RSS

Traveling with Baby #2: Singapore Trip

30 Nov

Ini tulisan kelanjutan dari blog post saya sebelumnya tentang Traveling with Baby. Agak telat update kali ya. Secara trip ini sudah dari akhir Mei 2016 lalu. Tapi tak apalah. Siapa tahu membantu mereka yang akan trip pertama kali membawa bayi.

Trip saya ke Singapore lalu lumayan seru, karena itu kali pertama membawa  Maryam trip overseas. Selain itu, karena pertama kali overseas trip sama Bapak, Ibu, Lala dan Dani, setelah sekian lama kami tidak jalan-jalan keluarga. Dulu sampai saat saya sudah kuliah dan kerja, kami sering jalan-jalan keluarga. Hampir setiap ada long weekend, pasti ada acara entah itu hanya ke Jogjakarta, atau ke Malang. Ke mana saja yang penting judulnya jalan-jalan sekeluarga. Ah, jadi kangen masa-masa itu.

Jujur sampai sekarang saya belum berani trip ke destinaasi non negara maju kalau membawa bayi. Thailand misalnya. Repotnya itu, bakalan berasa. Bukan isu repot saja sih. Kebersihan dan fasilitasnya selama trip itulah yang menjadi pertimbangan utama.

Nursery Room

Kalau menurut saya, Singapore itu sangat proper untuk wisata keluarga, terutama bagi para pembawa bayi. Semua fasilitas umumnya sangat memadai, mulai dari toilet, transportasi, tempat wisata, sampai infrastruktur jalan dan fasilitas lainnya. Toilet misalnya. Meskipun lebih dominan toilet kering, tapi tempatnya selalu bersih. Jadi karena kebanyakan toilet di sana adalah toilet kering, saya selalu membawa botol aqua untuk di toilet. Dan ini selalu saya lakukan setiap kali berkunjung ke Singapore (atau negara lain juga sih), jaga-jaga kalau toiletnya adalah toilet kering. Bagaimanapun, karena kami Muslim, kami tidak cukup hanya menggunakan toilet kering yang hanya disediakan tissue saja.🙂

Tak hanya itu, di manapun itu selalu mudah ditemukan Nursery Room. Nursery Roomnya pun sangat nyaman dan memadai, apalagi di lokasi-lokasi wisata. Selain menggunakan instalasi water heater, tersedia tempat untuk changing diaper dan bisa juga untuk mandiin Maryam. Heheh. Bahkan tersedia air panas untuk membuat susu. Ini saya temui di Singapore Zoo. Ketika di Gardens by The Bay, saya tidak sampai masuk ke Nursery Roomnya, jadi tidak bisa menuliskan reviewnya di sini. Tapi saya yakin tempatnya juga proper.

Transportasi & Infrastruktur

Trotoar di Singapore selalu menyediakan jalur untuk stroller dan para disabled persons. Jadi saat membawa stroller tak perlu banyak angkat-angkat stroller karena jalanan yang beda tinggi. Tak hanya itu, instalasi air bersih dijamin mudah diakses. Tap water (air kran) di Singapore juga mostly layak minum saking bersihnya. Transportasinya? Jangan tanya. Meskipun agak mahal memang, tapi relatif mudah dijangkau dan again, proper. Dari naik bis umum, subway, semua selalu menyediakan tempat khusus untuk disabled person dan juga ramah keluarga. Seat khusus orang tua yang membawa anak-anak hampir selalu terjamin ketersediaannya karena penggunanya tertib sesuai aturan. Jadi selama trip kemarin, overall semuanya jauh lebih mudah daripada perkiraan saya. Maryam bahkan lebih banyak jalan kaki daripada digendong, sehari dia bisa berjalan 1.5KM maybe kalau ditotal. She was very much excited karena di jalan-jalan banyak burung-burung dan sesekali ada juga kucing gembul nan lucu berkeliaran.

Selama di Singapore, saya menggunakan kombinasi bus, subway atau MRT, dan juga Uber dan taksi biasa.

