnya saja: belajar bagaimana negara-negara semacam Singapore mampu menarik turis 11,8juta setahun dengan daya tarik yang itu-itu saja, sedangkan Indonesia hanya menarik 7 juta turis dalam setahun. Coba kita bertanya, mengapa orang rela datang ke Singapore lalu dengan bangga foto di Patung Singa di Merlion Park, yang sebenarnya cuma begitu saja. Seolah tak afdhol kalau ke Singapore tak foto di Merlion Park. Atau mengapa Singapore bisa membuat hutan mangrove-nya di Pulau Ubin, sehingga orang rela membayar sekitar 500ribu rupiah untuk kayaking di hutan mangrovenya yang lagi-lagi cuma seuprit itu.

Ternyata Singapore mengemas kayaking mangrovenya dengan apik: perlengkapan yang lengkap berupa kayak (semacam perahu) beserta dayung, dengan perlengkapan keamanan personal semacam helm, pelampung, dll yang sesuai dengan standar. Ditambah guide atau instruktur juga.

Kenapa kita tidak bisa (atau belum bisa) seperti itu? Padahal Indonesia punya hutan mangrove terluas di dunia (19%), dengan biodiversitas tertinggi pula. Tapi boro-boro membuat orang mau kayaking dengan membayar 500ribu. Membayar 50ribu untuk wisata mangrove saja orang ogah.

Selain itu, coba kita tengok bagaimana Singapore dan Thailand “memperlakukan” turis bahkan dari sejak mereka menginjakkan kaki di bandara.

Di Singapore, ketika menginjakkan kaki ke bandaranya saja, kita sudah merasa nyaman. Jangan bandingkan Changi dengan bandara Soetta. Di Changi, ngampar di bandara pun nyaman dan menyenangkan: ada kursi pijat gratis, air minum (tap water)gratis, bandara full AC dan berkarpet, dan musholanya pun sangat nyaman, lebih nyaman daripada mushola bandara Soetta. Bahkan, ada layanan tour Singapore gratis yang disediakan oleh bandara, seandainya kita memiliki waktu transit cukup lama, setidaknya 6 jam. Tak hanya itu, ada juga pusat informasi pariwisata yang sangat helpful. Peta dan informasi wisata pun tersedia gratis dan ada di berbagai sudut bandara.

Edwin dipijat sm kursi pijat @Changi Airport

Di satu sudut bandara, mereka juga menyediakan satu meja besar dengan berbagai “cetakan” icon Singapore, beserta krayon warna-warni, dan kertas gambar. Di situ kita bisa mendapat gambar goresan krayon yang bermacam-macam, hanya dengan meletakkan kertas di cetakan dengan gambar tertentu, lalu menggoresnya dengan krayon. Anak-anak, tua, muda pun asyik menggambar berbagai icon Singapore ketika sedang transit menunggu penerbangan berikutnya. Menurut saya, itu adalah salah satu cara kreatif untuk membuat pengunjung tidak bosan. Dengan pelayanan seperti itu, sebagai turis saya sendiri merasa sangat nyaman dan dimanjakan.

Killing time - Drawing at Changi Airport

Atau, tengok saja bandara Svarnabhumi – Bangkok. Ketika pertama kali menjejakkan kaki di bandara, kita sudah langsung disambut Tourism Information desk ketika akan keluar bandara. Mereka bertanya apa kita sudah punya penginapan, tahu bagaimana ke sana, sudah ada yang jemput atau belum dan lain-lain. Jika menjawab belum, mereka pada umumnya akan menawarkan paket tur, hotel, rental mobil, dll. Jika mengatakan tak berminat atau sudah booking, mereka akan “mundur” dengan ramah, sambil menawarkan peta Bangkok, gratis, siapa tahu kita membutuhkan.

Itulah wajah keramahan wisata Thailand dan Singapore yang coba mereka wujudkan dengan pelayanan ekstra-nya, bahkan sejak kali pertama kita menginjakkan kaki di bandara mereka.

Bisakah kita bandingkan dengan Bandara Soetta-yang sama-sama terletak di ibukota negara? Sayangnya jawabnya tidak. Bandara kita, yang merupakan salah satu pintu gerbang turis, terlalu “dingin” dalam memperlakukan turis sebagai tamu. Kita bahkan tak punya tourist information booth, atau office, dan semacamnya untuk membantu para traveler. Tak ada juga peta wisata gratis yang menyambut di rak-rak bandara. Toiletnya pun seringkali kotor dan sesekali becek, dengan sabunnya yang habis, atau tempat tisu toilet yang kosong.

Lalu, kapankah kita akan benar-benar serius membenahi pariwisata sendiri? Haruskah selalu orang-orang asing itu yang memiliki resort dengan standar internasional, sedangkan “orang kita” kebanyakan hanya mampu menyediakan homestay-homestay dengan fasilitas seadanya itu?

Setidaknya itulah yang akhir-akhir ini mengusik pikiran saya untuk terjun di dunia tourism. Jujur, setidaknya itu membuat saya merasa lebih bisa “hidup” untuk banyak orang, ketimbang menjadi akademisi, meneliti ini itu, yang hasil penelitiannya kemudian entah ditumpuk di mana dan untuk apa, atau melakukan kegiatan proyek pengabdian masyarakat yang dalam prosesnya seringkali terhenti begitu saja begitu dananya habis.

 
4 Comments

Posted by on December 1, 2011 in Uncategorized

 

Tags: , ,