RSS

Note of A Working Mom #3

16 Nov

Fiuh, lama ya tak update blog. Sebenarnya banyak yang mau ditulis, tapi begitu waktu menginjak jam 5 sore, lebih pengen segera jemput Maryam di daycare daripada nulis blog. hehe. Mau nulis tengah malam juga mager kalau udah ngelonin Maryam. Jadi apa boleh buat?😀

Kali ini saya ingin cerita sedikit tentang “emosi” Maryam. Hahah. Saya baru tahu nih kalau ternyata bayi juga bisa ngambek dengan cara khusus. Beneran ngambek. Dan saya menyadari kalau anak saya, Maryam, ngambek beberapa minggu lalu, setelah sekian lamaaaa…

Jadi begini ceritanya. Sejak Maryam di daycare, memang seringkali ayahnya yang antar dan jemput Maryam. Biasanya kami berangkat bersama, lalu saya turun di jalan, dan suami lanjut mengantar Maryam. Maklum karena suami saya waktunya lebih fleksibel, jadilah seringkali dia yang mengantar dan menjemput Maryam. Setelah itu, pas lewat kantor saya, saya ikut sekalian. Maryam dititip ke daycare mulai umur sekitar 6 bulan. Kecuali kalau ayahnya sedang di luar kota, barulah saya mengantar dan menjemput Maryam.

Ketika Maryam kira-kira mulai menginjak usia 9 – 10 bulan, Maryam sudah mulai memperlihatkan “preference”nya terhadap orang-orang di sekitarnya. Turning pointnya adalah waktu malam-malam di rumah, kami bertiga (saya, Maryam, dan Aldi) sedang bermain boneka di kamar. Nah entah tiba-tiba waktu itu Maryam nangis dan marah waktu bonekanya ketindih saya dan Mas Aldi. Wew. Kami pikir waktu itu, bonekanya nggak boleh disentuh sama ayahnya. Eh ternyata eh ternyata, bukan nggak boleh disentuh ayahnya, melainkan nggak boleh dipegang sama saya. Ibunya. Hahah. Syeeediiiihhh…. Waktu itu, kejadiannya cukup bikin saya nangis bombay dan drama. Wakakak. Semacam jealous kenapa anak saya lebih milih bapaknya daripada saya. Ternyata emak-emak juga bisa jealous ketika si anak lebih dekat sama bapaknya. Hahah.

Saya sendiri tidak tahu kenapa begitu, perkiraan saya sih, karena memang Maryam relatif lebih banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya. Pagi setelah bangun tidur, saya lebih banyak berkutat dengan pekerjaan rumah dan memasak dan menyiapkan piranti kebutuhan Maryam. Apalagi waktu itu dia masih MP Asi dan belajar makan, jadi step by step makanan dan snacknya lebih banyak saya buat sendiri meskipun sesekali juga memakai makanan yg instant. Sesekali saja tapi jarang. Mulai dari makan pagi, siang sore, dan juga snack pagi sore. Belum lagi susu dkk-nya. Suami saya lebih banyak “handle” Maryam. Mulai dari ada waktu bangun tidur, dan mandiin Maryam sampai ganti baju. Terkadang juga menyuapi ketika sarapan. Sepulang kerja, saya juga terkadang masih berkutat dengan cucian, hehe. Nyetrika baju dan beberes yang lain. Alhasil, Maryam pun lebih sering main dengan ayahnya.

Mungkin karena itu, Maryam lebih dekat dengan ayahnya ketimbang saya. Awalnya saya memang jealous, sejealous-jealousnya. Tapi ya lama-lama terbiasa dan saya “maklumi”. Ditambah lagi, kata orang-orang, anak perempuan memang commonly lebih dekat dengan ayahnya. Okelah.

Nah suatu ketika, tepatnya bulan September lalu, saya harus pulang malam karena pekerjaan. Jam 9 lebih  saya baru sampai rumah. Pulang-pulang di rumah saya temui Maryam belum tidur. Dia memang biasa tidur malam sih, jam 10 – 11 an bahkan. Maryam menangis ketika saya pulang dan entah kenapa raut wajahnya sedih sekali. Bukan menangis karena minta mainannya, haus ingin minum susu, dsb. Bukan menangis seperti biasanya. Dia semacam menunjukkan emosi lain dari sekadar tangis batita. Dia seperti sedih dan marah. Sambil melihat saya dengan tatapan agak aneh, dia masih saja menangis dan tampak sangat sedih. Bukan marah teriak-teriak, tapi marah kecewa. Ah entahlah. Tatapannya semacam berkata, “Kenapa ibu baru pulang??? I was looking and waiting for you after all day long…” Saya pun jadi ikut berkaca-kaca. Saya peluk Maryam sambil saya meminta maaf karena baru pulang.

Sejak itu, saya jadi curious, jangan-jangan selama ini semacam protes kepada saya. Setiap perjalanan di mobil, hampir selalu dia hanya mau nempel sama ayahnya. Tidak mau saya peluk atau duduk dipangku. Setiap kali diminta cium saya, dia juga tidak mau, tapi selalu mau cium ayahnya. Saya sampai kangen. Kangen anak saya sendiri meskipun dia ada di sebelah saya.

Akhirnya beberapa waktu terakhir saya coba tes. Saya coba untuk mengantar dan menjemput Maryam di daycare. Atau setidaknya, kalau saya tidak bisa mengantar, saya pasti ikut menjemput Maryam di daycare. Entah kenapa ya, sejak saat itu, Maryam jadi lebih dekat dengan saya. Setidaknya dia tidak menolak saya pangku di mobil, bahkan sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Semarang/Jepara dia lebih banyak spent waktu dengan saya. Hanya sesekali saja minta dipangku ayahnya sambil menyetir. Dan saya pun sempat test case: selama beberapa hari saya tidak mengantar dan tidak juga menyemput Maryam. Dan hasilnya? Dia ngambek lagi sama saya. Apa-apa semuanya hanya mau dengan ayahnya. Mulai dari cebok, mandi, makan, bahkan duduk di mobil hanya mau dengan ayahnya. Lihat tv juga hanya mau sama ayahnya. Hahah. Sooo…jadi mungkin memang selama ini Maryam protes. Protes karena dia merasa kurang diperhatikan oleh ibunya. Maybe.

 

 
Leave a comment

Posted by on November 16, 2016 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: