RSS

Tips Belajar IELTS (Band Score: 7.5) Part 2

Di blog post sebelumnya saya sharing pengalaman saya dalam belajar IELTS, yang lebih fokus membahas mengenai sumber bahan bacaan dan belajar. Di bagian ini, saya akan lebih memfokuskan tentang bagaimana sistem belajar saya dalam mempersiapkan IELTS.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, persiapan tes IELTS saya dapat dibilang tidaklah lama, hanya 1,5 bulan saja. Saya anggap itu agak nekat karena saya sebelumnya sama sekali belum pernah “menyentuh” IELTS. Bahkan tipe-tipe soalnya seperti apa saja tidak tahu, karena sebelumnya saya hanya belajar TOEFL. Otomatis, di tes IELTS ini saya harus mempersiapkan tes dari dasar, ditambah lagi saya juga sudah lama tidak “menyentuh” buku-buku berbahasa Inggris dan semacamnya. Jadilah saya cukup kagok, termasuk harus mengulang materi-materi grammar dan tenses.

Atur Jadwal Belajar, dan Komitmen!

Karena saya juga bekerja office hour, maka saya hanya punya waktu di pagi hari (sebelum berangkat kerja), siang saat istirahat, serta malam sepulang kerja. Dalam 1,5 hingga 2 bulan terakhir saya mengatur jadwal sebagai berikut:

Pagi      : Writing dan Reading

Siang    : Online course dari Youtube, IELTS-simon, dsb.

Malam  : Listening dan Speaking

Ketika siang hari waktu istirahat, saya terkadang menggunakan waktu istirahat siang saya dengan browsing internet dan Youtube, karena di rumah saya tidak punya bandwidth melimpah, hehe. Jadilah saya memanfaatkan jaringan internet kantor saat istirahat untuk belajar.

Intinya saya membagi waktu sesuai kemampuan saya, dan juga sesuai dengan karakter section tes-nya. Misal, karena reading comprehension saya jelek, pada pagi hari saya lebih memilih writing dan reading karena ketika reading saya membutuhkan (paling) banyak konsentrasi dibandingkan dengan listening dan speaking. Saya lebih memilih speaking pada malam hari karena latihannya bisa lebih santai menjelang tidur, begitu juga listening yang sifatnya lebih “sedikit menghibur” dibandingkan dengan tipe section tes lainnya. Pembagian jadwal belajar per section ini membantu saya mengorganisir IELTS comprehension saya di semua section tes, agar hasilnya tidak terlalu timpang.

Membuat Daily Progress Report

Selain membagi jadwal belajar, saya juga membuat tabel yang isinya adalah progress report harian saya. Jadi di setiap harinya, saya selalu punya catatan: belajar tentang A di Listening Section, belajar tentang B di Writing Section, perkiraan band score per section saat latihan soal (dengan presentase soal yg saya jawab betul), serta latihan soal mana yang saya gunakan, misalnya Cambridge 3, Barron’s Practice 1, dan sebagainya. Hal ini membantu saya untuk melihat bagaimana pembagian waktu saya dalam belajar, serta capaian saya dalam belajar, apakah mengalami kenaikan, penurunan, atau stagnan. Terlampir contoh tabel yang saya pakai untuk daily progress report. Silakan dipakai jika dapat membantu 🙂 –> IELTS Progress – Ika

Berdoa

Percaya atau tidak, selalu ada X-factor yang membantu kita. Jadi berdoalah supaya usaha kita berkah dan ketika ada kesulitan, X-factor itu akan ada, hehehe. Sebenarnya saya kemarin pesimis apakah saya akan mencapai target band score saya. Pasalnya, ketika mengerjakan tes, saya merasa kurang teliti sehingga dalam mengisi jawaban kurang sesuai dengan instruksi. Kalau tidak salah, perintahnya cukup dengan mengisi huruf, A, B, C, D, dsb. Akan tetapi, saya malah mengisi dengan kata-kata yang menjadi jawabannya, misalnya “pilot”, “aisle”, dsb. Sehingga sepulang tes pun saya agak pasrah karena menganggap saya tidak mengikuti instruksi dalam menjawab soal. Ternyata eh ternyata, Reading Section saya mendapat band score 8.5! #jingkrakjingkrak

Sekian sharing saya tentang pengalaman belajar IELTS. Semoga bermanfaat dan selamat belajar!

🙂

 
3 Comments

Posted by on July 28, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , ,

Tips Belajar IELTS (Band Score: 7.5)

Bulan Desember 2014 lalu saya mengambil tes Academic IELTS pertama saya. Hasilnya? Alhamdulillah cukup memuaskan. Overall Band Score saya 7.5, dengan nilai Listening 6.5, Reading 8.5, Writing 7.0, dan Speaking 7.0. Cukuplah untuk mendaftar 50 besar universitas dunia, tapi perkara diterima atau tidaknya itu urusan nanti. hehehe.

Persiapan tes IELTS saya bisa dibilang tidak lama, hanya sekitar 1,5 bulan efektif. Persiapan itu benar-benar saya mulai dari NOL. Mulai dari saya membaca apa saja yang akan diujikan di IELTS, bagaimana tipe soalnya (yang sudah tentu berbeda dengan TOEFL), latihan reguler (tidak setiap hari), serta mempelajari tips-tipsnya.

Bahan Belajar: Barrons, Cambridge, IELTS Simon, dan Youtube

Bahan belajar saya ambil dari buku IELTS terbitan Barron’s, IELTS dari Cambridge (Edisi 1-9), website IELTS Simon (www.ielts-simon.com), dan Youtube. Semua materi tersebut tidak saya lahap semuanya. Hanya saya ambil parsial, karena jika dalam 1,5 harus melahap semua materi yang ada bagi saya kurang feasible mengingat saya juga bekerja office hour dan pada saat yang sama juga menyiapkan aplikasi beasiswa (tetapi belum lulus, hehe).

IELTS Barron’s vs IELTS Cambridge

Buku IELTS terbitan Barron’s lebih saya pakai untuk tambahan materi dasar, seperti beberapa style dalam mengucapkan nomor telepon, membuat kerangka writing, tips-tips mengerjakan soal, dan sebagainya. Sedangkan buku IELTS terbitan Cambridge saya fokuskan untuk latihan soal sehari-hari dalam semua section soal baik listening, reading, writing, dan speaking. Hal tersebut karena menurut teman-teman saya yang sudah mengikuti tes IELTS terlebih dahulu mengatakan bahwa tipe soal lebih mirip ke IELTS Cambridge daripada Barron’s. Buku IELTS Barron’s dapat diperoleh di toko buku dengan harga sekitar 500-600 ribu rupiah (saya lupa tepatnya).

IELTS Simon

Website http://www.ielts-simon.com ini sebenarnya adalah sejenis blog yang dimiliki oleh (mantan) examiner IELTS. Di website ini, kita bisa belajar tips-tips dalam mengerjakan IELTS, termasuk juga latihan soal yang disertakan contoh jawaban dan review-nya. Meskipun demikian, contoh jawaban tidak diberikan di waktu yang sama dengan pemberian soal sehingga kita seperti belajar dengan tutor. Materi di dalam website ini di-update hampir setiap hari. Beberapa waktu terakhir, pemilik website juga memberikan materi dalam bentuk video gratis dan berbayar. IELTS Simon ini banyak membantu saya dalam writing section. 