Akomodasi

Singapore adalah negara yang sadar wisata. Jadi, saya pikir, meskipun hospitality di negara ini relatif tidak seperti di Indonesia (yang tipe hospitality-nya ramah dan tulus, haha), Singaporean mampu memperlakukan tamu dengan proper. Meskipun tinggal di hostel, host di hostel kami cukup helpful. Bahkan saya diijinkan membawa rice-cooker untuk masakin Maryam. Saya juga membawa bottle sterilizer dan itu SANGAT membantu. Mentok-mentok ketika stok makanan Maryam hampir habis, saya bisa membeli telur dan mengukusnya dengan bottle sterilizer. And it was perfectly OK. Saya kurang paham bagaimana jika di hotel. Tapi biasanya hotel akan cukup tegas untuk aturan ini (alias biasanya tidak diijinkan). Jadi menurut saya, memilih akomodasi apartemen atau hostel lebih preferable daripada stay di hotel biasa (hotel 1-3 star). Hotel bintang 4 atau 5 boleh lah, dengan catatan hospitality mereka cukup OK, seperti misalnya, mereka bersedia memasakkan makanan khusus untuk bayi, lebih bagus lagi kalau sesuai request. Terus terang saja, untuk hotel di Singapore saya tidak begitu yakin mereka mau. Saya pernah juga menginap di Sheraton Tower Singapore, yang per malamnya saja di atas 4 juta. Tapi hospitalitynya menurut saya nilainya 5.5. Heheh. So I would still recommend Airbnb appartment or hostel instead of common hotel.🙂

Oh ya, satu lagi. Microwave. Selama di hostel, saya sama sekali tidak menggunakan microwave hostel karena microwavenya bau daging babi. Padahal tadinya berharap bisa menghangatkan makanan pakai microwave hotel. Jadi makanan yang saya bawa untuk Maryam cukup dihangatkan dengan rice cooker saja.

Makanan dan Minuman

Sekali lagi, saya sendiri tidak bermasalah dengan makanan. Saya bisa makan apa saja selama itu halal. Dan di Singapore cukup banyak tempat makan halal. Di Orchard, biasanya saya makan di Foodcourt Orchard ION, hanya saya luma nama tempatnya. Di sana ada beberapa opsi, tapi menurut saya ada 1 “warung” yang tastenya cukup OK meskipun tetap ala-ala Chinese food. Tempat makan wajib yang harus saya kunjungi adalah Warung Kampong Glam yang letaknya dekat dengan Masjid Sultan. I think it’s still the best in town untuk rasa dan harga. Hampir semua menu yang pernah saya coba selalu enak, dengan menu pilihan masakan Indonesia dan Melayu. Ada modifikasi rasa tapi modifikasinya OK. Kampong Glam tidak pernah sepi pengunjung, bahkan waiting list over the weekend, dan buka dari pagi sampai dini hari.

Stroller

Hmm…Untuk stroller selama trip, ini wajib dibawa. Wajib pakai banget. Karena Maryam akan tidur di stroller saat kami jalan-jalan. Juga kalau sedang tidak dipakai Maryam, bisa untuk membawa tas dan perkakas Maryam, mulai dari makanan, botol, termos dan susu. Pilihan stroller saya akhirnya jatuh ke Pockit. Selain karena mudah sekali dilipat, strollernya juga cukup nyaman. Sayangnya stroller ini hanya bisa untuk 1 posisi, tidak bisa reclined (posisi tidur), dan spacenya tidak cukup luas. But that’s the trade off. Kalau mau stroller yang lebih nyaman, biasanya strollernya besar dan kurang handy. Karena saya cukup banyak perjalanan dengan kendaraan umum, jadilah menurut saya Pockit cukup mengakomodir kebutuhan. Selain itu harganya tidak terlalu mahal (sekitar 1,5 juta). Lagipula saat itu Maryam sudah cukup besar dan justru tidak mau jika pakai stroller dengan posisi tidur/ reclined.

Ok, menurut saya itu sih yang bisa saya share. Mungkin nanti akan share lagi tentang destinasinya ya.Tidak banyak karena hanya 3 hari 2 malam, but it’s Ok lah…🙂

Happy traveling!

 

 
Leave a comment

Posted by on November 30, 2016 in trip/traveling, Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: