RSS

Category Archives: trip/traveling

Traveling with Baby #2: Singapore Trip

Ini tulisan kelanjutan dari blog post saya sebelumnya tentang Traveling with Baby. Agak telat update kali ya. Secara trip ini sudah dari akhir Mei 2016 lalu. Tapi tak apalah. Siapa tahu membantu mereka yang akan trip pertama kali membawa bayi.

Trip saya ke Singapore lalu lumayan seru, karena itu kali pertama membawa  Maryam trip overseas. Selain itu, karena pertama kali overseas trip sama Bapak, Ibu, Lala dan Dani, setelah sekian lama kami tidak jalan-jalan keluarga. Dulu sampai saat saya sudah kuliah dan kerja, kami sering jalan-jalan keluarga. Hampir setiap ada long weekend, pasti ada acara entah itu hanya ke Jogjakarta, atau ke Malang. Ke mana saja yang penting judulnya jalan-jalan sekeluarga. Ah, jadi kangen masa-masa itu.

Jujur sampai sekarang saya belum berani trip ke destinaasi non negara maju kalau membawa bayi. Thailand misalnya. Repotnya itu, bakalan berasa. Bukan isu repot saja sih. Kebersihan dan fasilitasnya selama trip itulah yang menjadi pertimbangan utama.

Nursery Room

Kalau menurut saya, Singapore itu sangat proper untuk wisata keluarga, terutama bagi para pembawa bayi. Semua fasilitas umumnya sangat memadai, mulai dari toilet, transportasi, tempat wisata, sampai infrastruktur jalan dan fasilitas lainnya. Toilet misalnya. Meskipun lebih dominan toilet kering, tapi tempatnya selalu bersih. Jadi karena kebanyakan toilet di sana adalah toilet kering, saya selalu membawa botol aqua untuk di toilet. Dan ini selalu saya lakukan setiap kali berkunjung ke Singapore (atau negara lain juga sih), jaga-jaga kalau toiletnya adalah toilet kering. Bagaimanapun, karena kami Muslim, kami tidak cukup hanya menggunakan toilet kering yang hanya disediakan tissue saja. 🙂

Tak hanya itu, di manapun itu selalu mudah ditemukan Nursery Room. Nursery Roomnya pun sangat nyaman dan memadai, apalagi di lokasi-lokasi wisata. Selain menggunakan instalasi water heater, tersedia tempat untuk changing diaper dan bisa juga untuk mandiin Maryam. Heheh. Bahkan tersedia air panas untuk membuat susu. Ini saya temui di Singapore Zoo. Ketika di Gardens by The Bay, saya tidak sampai masuk ke Nursery Roomnya, jadi tidak bisa menuliskan reviewnya di sini. Tapi saya yakin tempatnya juga proper.

Transportasi & Infrastruktur

Trotoar di Singapore selalu menyediakan jalur untuk stroller dan para disabled persons. Jadi saat membawa stroller tak perlu banyak angkat-angkat stroller karena jalanan yang beda tinggi. Tak hanya itu, instalasi air bersih dijamin mudah diakses. Tap water (air kran) di Singapore juga mostly layak minum saking bersihnya. Transportasinya? Jangan tanya. Meskipun agak mahal memang, tapi relatif mudah dijangkau dan again, proper. Dari naik bis umum, subway, semua selalu menyediakan tempat khusus untuk disabled person dan juga ramah keluarga. Seat khusus orang tua yang membawa anak-anak hampir selalu terjamin ketersediaannya karena penggunanya tertib sesuai aturan. Jadi selama trip kemarin, overall semuanya jauh lebih mudah daripada perkiraan saya. Maryam bahkan lebih banyak jalan kaki daripada digendong, sehari dia bisa berjalan 1.5KM maybe kalau ditotal. She was very much excited karena di jalan-jalan banyak burung-burung dan sesekali ada juga kucing gembul nan lucu berkeliaran.

Selama di Singapore, saya menggunakan kombinasi bus, subway atau MRT, dan juga Uber dan taksi biasa.

Akomodasi

Singapore adalah negara yang sadar wisata. Jadi, saya pikir, meskipun hospitality di negara ini relatif tidak seperti di Indonesia (yang tipe hospitality-nya ramah dan tulus, haha), Singaporean mampu memperlakukan tamu dengan proper. Meskipun tinggal di hostel, host di hostel kami cukup helpful. Bahkan saya diijinkan membawa rice-cooker untuk masakin Maryam. Saya juga membawa bottle sterilizer dan itu SANGAT membantu. Mentok-mentok ketika stok makanan Maryam hampir habis, saya bisa membeli telur dan mengukusnya dengan bottle sterilizer. And it was perfectly OK. Saya kurang paham bagaimana jika di hotel. Tapi biasanya hotel akan cukup tegas untuk aturan ini (alias biasanya tidak diijinkan). Jadi menurut saya, memilih akomodasi apartemen atau hostel lebih preferable daripada stay di hotel biasa (hotel 1-3 star). Hotel bintang 4 atau 5 boleh lah, dengan catatan hospitality mereka cukup OK, seperti misalnya, mereka bersedia memasakkan makanan khusus untuk bayi, lebih bagus lagi kalau sesuai request. Terus terang saja, untuk hotel di Singapore saya tidak begitu yakin mereka mau. Saya pernah juga menginap di Sheraton Tower Singapore, yang per malamnya saja di atas 4 juta. Tapi hospitalitynya menurut saya nilainya 5.5. Heheh. So I would still recommend Airbnb appartment or hostel instead of common hotel. 🙂

Oh ya, satu lagi. Microwave. Selama di hostel, saya sama sekali tidak menggunakan microwave hostel karena microwavenya bau daging babi. Padahal tadinya berharap bisa menghangatkan makanan pakai microwave hotel. Jadi makanan yang saya bawa untuk Maryam cukup dihangatkan dengan rice cooker saja.

Makanan dan Minuman

Sekali lagi, saya sendiri tidak bermasalah dengan makanan. Saya bisa makan apa saja selama itu halal. Dan di Singapore cukup banyak tempat makan halal. Di Orchard, biasanya saya makan di Foodcourt Orchard ION, hanya saya luma nama tempatnya. Di sana ada beberapa opsi, tapi menurut saya ada 1 “warung” yang tastenya cukup OK meskipun tetap ala-ala Chinese food. Tempat makan wajib yang harus saya kunjungi adalah Warung Kampong Glam yang letaknya dekat dengan Masjid Sultan. I think it’s still the best in town untuk rasa dan harga. Hampir semua menu yang pernah saya coba selalu enak, dengan menu pilihan masakan Indonesia dan Melayu. Ada modifikasi rasa tapi modifikasinya OK. Kampong Glam tidak pernah sepi pengunjung, bahkan waiting list over the weekend, dan buka dari pagi sampai dini hari.

Stroller

Hmm…Untuk stroller selama trip, ini wajib dibawa. Wajib pakai banget. Karena Maryam akan tidur di stroller saat kami jalan-jalan. Juga kalau sedang tidak dipakai Maryam, bisa untuk membawa tas dan perkakas Maryam, mulai dari makanan, botol, termos dan susu. Pilihan stroller saya akhirnya jatuh ke Pockit. Selain karena mudah sekali dilipat, strollernya juga cukup nyaman. Sayangnya stroller ini hanya bisa untuk 1 posisi, tidak bisa reclined (posisi tidur), dan spacenya tidak cukup luas. But that’s the trade off. Kalau mau stroller yang lebih nyaman, biasanya strollernya besar dan kurang handy. Karena saya cukup banyak perjalanan dengan kendaraan umum, jadilah menurut saya Pockit cukup mengakomodir kebutuhan. Selain itu harganya tidak terlalu mahal (sekitar 1,5 juta). Lagipula saat itu Maryam sudah cukup besar dan justru tidak mau jika pakai stroller dengan posisi tidur/ reclined.

Ok, menurut saya itu sih yang bisa saya share. Mungkin nanti akan share lagi tentang destinasinya ya.Tidak banyak karena hanya 3 hari 2 malam, but it’s Ok lah… 🙂

Happy traveling!

 

 
Leave a comment

Posted by on November 30, 2016 in trip/traveling, Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Ngeteng Pesawat ke Pakistan

Seharusnya tulisan ini saya tulis 2 tahun lalu, setelah saya pulang dari Islamabad. Tapi tak apalah, tak ada kata terlambat untuk menulis.

Pakistan, adalah perjalanan abroad saya yang pertama.

Ceritanya saya mengikuti sebuah event pemuda International Youth Conference and Festival. Kenyataannya, karena waktu pengumuman lolos seleksi dan keberangkatan sangat mepet (hanya 3 minggu sebelum jadwal keberangkatan), kesempatan mencari sponsor pun lebih terbatas.

Setelah 3 minggu jungkir balik cari sponsor, kami (saya dan Fik), sempat hampir putus asa bahwa kami tak akan jadi ke Pakistan. Progres pencarian sponsor seret. Tapi kami masih saling menyemangati: kami percaya bahwa kami akan sampai ke sana, meskipun dengan jalan berputar. 

Dan di ujung hari-hari keberangkatan kami, jadilah saya hanya bisa mendapat 2 pembiayaan, yaitu dari Kemahasiswaan UI, dan Bupati Jepara. Biaya tersebut, baru mengcover 50% biaya yang saya perlukan untuk sekedar beli tiket pesawat yang harganya 8 jutaan, belum termasuk sangu dan visa.

Sisanya? Uang darimana?

Alhamdulillah, orang tua saya pun berbaik hati menambal biaya tiket. Sangu? Pakai uang sendiri hasil menang lomba. Haha.

Karena saya berangkat dengan biaya mepet, maka tak ayal semua harus disiasati. Apalagi kalau bukan cari tiket semurah-murahnya. Parahnya lagi, entah kenapa tiket pada saat itu sudah pada habis dan harganya sangat fluktuatif. Ketika sudah ada uang di kantong, harga tiket melonjak jadi 10 jutaan. Gilaaaa… Mahal amat ke Islamabad!

Akhirnya saya dan kak Histor, travelmate saya, berinisiatif ngeteng pesawat alias membeli pesawat dengan tiket terpisah. Flight yang harusnya dapat ditempuh hanya dengan sekali transit di Bangkok atau Dubai, kami akali dengan penerbangan dari Bali yang jauh lebih murah (7,4 juta via Bali, sedangkan via Jakarta lebih dari 9 juta). Jadilah penerbangan kami semakin panjang: Jakarta – Bali. Bali – Bangkok – Islamabad, naik Citilink dari Jakarta ke Bali, disambung Thai Airways si pesawat ungu dari Denpasar ke Islamabad, via Bangkok dengan transit 23 jam! Uyeeeyy!

Bagi kami yang saat itu statusnya mahasiswa traveler yang kere, transit 23 jam adalah berkah. Semacam sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui. Secara saya baru pertama ke luar negeri saat itu. Maklum kalau agak norak. 😀

Belum lagi, ditambah kami extend di Bali 2-3 hari, lumayan icip-icip Bali lagi setelah 4 tahun tidak ke Bali. Kami pun melewati penerbangan yang panjang dengan penuh suka cita 😀

Akan tetapi, kenyataan pun berlanjut dengan fakta bahwa ngeteng tak selamanya bikin irit. Tau kenapa? Karena ujung-ujungnya, di setiap transit kami selalu ingin jalan-jalan, liat sana sini, dan tak dapat dihindari: beli souvenir ini itu yang unyu-unyu. *dasar ibu-ibu

Biaya yang tadinya kami perkirakan semakin irit dengan berkurangnya harga tiket, justru di jalan semakin membengkak karena kami “tergoda” untuk mampir-mampir. Ujung-ujungnya, biaya yang dikeluarkan pun hampir sama jika kami tidak ngeteng pesawat. Haha. #gagalmaksud

 

—-

Depok, 31 Juli 2013

*Tepat setahun ngantor di ReLife 🙂

 

Yang Unik-unik di Gili Nanggu

Sudah pernah baca posting saya tentang Gili Nanggu?

Dermaga Sekotong - Menuju Gili Nanggu

Dermaga Sekotong – Menuju Gili Nanggu

Nah, postingan ini adalah lanjutannya. Singkat cerita, Nanggu adalah pulau kecil di barat daya Pulau Lombok, yang superb, dan ngangenin. Para pecinta pantai seperti saya, kalau sudah sekali ke Nanggu pasti ingin balik lagi. Apalagi kalau traveler bule-bule Eropa yang memang mencari destinasi pantai-pantai tropis.

Saat makan malam di Nanggu, saya sempat mengobrol panjang dengan pengelolanya. Namanya Pak Yusuf. Seingat saya, waktu itu beliau bercerita bahwa beliau sudah 8 tahun mengelola Nanggu. Dan selama beliau di Nanggu, ada banyak cerita yang beliau bagikan. Mulai dari jungkir balik memasang instalasi air tawar dari mainland Lombok ke Nanggu, keindahan hutan kecil di Nanggu saat musim panas, bunga flamboyan yang sangat flamboyan, hingga tentang Bintang–seekor anjing jantan yang menghuni Nanggu.

Hutan Kecil di Nanggu

Image

Forest path Gili Nanggu

Jika pergi ke Nanggu, sempatkanlah keliling pulau. Ini tak akan memakan waktu 2 jam untuk berputar 360 derajat. Tips: bawa payung atau topi, karena panasnya benar-benar menyengat. Di salah satu ujung Nanggu, ada hutan kecil dengan pohon setinggi 10-20an meter. Dari cerita Pak Yusuf, dulu Nanggu adalah pulau kecil yang indah tapi gundul. Tak ada pepohonan rindang seperti sekarang. Sekarangpun Nanggu tetap indah, tetapi sudah rimbun dengan pepohonan besar, termasuk flamboyan cantik yang saat peralihan musim berbunga sangat semarak.

Usut punya usut, ternyata pepohonan di Nanggu sengaja ditanam: sejak 20 tahun-an lalu. Gili yang tadinya gundul seperti Gili Tangkong sekarang (hanya ada pohon kelapa, bahkan lebih gundul), kini sudah rimbun dan hijau. Saat musim kemarau, bahkan lebih indah, pepohonan di hutan kecil Nanggu menggugurkan daunnya. Hanya ranting-ranting kering yang nampak di pohon, sehingga ada sisi di mana ada autumn kecil di Nanggu. Autumn dengan suhu tropis tentunya, hehe.

Tak Ada Money: Ngebon Dulu

Saking cintanya dengan Nanggu, banyak turis yang tiap tahun datang ke Nanggu saat musim panas. Bahkan, mereka para Nanggu Mania ini sudah booking kamar sejak 1 tahun sebelumnya! Gile bener niatnya. Yang aneh lagi, ada yang bela-belain ngebon dulu alias ngutang sama pengelola karena pengen ke Nanggu tapi nggak punya duit buat bayar nginepnya. haha. Mereka yang ngebon ini bisa nginep berminggu-minggu. Mereka akan membayar tagihan menginap setelah balik ke negaranya, dan setelah punya duit! Ckckck. Baik banget Pak Yusuf nerima tamu tipe tukang ngebon. 🙂

Lain cerita dengan tamu yang ngebon, ada juga tamu yang hampir setiap tahun menyimpan deposit uang di Nanggu. Jadi di tahun berikutnya, ketika berkunjung kembali ke Nanggu, dia sudah punya “tabungan”. Deposit itu kadang bahkan masih bersisa, sehingga masih disimpan untuk tahun berikutnya lagi.

Image

Makan siang dengan Pak Yusuf (Kaos Putih) – GM Gili Nanggu

Aktivitas Long Stay Guest

Kalau yang parah, tamu Eropa yang menginap di Nanggu tidak hanya menginap seminggu dua minggu, tapi bahkan bisa sebulan dua bulan! Gileee, itu nginep apa pindahan? Kata saya dalam hati, waktu diceritain Pak Yusuf. Dan ngapain aja mereka selama itu di Nanggu? Jawabannya: snorkeling, berjemur, ke cottage. Baca buku, renang, berjemur, ke cottage. Baca buku, snorkeling, ngobrol sama pegawai Nanggu. Renang, snorkeling, tidur. Begitu terus sampai mereka bosen dan bingung mau ngapain.

Kalau sudah bingung mau ngapain, tapi mereka belum pengen pergi dari Nanggu, tingkah mereka akan mulai aneh-aneh. Mulai dari ikut masak di dapur bareng tukang masak di Nanggu, bikin pizza, panen cabe, bahkan iseng pinjem perahu dayung nelayan, lalu melaut dan mancing seharian. Hasil tangkapannya akan dimasak rame-rame dengan penghuni (a.k.a. pegawai) Nanggu. Yang lebih parah lagi, ada yang sampe ngejar-ngejar ayam-ayam di Nanggu. Kalau udah ketangkep ayamnya, mereka akan ngakak-ngakak, dan penghuni Nanggu cuma bengong-bengong sambil ngekek juga. -_-?

PizzaNanggu-Mania

Selama saya di Nanggu, masakannya enak-enak. Nasi gorengnya, ikan gorengnya, ikan bakarnya, jusnya, tempenya, tahunya. Pokoknya semua enak, hehehe. Padahal tak ada chef di sana. Para penghuni dapurnya adalah orang-orang lokal yang pendidikannya tidak tinggi, bahkan tidak sekolah dan mereka yang buta huruf.

Yang cukup legendaris adalah pizza lokal buatan Nanggu. Menurut saya, tak ada pizza seenak di Nanggu. Saya yang tak begitu suka pizza bahkan suka pizza buatan Nanggu. Bahkan, ada orang Bali, pelanggan pizza Nanggu yang kalau ingin makan pizza sengaja nyebrang ke Nanggu (dari Bali): cuma untuk makan pizza! #Maknyaakkk!

Keenakan pizza Gili Nanggu, bahkan diakui oleh para tamu yang asalnya dari Negeri “Pizza” Italia.

Kata mereka, “Saya ini hidup di Italia, tapi belum pernah nemu pizza seenak ini…” Uwow!

Image

Pizza Enak ala Gili Nanggu

Kisah Bintang dan Bulan

Di Nanggu, ada seekor anjing jantan lucu yang ramah. Namanya Bintang. Dia tidak mengganggu, tapi karena saya takut kalau kena najisnya, jadi saya takut-takut kalau Bintang ngikutin saya ke mana-mana. Aslinya, kata Pak Yusuf, Bintang suka mengajak tamu yang baru datang untuk keliling pulau. Kalau tidak dihalau, dia akan ngekor kita ke mana-mana, terkadang nunjukin jalan untuk muter-muter pulau.

Ternyata Bintang dulu punya pasangan betina, namanya Bulan. Mereka anjing yang sejenis, dan tumbuh besar bersama dari kecil. Jadilah di mana-mana, kalau ada Bintang di situ juga ada Bulan. Mereka sama-sama ramah dan lucu. Pada suatu hari, Bulan tanpa sengaja ikut terbawa kapal angkut yang setiap hari mengangkut air tawar dari Lombok ke Nanggu. Pada saat itu, instalasi air tawar di Nanggu belum terpasang, sehingga pengelola harus mengangkut air setiap hari dari Lombok ke Nanggu dengan kapal angkut. Bulan pun ikut terbawa sampai Lombok. Setelah turun di pulau, Bulan kebingungan karena merasa asing dengan Lombok, dengan kendaraan dan keramaian orang-orang. Sejak kecil memang tumbuh di Nanggu di mana sepeda pun tidak ada. Dia jalan ke sana-sini dan tidak terbiasa menyingkir saat ada kendaraan. Sedihnya, Bulan akhirnya tertabrak mobil.

Beberapa hari setelah Bulan hilang, warga lokal pun memberi tahu pengelola Nanggu bahwa bulan tertabrak mobil. Setelah itu, Bintang setiap malam melolong-lolong tidak karuan, sampai berhari-hari lamanya. Kasian sekali si Bintang.

*Foto Bintang menyusul ya…

Begitulah cerita yang saya dapat selama menginap semalam di Nanggu. Kalau nginepnya seminggu, ceritanya mungkin bisa ditulis jadi buku 😀

—-

Depok, 20 Mei 2013

 

Tags: , ,

Kuala Lumpur: Less Vibrant than Jakarta

Image

Salah satu gedung kementrian Malaysia

Akhir bulan lalu saya ke Kuala Lumpur. Ceritanya ini my first overseas business trip. Haha. Yah lumayanlah, meski nggak sempat ke Melaka, Penang, dan destinasi lain di sekitar KL. It was more than enough: free return flights, hotel bintang 4 dengan kamar suite, dan bisa sedikit tengok kanan kiri (jalan-jalan) di luar agenda kantor, hehe. Jadilah saya mampir ke KLCC atau Twin Tower, Genting Highland, China Town, Central Market atau Pasar Seni, dan Orchard Road-nya KL, yaitu Bukit Bintang.

Kalau ditanya Kuala Lumpur seperti apa, saya sih bilang, biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang sangat berkesan. Malah, saya pikir, Jakarta lebih menarik, lebih hidup, meskipun dengan segala kemacetannya. Saya akui, KL memang memiliki transportasi publik yang jauh lebih nyaman daripada Jakarta. Kecuali taksi-taksinya yang seringkali tak mau pasang argo. Padahal mestinya tarif taksi resmi di KL lebih murah daripada tarif taksi Jakarta. Tapi ya itu, sopir-sopirnya sering pada reseh karena tidak mau pasang argo. Jalan cuma 5Km saja, saya diminta bayar RM 30 (Ringgit Malaysia). Kalau dirupiahkan ya sekitar 150 ribu. #Ngoookk

Twin Tower, dari dalam monorail

Twin Tower, dari dalam monorail

Karena saya menginap di hotel tepat di depan stasiun monorel Imbi (Berjaya Times Square), di KL saya lebih sering memakai subway (di KL istilahnya “commuter”), atau monorail. Ada semacam kartu EZ Link yang namanya Touch&Go. Kartu tersebut harganya hanya RM 10, dengan isi RM 7. Bisa diisi ulang sesuai kebutuhan, dengan nominal isi ulang RM 10. Selain dipakai untuk kereta, Touch&Go juga bisa dipakai untuk membayar tiket bis. Hanya saja, ketika tur dalam kota, saya belum pernah naik bus. Saya naik bus satu-satunya hanya ketika ke Genting. Di luar itu, saya merasa lebih nyaman naik kereta karena saya hanya punya peta monorail dan subway.

Salah satu stasiun monorail di KL

Salah satu stasiun monorail di KL

Bukit Bintang

Bukit Bintang intinya mirip seperti Orchard Road-nya Singapore. Isinya mal-mal dengan gerai-gerai brand semacam Guess, Zara, M&C, Cartier, Chanel, dan selevelnya atau bahkan lebih. Minimal sekelas UniqLo. Masuk tokonya aja saya nggak berani, wkwkwk.

Sengaja ke sini untuk malam, menu yang saya pilih agak apes. Mau cari makanan halal, adanya fine dining timur tengah yang 1 pax harganya bisa 400ribuan. Alhasil saya pun makan di TGIF, semacam kafe. Udah harganya mahal, rasanya super nggak jelas: spageti yang nggak ada rasanya, cuma mie dicampur bawang bombay, sayur entah apa namanya warna ungu marun, kembang kol, brokoli, dan entah apa lagi. Bikinnya mungkin cuma diurapin sama minyak zaitun. Huak! Kalau nggak ingat itu harganya 100 ribu, pasti udah nggak saya makan. Meskipun dibayarin kantor, tetep aja nyesek karena rasanya super nggak enak.

Genting Highland

Cable car di Genting Highland

Cable car di Genting Highland

Ini mah puncak versi KL. Hanya saja di Genting ada semacam TransStudio, taman bermain indoor. Saya sih nggak terlalu tertarik. Saya ke genting cuma penasaran dengan cable car-nya yang ada di tengah-tengah hutan, dihubungkan dari puncaknya Genting ke lembahnya dengan panjang bisa mencapai 4 Km-an. Cari makanan halal di dalam Genting juga agak susah, kecuali kalau mau makan fastfood. Di sana ada KFC, McD, Burger King yang pastinya halal. Masalahnya partner saya nggak mau diajak makan di fastfood, pusing kan. Jadilah malam itu akhirnya saya berakhir cuma makan yoghurt dan wafel. Untung enak. Haha.

Pos polisi, menuju Genting Highland

Pos polisi, menuju Genting Highland

Cerita yang lain tentang China Town dan Pasar Seni. Ketika saya di Pasar Seni, saya sempat lihat ada pertunjukan tari dengan lagu Rasa Sayange yang dikemas dengan apik. Di tengah pusat perbelanjaan souvenir, pengunjung yang rata-rata turis asing “dikagetkan” dengan show dadakan, yang sederhana tapi cukup meriah. Saya, jujur saja nggak ngerti mesti komen apa. Kenyataannya, tari-tarian tradisional kita tidak “dirawat” dengan baik oleh pemerintah. Tapi begitunya disenggol sama tetangga sebelah, baru kita merasa itu milik kita.

Tanya kenapa?

 
 

Keindahan Tak Terpoles: Gili Nanggu

Image

Pemandangan siang hari di Gili Nanggu

Pernah menginap di private island?

Kalau belum pernah, cobalah sekali-kali. Rasanya seru! Yang jelas serasa jadi ratu/raja di pulau sendiri. hehe. Saya mampir ke Nanggu awal Desember lalu. Ditambah lagi, saat itu yang menginap hanya kami ber-empat: saya, om saya, om saya, dan om saya (maklum, hidup saya dikelilingi om-om), haha.

Sejak berkunjung ke Pulau Nanggu, saya jadi sering iseng, cari berapa sih rate kalau menginap di resort yang berada di private island? Ternyata oh ternyata, harganya nggilani. Rata-rata semalam minimal 500an USD alias lima juta-an. Ada juga sih yang harganya “cuma” 150an USD, tapi jarang. Kalau yang mahal, semalam ada yang sampai 200-jutaan bahkan lebih. Belum lagi kalau nginepnya nge-blok sepulau. Cari tahu aja sendiri. Hehehe.

Image

Salah satu kepiting yang kami temukan di tepi pantai. FYI, kepiting ini sudah mati, hanya tinggal cangkangnya yang cantik.

Nah, kalau yang belum pernah, bisa coba ke Gili Nanggu. Pulau yang sempat gempar karena diisukan dijual ke pihak asing ini hanya punya satu akomodasi. Namanya Gili Nanggu Cottage & Bungalows. Unit kamarnya pun tak sampai 20 buah. Dan lagi, yang jelas penginapannya tak sekelas resort atau hotel. Fasilitasnya sangat basic, karena pemiliknya memang tak bertujuan untuk mencari dollar dari penginapannya. Hanya cukup bertujuan supaya pulau ini terawat saja. Makanya dibuatlah cottage dan bungalow di dalamnya. Jangan berharap ada air panas, karena listrik terbatas (dari genset). Akan tetapi, suplai air tawar aman karena ada pipa langsung yang berasal dari mainland, yaitu Lombok.

Image

Pantai berkarang di salah satu pantai di Nanggu

Saya hanya menginap semalam di Nanggu. Tapi semuanya cukup menyenangkan. The island  is too beautiful, thus any basic facilities are more than enough. Saya pikir tamu yang mencari keindahan alam, bertujuan untuk escape, tak akan komplain apapun tentang Nanggu. Karena seperti yang saya bilang: the island is too beautiful!

Image

Pantai dengan pemandangan perbukitan yang hijau dan diselingi siluet anak-anak Rinjani

Ketika di sana, saya muterin pulau 360 derajat, and that was wonderful! Seolah-olah saya seperti disuguhi slideshow berbagai pemandangan. Pesona Nanggu benar-benar lengkap. Pantai cantik dengan gradasi air sebening kristal, toska, biru muda, dan biru gelap. Di sekelilingnya adalah pemandangan perbukitan Lombok, hijau dan siluet silih berganti. Mau cari pantai jenis apapun ada: yang pasirnya putih bersih, pantai pasir merica, pantai berkarang, hingga pasir hitam yang sparkling. Pasir mericanya pun ada dua jenis: golden grainy sands dan yang berwarna pink agak orange. Superb!

Jika mau snorkling, cukup 10 meter dari bibir pantai, maka ikan dan karang warna-warni sudah menjamur. Belum lagi ikannya “ramah”. Kalau kita pelototin, kadang mereka cuma balik melototin kita, sesekali mundur malu-malu, lalu melototin kita lagi. hehe. Bahkan waktu saya sekadar gerak-gerakin jari tangan, mereka bukannya lari tapi malah ramai mendekat. Dikiranya saya bawa roti, tapi setelah beberapa lama mereka sadar kalau saya tak bawa roti, jadilah mereka cuek setelah tahu saya cuma “ngibul” nggak bagi-bagi roti. Hehe

(To be continued…)

Cerita tentang Nanggu masih berlanjut. Will be posted soon 🙂

 

A Note from Packing

Saya akhir-akhir ini sedang ngebet traveling. Maunya sih jalan-jalan domestik juga, ke daerah timur Indonesia (mau banget keliling Sulawesi, ke Papua juga, dll), tapi, apa mau dikata, kenyataannya, seringkali jalan-jalan ke luar negeri lebih murah daripada jalan-jalan domestik.

Kalau dipikir-pikir, yang paling asyik dari ngetrip, justru adalah saat-saat mau berangkat. Ada rasa excitement yang membuncah apalagi saat kita sedang packing. Menggulung-gulung baju, kalau perlu dikaretin juga biar gulungan bajunya nggak berantakan yang bikin menuh-menuhin tas. Nyiapin travel pack yang isinya alat mandi pas buat selama kita pergi. Pergi seminggu ya bawa sabun cair di wadah unyil yang kira-kira cukup buat mandi seminggu. Yah, kurang-kurang sedikit juga nggak apa-apa sih bawanya, berhubung kalau nge-trip nggak mesti mandi 2 kali sehari juga, heheheh. Odol cukup bawa Ciptadent mini yang harganya 900 perak (sumpah ngirit abis!), shampo bawa sachet, kalau nggak ada, ya udah, nge-re-pack shampo di wadah shampo yang didapet dari hotel (ini alasannya botol shampo/shower gel kamar hotel yang saya tempati pasti lenyap, haha). Dan tak lupa, segala macam kosmetik dan sedikit make-up: pelembab muka, lipbalm, make up base, parfum, eyeshadow, eyeliner, dan body butter atau body cream tak boleh ketinggalan biar muka nggak kusut dan badan nggak penguk. Yah, muka tak boleh kusut meskipun dompet udah kusut.

Sebelum berangkat, huah, rasanya nggak sabar naik damri ke bandara, check in, nunggu di boarding gate, masuk pesawat, dan YESS!!! Take-off lah kita…nyam-nyam-nyam…Selanjutnya, melongok ke jendela pesawat, sambil menikmati sensasi take-off nya pesawat di kelas ekonomi (promo pula, heheheh).

Excitement itu tak habis-habis ketika packing, sampai kita take-off di bandara. Yap, packing. Tentang packing, saya setuju dengan pendapat seorang penulis buku tentang packing. Packing, sepertinya simpel, tapi terkadang gampang-gampang susah. Packing, semacam seperti miniatur kehidupan. Karena dalam packing, kita harus mempunyai strategi agar dalam perjalanan kita tidak kehabisan bekal. Dalam packing, pada dasarnya, kita harus pintar-pintar memilih, mana yang harus dibawa dan mana yang tidak perlu dibawa dalam bekal perjalanan kita. Hidup, setidaknya bagi saya, juga seperti itu. Kita harus pandai-pandai memilih bekal perjalanan, agar tak kekurangan bekal dan tidak juga kelebihan yang justru nantinya hanya membawa kerepotan. Dan dalam perjalanan itu, kita tidak hanya harus memilih mana yang penting dan tidak penting, mana yang akan menemani kita dan mana yang sebaiknya ditinggalkan. Dalam packing, kita juga sebaiknya menyisakan ruang di tas kita. Layaknya kita menyisakan ruang untuk membawa oleh-oleh, kita juga sebaiknya menyisakan ruang dalam hati dan pikiran kita, sekadar untuk membawa sepenggal pengalaman, memori, kisah yang berharga untuk dibagi kepada orang-orang di sekeliling kita.

————-

Life is simply a journey 🙂

 
Leave a comment

Posted by on May 20, 2012 in trip/traveling

 

Solo Traveling: It’s Fun!

Trip saya ke Beijing November 2011 lalu adalah solo traveling saya yang pertama. Yep, traveling sendirian. Yah, meskipun sebenarnya tidak pure traveling juga sih. Kan saya ke sana untuk mengikuti Asia Pacific Forestry Week yang diadakan oleh FAO. Tapi lumayan kan, bisa icip-icip Beijing di luar waktu conference, plus nambah cap di paspor dan nyoret visa China saya. Haha

It’s Fun

Pada awalnya, saya mengira solo traveling itu akan sedikit ‘horor’. Pasalnya, saya perempuan, udah gitu badan saya kecil. Kalau ada orang reseh, tangan saya buat nonjok juga paling rasanya ky dicolek doang, haha. Terus lagi, negara yang akan saya kunjungi adalah China! Which is orang-orangnya pada nggak bisa bahasa Inggris, dan identik dengan: kalo kesasar akibatnya fatal. Secara China gede banget dan Beijing juga kotanya luas banget. Hiii… Di negeri sendiri aja saya sering nyasar, nggak tahu jalan, apalagi di China yang ngomongnya cang cing cung ditambah a a u u alias mesti pake bahasa tarzan. Meneketehe?

Tapi ternyata, solo traveling saya tidak horor. Bahkan cenderung fun. Gimana nggak fun? Kalo sendirian, mau jalan ke mana kan ape kate gue, mau jalan jam berapa juga suka-suka gue, dan mau makan apa di mana mah urusan gue. Hehehe. Nggak perlu tuh proposing argument untuk pergi ke sini dan ke sana sama temen traveling kita, kalo seandainya tempat tujuan wisatanya beda-beda. Yang ujung-ujungnya, kalo nggak ada yang ngalah, atau ada yang merasa “tertindas” karena tempat impiannya di-skip, akan bete sebete betenya.

Be Prepared: Peta

Solo traveling saya, meskipun ke China, I was so fine. Buktinya sekalipun saya nggak nyasar sekalipun. Kuncinya: be prepared. Ketika ke Beijing, malam sebelum berangkat saya sudah ngeprin peta subway bilingual (mandarin & English) ukuran A3. Dan it’s so much helping me.

Kalau nggak bawa peta itu, mungkin saya sudah nyasar entah ke mana. Teman saya, yang ngetrip bareng pacarnya, bahkan sampai ketinggalan pesawat balik ke Jakarta karena nyasar. Dan mereka pun harus beli tiket balik yang harganya lebih mahal dibanding tiket PP mereka sebelumnya! Amit-amit deh ketinggalan pesawat, apalagi pas di luar negeri. Nangis garuk-garuk bandara langsung kalo saya, hehehe.