Youtube

What we cannot find on Youtube? Sepertinya semua ada di youtube. Mulai dari video cover lagu, cara membuat kue, sampai siaran TV BBC semuanya ada, termasuk juga materi belajar IELTS. Saya sendiri menggunakan youtube untuk belajar tips-tips IELTS, dan melihat beberapa contoh speaking section, dari yang score-nya jelek sampai yang bagus. Dari sana, saya bisa mengukur bagaimana kualitas speaking saya, dan juga memperkirakan bagaimana kira-kira speaking section berlangsung. Untuk writing, kita dapat menemukan video bagaimana cara menyusun struktur tulisan dan mengatur waktu ketika mengerjakan soal.

—–

to be continued…

 
2 Comments

Posted by on June 23, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , ,

A note of a working mom

I never thought that it was this uneasy to be a working mom. It’s not that you have wake up earlier than ever: to clean a breast-pump, feeding bottles, cook sometimes, wash clothes sometimes, and take care some other things at home. It’s also not about that I have less “me-time” to just take an hour or two watching films on Youtube, or cinema; or go to a shopping mall to sit and chat with a couple of close friends. It’s also not about that I have to wake in mid night to change a diaper or feed my baby.

It was the hardest thing to see your sweet, innocent, cheerful little daughter who has fallen asleep in your hugs, but soon within the next minutes you have you leave her at home, “alone”. And when it was my first day back to work after 3 months of maternity leave (meaning I have almost 3 months seeing my baby growing in her every minutes), I cried along the way to my office. And it just needs a minute or two to miss your little baby girl.

The thing is completely different. Five to ten years ago, I said to my self that I will be a mom who will be just able to leave my kids at home, to do some academic research here and there. Even if it takes for weeks, or months. And all will be ok. I was dreaming to be a lecturer and researcher at the time, and I saw one of my aunt was doing so and everything was just fine and great. But then, it turns to be completely wrong, just after I raise my own kid. I do not want–and will not be able–to leave my kids for all those things.

to be continued

 
Leave a comment

Posted by on May 28, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , , ,

Menangkap Pangsa Pasar Wisata Halal (Halal-friendly Tourism)

Beberapa minggu lalu saya mengikuti sebuah konferensi bernama World Islamic Tourism Conference (WITM) di Jakarta. Konferensi ini adalah konferensi ketiga, setelah dua tahun sebelumnya diadakan di Malaysia. Malaysia adalah negara penggagasnya. Dalam konferensi ini, pembicara berasal dari Malaysia, Jepang, dan juga Indonesia, tetapi lebih didominasi dari negara Malaysia.

Ini merupakan konferensi yang menarik, karena membahas tentang peluang pasar wisatawan muslim dan pertumbuhannya di dunia. Tidak seperti jenis wisatawan pada umumnya, wisatawan muslim merupakan wisatawan yang spesifik. Mereka memiliki banyak kebutuhan ketika berwisata, khususnya akses kepada makanan dan minuman halal. Ditambah lagi dengan akses tempat beribadah (meskipun hal ini bisa menjadi lebih fleksibel). Selain destinasi wisatanya sendiri, turis muslim biasanya akan mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan kemudahan aksesnya pada kebutuhan tersebut. Setidaknya itu yang saya rasakan sebagai muslim traveller ketika mengunjungi suatu destinasi wisata.

Kebutuhan mengenai akses makanan halal dan tempat ibadah masih relatif sederhana. Turis muslim timur tengah, terkadang malah memiliki requirements yang lebih jauh lagi. Mereka akan mencari destinasi yang memiliki akomodasi dengan kualifikasi tertentu, misalnya kolam renang yang terpisah antara laki-laki dan perempuan serta spa laki-laki dan perempuan (tidak hanya terapisnya tetapi juga ruangannya). Di Indonesia, setahu saya belum ada hotel atau resort yang melayani kebutuhan se-spesifik ini. Hotel atau resort sejenis ini banyak kita temui di Turki. Bahkan lebih jauh lagi, terkadang mereka sampai menyediakan akses pantai yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Akses pantai ini bisa dalam bentuk berlainan sisi (sehingga antara sisi satu dan lainnya tidak terlihat), atau resort dengan garis pantai yang saking panjangnya membuat area laki-laki dan perempuan hanya terlihat samar.

Dalam dunia marketing, pangsa pasar muslim traveller ini disebut dengan ceruk pasar, atau niche market. Sebuah pasar yang sangat spesifik, jumlahnya relatif tidak mendominasi, tetapi jika mau serius menekuninya akan berbuah manis karena biasanya tidak banyak pemain bisnis yang menggarapnya. Inilah pangsa pasar yang mulai dilirik oleh negara tetangga kita, Malaysia. Wisatawan muslim dari negara-negara timur tengah, Turki, Indonesia, dan lainnya, ternyata sangat menarik karena dalam beberapa tahun ke depan, jumlahnya dapat mencapai 13 persen dari total seluruh wisatawan dunia. Sebuah jumlah yang tidak sedikit. Malaysia, salah satunya melalui Islamic Tourism Center (ITC) yang didirikannya beberapa tahun lalu, mulai menggarap serius pasar ini. Dan hasilnya? Kini Malaysia mulai dikenal sebagai sebuah destinasi utama di Asia, yang menyediakan halal-friendly tourism products. 

Menariknya lagi, tak hanya Malaysia yang mulai menggarap pasar ini. Jika melihat lebih jauh, Hong Kong, Australia dan Jepang yang negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim, bahkan terlihat mulai memperhatikan niche market ini. Mereka memulainya dengan hal-hal sederhana, tapi menarik, misalnya dengan menyediakan informasi berupa daftar restaurant yang menyediakan makanan/minuman halal, serta alamat-alamat masjid di kota-kota tujuan wisata mereka. Jadwal solat 5 waktu juga terkadang disediakan. Semua itu disediakan dalam bentuk informasi digital yang bisa kita temukan di internet, dan juga media tercetak seperti flyer dan booklet panduan untuk wisatawan muslim. Penyedianya adalah langsung dari Tourism Authority negara tersebut. Negara-negara tersebut mengkampanyekan bahwa mereka adalah destinasi wisata yang halal-friendly. Hebat bukan?

Indonesia yang notabene merupakan negara penduduk muslim terbesar di dunia justru malah tidak lebih serius dalam menggarap pangsa pasar ini. Padahal potensinya sudah tidak perlu diragukan lagi. Untuk melakukannya pun relatif akan lebih mudah karena fasilitas sudah ada di mana-mana. Mencari makanan halal bukanlah hal yang sulit di Indonesia, begitu juga mencari tempat ibadah baik masjid maupun mushalla. Semua hanya tinggal tergantung dari bagaimana cara kita mengemasnya untuk lebih dikenal pangsa pasar terkait.

 
Leave a comment

Posted by on November 16, 2014 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , ,

Off the Beaten Path #Lombok: Loyok & Pringgasela

Entah sudah berapa kali saya ke Lombok. Tapi destinasi wisatanya belum saya “habiskan” karena sebagian besar waktu saya habiskan di Svarga Resort (www.svargaresort.com). Mulai dari Gili Trawangan yang tak boleh terlewat, lalu Gili Nanggu yang bikin kita merasa punya pulau sendiri, Sembalun–kaki Rinjani–yang ijo royo-royo, Senaru dan air terjun Sendang Gile, serta beberapa desa kerajinan yang jarang dijamah, pelan-pelan saya telusuri setiap kali saya ke Lombok.

Kunjungan terbaru saya ke Lombok, saya mengagendakan khusus mengunjungi desa kerajinan bambu bernama Loyok (di Lombok Timur), serta desa tenun bernama Pringgasela.

Desa Loyok – Pengrajin Bambu

Saya yakin tak banyak yang mengenal bahwa di Lombok terdapat kerajinan bambu. Saya juga demikian, tadinya. Sampai akhirnya, beberapa bulan yang lalu (November 2013) saya dan kedua rekan saya (Arichi & Mutia) mblasak-mblasak di desa antah berantah di Lombok Timur. Desa ini sekilas terlihat biasa saja, tidak ada istimewanya. Bahkan tidak terlihat seperti desa wisata. Tidak terlihat aktivitas spesifik merakit-rakit bambu menjadi lampu, tas, tudung saji, dkk. Dan saya pun bingung, kenapa desa ini katanya adalah pusat kerajinan bambu? Padahal tidak ada apa-apa di dalamnya.

Kami terus saja menyusur desa dengan mobil, sampai akhirnya, kami melihat sebuah artshop lusuh dan tua. Tidak cukup besar memang, tapi cukup mudah dikenali bahwa itu sebuah showroom. Kami pun turun dan memarkir mobil. Dan, you know what? Sudah lusuh, semua barangnya berdebu, dan tak ada penjaga! Helow, siapa yang mau beli kalau begini cara jualannya? #prihatin

Akhirnya kami bertemu ibu-ibu pemilik artshop. Setelah mengobrol panjang, akhirnya kami deal untuk meminta beliau membuat sampel beberapa barang orderan yang kami perlukan. Orderan kami pun jadi di luar ekspektasi kami: manis dan good looking.

Kami mengatakan demikian karena memang tidak berharap begitu banyak dengan hasilnya, mengingat untuk berkomunikasi dengan pengrajinnya saja kami harus menggunakan bahasa se-sederhana mungkin. Dan melihat barang-barang yang ada di artshop sudah kumal dan tidak terlihat menarik. Tapi kami pun tetap meminta ibu tersebut membuat sampel. Niatnya, kami ingin memakai produk lokal sehingga maksa blusukan ke desa. Orderan kami yang jumlahnya lumayan pun jadi sekitar 3 bulan.

April kemarin saya akhirnya ke Loyok lagi. Khusus untuk mengeksplor pengrajin di sana, bagaimana cara pembuatan kerajinan bambu itu, serta untuk memperoleh gambaran sekilas masyarakat lokal Loyok. Dan hasilnya sungguh menarik (kalau tidak mau dibilang memprihatinkan). 

Entah kenapa, saya melihat kehidupan pengrajin tradisional seringkali memprihatinkan. Padahal untuk membuat karya itu tidak mudah. Tapi harganya murah. Di Loyok, membuat kerajinan bambu hanyalah sebagai sambilan, dengan mata pencaharian utama bertani. Dalam sebulan, seorang pengrajin bambu (yang kebanyakan wanita), maksimal mungkin bisa mendapat hanya 600 ribu rupiah saja per bulan dari hasil menganyam bambu. Pengrajin bambu laki-laki pun saya kira tidak jauh berbeda. Itu pun jika mereka ramai orderan.

Usut punya usut, ternyata masalahnya adalah mereka tidak tahu “cara berjualan” hasil karya mereka. Modal untuk membuat satu kerajinan bambu, tas misalnya, hanya berkisar sekitar 3000 rupiah saja, tapi waktu yang dihabiskan? Bisa 2 hari! Dan tas itu dijual dengan harga 20.000 ribu saja. Murah sekali bukan? Itu adalah harga yang mereka jual ke pembeli langsung. Jika ke pengumpul, harganya tentu lebih murah. Maka tidak heran jika kemudian masyarakat beralih profesi dan pelan-pelan mulai meninggalkan skill kerajinan menganyam bambu ini.

Salah seorang pengrajin bercerita bahwa kerajinan bambu yang banyak dijual di Bali sebenarnya banyak diambil dari Loyok. Tapi turis tidak pernah mengenal Loyok. Mereka hanya mengenal Bali, sehingga kesempatan menjual langsung kepada pembeli memanglah tipis. Pembeli langsung mereka didominasi oleh para pengumpul yang kemudian dapat mematok harga lebih rendah jika dibandingkan dengan harga jual kepada konsumen langsung.

Desa Tenun: Pringgasela

Jika ingat desa tenun Lombok, tentu yg pertama muncul adalah Desa Sukarara. Ya, benar, Sukarara memang salah satu desa tenun di Lombok. Saya juga tidak mengenal desa tenun lain selain Sukarara pada awalnya, sampai kemudian saya ke Pringgasela.

Sekilas desa ini juga tampak seperti desa biasa pada umumnya, tidak tampak seperti desa penghasil kerajinan. Aktivitas masyarakat tampak “normal” saja. Toko-toko tenun hanya terlihat beberapa, dan itupun hanya toko kecil, atau koperasi.

Akhirnya saya berhenti di koperasi tenun Pringgasela. Saat memasuki koperasi, tak seorang pun tampak berjaga. Hanya tampak beberapa etalase kaca dan hanger tenun tradisional. Tumpukan kain tenun ada di dalamnya. Setelah tengok kanan kiri dan tetap sepi, akhirnya kami mengetuk pintu salah seorang rumah warga terdekat dari koperasi tersebut. Ternyata istrinya adalah salah seorang penenunnya.

Setelah kami melihat-lihat… woalla!!! Dengan menyesal saya jatuh cinta pada motif-motif tenunnya. Motif tenun di Pringgasela lebih elegan dibandingkan dengan tenun Sukarara. Semuanya tentu handmade. Ada tenun dengan motif modern, ada juga yang tradisional. Dan semuanya: classy! Cocok untuk dijual di butik. Selain motifnya yang menurut saya lebih bagus, hasil tenunnya juga lebih bagus, dengan harga lebih murah!!! Bisa setengah atau bahkan sepertiga dari harga kain di Sukarara dengan kualitas yang sama. *perlu dicatat!

Saya pun pulang dengan menenteng 2 scarf tenun handmade, yg benangnya bahkan dibuat dengan pintalan tangan, dan harganya? Cukup 50 ribu saja! *Barangkali bisa lebih murah, tapi saya tidak tega menawarnya. 😀

Saya bukan penggemar tenun tradisional (karena biasanya harganya mahal), tetapi kalau berburu tenun tradisional, lain kali lebih baik saya ke Pringgasela saja. 😀

—-

Foto-foto menyusul karena file saya hilang akibat smartphone rusak :((

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Business Trip vs Trip “Nggembel” Mahasiswa

Beberapa minggu lalu, saya sengaja ngumpul dengan Genk Mafia saya. Bukan apa-apa. Mafia adalah sahabat-sahabat saya yang berasal dari kalangan pemburu konferensi pemuda. Yang gratis, atau minimal yang kira-kira bisa disupport sponsor atau beasiswa pemerintah. Hehe. 

Iseng-iseng, tanpa sadar kami curcol masing-masing. Kehidupan kami, sedikit banyak sudah berubah. Masing-masing sudah bergelut dengan kesibukannya yang baru. Tak lagi berurusan dengan UTS, UAS, atau tugas kuliah, kecuali Zulfadhli yg sekarang back to campus: S2. Masing-masing dari kami, setidaknya sudah merasakan apa yang disebut dengan business trip

Anehnya, entah kenapa kami malah lebih menikmati ngetrip gembel ala mahasiswa dulu. Ada cerita, ada kenangan yang sampai hari ini tidak bosan kami bagi. #Halah. Rasanya, semua lebih berwarna meskipun kemana-mana jalan kaki. Kalau makan pun cari makanan yang paling murah. Kalau perlu bawa pop mie sebanyak-banyaknya! Wkwkwk. Air putih pun, isi aja dari kran-kran. Lebih baik jalan kaki berkilo-kilo daripada naik taksi. Kalau beli oleh-oleh, nawar semurah-murahnya, kalau perlu sambil kedip-kedipin mata ke yang jual. Hahaha. Ngeteng pesawat kalau perlu, selama itu lebih murah.