Meskipun di bandara-bandara besar biasanya menyediakan peta gratisan, tak ada salahnya kita siap-siap sendiri. Waktu itu, alasan saya ngeprin peta adalah karena saya nggak tahu apakah PEK (kode bandara Beijing) menyediakan peta gratisan macam itu atau nggak. Kalaupun disediakan, saya nggak jaga-jaga saja kalau peta yang ada pakai tulisan mandarin. Dan waktu itu, kebetulan saya lupa nyari peta di bandara, untungnya, saya sudah bawa sendiri. Jadi tenang… 😀

Do: browsing and… asking!

Sebelum pergi ke tempat tujuan, jangan lupa browsing. Cari rute yang mesti kita pakai, apakah subway, bis, becak, jalan, atau kombinasinya, selengkap mungkin. Jadi ketika keluar penginapan kita nggak bego-bego amat.

Jangan lupakan catatan. Catat hasil browsing-an kita itu. Kalaupun mau nanya ke orang, dan kita lupa, kan tinggal buka catatan. Catatan itu penting karena kemungkinan kita lupa dengan nama-nama asing itu sangat mungkin terjadi. Karena semuanya pasti asing buat kita: nama stasiun kereta, halte bis, stasiun bis, dll. Belum lagi, meskipun hafal, pelafalan kita ketika bertanya ke orang juga sangat mungkin berbeda, sehingga orang juga nggak ngerti atau salah tangkep. So, lebih aman pake tulisan.

Rajin-rajinlah tanya saat di jalan. Yah, meskipun seringkali kalo nanya ke orang China, saya sering ditolak-tolak. Mereka nggak mau ditanyain karena nggak bisa bahasa Inggris. Tips saya sih, kalo mau tanya jangan ke bapak-bapak, ibu-ibu, apalagi kakek-kakek dan nenek-nenek. Pengalaman saya, belum nanya aja udah disuruh pergi. Haha.

Kalau mau tanya, cobalah bertanya pada anak-anak muda. Biasanya mereka relatif lebih welcome untuk ditanya. Kalaupun nggak bisa pake bahasa Inggris, saya biasanya pakai tulisan dan bahasa tubuh, dan mereka pun biasanya berusaha untuk membantu.

Bahasa Tarzan

“Wuuzzz…” kata saya sambil menggerakkan tangan seperti pesawat take off. Itu adalah cara komunikasi saya ketika mau naik taksi ke bandara. Secara sopir taksinya nggak ngerti bahasa Inggris sama sekali. Teman saya yang ketinggalan pesawat tadi, lebih ajib lagi. Katanya setelah sopir taksinya baru ngerti mereka mau ke airport setelah digambarkan pesawat, sambil bilang “Wuuuzzz…” dengan tangan menirukan pesawat take off. Itupun setelah ganti 5 sopir taksi. Hahaha.

Intinya, tetaplah berusaha berkomunikasi, kalau nggak bisa ngomong, ya pakai tulisan, atau bahasa tubuh, atau kombinasi semuanya. Percaya deh, Tuhan pasti membantu hamba-Nya yang mau berusaha, hehehehe.

Konteks Komunikasi

Nah, tak hanya bahasa tarzan. Berusaha memahami bahasa lokal dengan melihat konteksnya juga sangat membantu. Saya sering lho, selama di Beijing, berkomunikasi sama kenek bis dengan cara yang aneh: dia pakai bahasa China, saya pake bahasa Inggris. Tapi keduanya tetap nyambung. Saya tahu dia merespon apa, dia juga tahu saya ngomong apa. Bahkan sekali pernah saya waktu di bis, karena bosan, saya pun tralala trilili belajar angka 1-10 sama kenek bisnya (ibu-ibu). Saya diajarin kode tangan kalau di China itu bagaimana, dan apa bahasa Chinanya 1-10. Tapi ya keduanya tetap pakai bahasa masing-masing, hehehe.

Kemudian, ketika sopir taksi bandara tanya ke saya, “Terminal berapa?” pake bahasa China, tentunya saya nggak ngerti dia ngomong apa. Tapi karena waktu itu saya mau ke bandara, dan si sopir udah ngerti kalau saya mau ke bandara, tentunya saya nebak-nebak, dalam konteks seperti itu mestinya dia akan nanya, “Terminal berapa?” Apalagi si bapak sopir sambil mainin tangan 1 2 3 gitu. Dan that’s right, dia tanya: terminal berapa?

Meskipun begitu, solo traveling ke Beijing sangat tidak saya rekomendasikan buat yang baru pertama jalan-jalan ke luar negeri. Kecuali negara kita semaju Singapore yang ada subway-nya, jadi kita sudah terbiasa dengan subway ria sebelumnya. Keran buat saya, pengalaman ber-subway itu sangat penting. Karena kalau nggak, bakalan bingung gimana caranya, beli tiketnya gimana, jalur ini itu ke arah mana, di interchange station harus ganti kereta, dll. Ujung-ujungnya: salah jalur, nyasar, hehehe.