Beda sekali dengan trip dari kantor (tugas kantor). Meskipun semua tinggal issue, makan tinggal makan, jalan tinggal panggil taksi, tidur di yang kasurnya empuk, kami tak punya banyak oleh-oleh cerita. Semua berlalu begitu saja. Tak ada cerita pulang jam 2 pagi. Tak ada cerita tersesat. Tak ada cerita lucu-lucu di stasiun kereta dan halte bis. Tak ada juga foto-foto yang sampai 2 bulan kemudian masih penuh dengan “caci maki” komen-komen ketika trip. Semua terasa formal. 

Sesekali kami berseloroh, “Mungkin belum saatnya kita tidur di hotel bagus, makanya lebih suka nggembel jaman mahasiswa dulu…” haha. Ini bukan karena kami tidak bersyukur. Kami semua tentu sangat bersyukur atas kehidupan kami sekarang. Kami hanya berharap semoga masih ada kesempatan kami ngebolang seperti dulu lagi. Ramai-ramai. Mungkin efek ramai-ramai itulah yang membuat beda. Ah, jadi kangen ngegembel di negeri orang….

 
Leave a comment

Posted by on February 18, 2014 in Uncategorized

 

Hebohnya Maulid Nabi di Lombok

Sesuai judulnya, saya yang sudah berbulan-bulan tidak menulis blog ini, akan segera bertobat dengan menuliskan cerita saya selama Maulid di Lombok.

Well, sesuai judulnya, menurut saya Perayaan Maulid Nabi di Lombok cukup heboh. Tak cukup hanya pemerintah RI mewarnainya dengan warna merah, alias libur nasional. Di Lombok, Maulid nabi tak kalah heboh dengan Lebaran di Jawa.

Beginilah khas Maulid di Lombok: masak besar seperti orang punya gawe, mengundang sanak famili dan teman-teman. Semacam open house. Dan kita yg diundang, cukup datang, duduk, basa-basi sebentar, keluarlah hidangan, makanlah kitaaa… haha. Hidangannya bermacam-macam, mulai dari gulai ayam, daging (sejenis rendang), makanan ringan, buah, dll. Tergantung si empunya rumah. Yang mampu bahkan sampai menyembelih sapi. Jika perlu, diadakan arisan sekampung dan digilir, siapa tahun ini yg dapat arisan sapi. Haha.

Bagi orang Lombok, Maulid ini adalah bulan perbaikan gizi. Bagaimana tidak? Selama sebulan penuh, setiap harinya akan ada undangan makan-makan. Cukup datang, duduk, makan, pulang. Datang, duduk, makan. Begitu semuanya. Hari ini Desa A, besok Desa C, besoknya lagi desa F. Begitu seterusnya. Kalau ada beberapa teman di satu kampung, maka bersiaplah maraton makan-makan di desa tersebut. Hehe.Dalam sesorean sampai malam, saya bisa menghadiri 3 undangan Maulid. Alamat pulang-pulang ke Depok bobot saya naik 2kg. Haha. Yang lebih parah lagi, teman saya cerita kalau sesorean sampai malam dia menghadiri 6 (e.n.a.m) undangan Maulid! E buset, perut apa karet???

Itulah wujud “semakin banyak teman, semakin banyak rizqi”. Haha. Makanya banyak-banyak teman/ menjalin silaturahmi (kalau di Lombok), biar banyak rizqi (a.k.a diundang Maulid). 😀

Selain undangan makan, di masjid-masjid juga ada perlombaan, mulai dari tilawah, adzan, qosidahan, dan semacamnya. Belum lagi acara lomba lainnya (non agamis) mirip lomba tujuh belasan seperti panjat pinang. Hadiahnya? Mulai dari kaos bola sampai kecap botolan, semua ada.

Kenyangnya Maulid di Lombok. Semoga tahun depan bisa Maulid di Lombok lagi ya Allah. Amiiinnn…

 

Senggigi, 18 Feb 2014

 

Tags: , ,