RSS

Instagram: The Power of 3m Followers

Welcome to social media marketing, fellas! 

Saya sebenarnya bukan bukan marketing geek, tetapi saya baru saja menemukan fakta menarik tentang social media marketing di instagram. Baru-baru ini, project yang saya handle (Svarga Resort Lombok, http://www.svargaresort.com) baru saja dikunjungi oleh instaseleb: Dian Pelangi, yang memiliki 3 juta followers. Siapa tak tahu Dian Pelangi? Desainer muda berbakat yang menyasar segmen market fashion muslim ini bahkan sudah cukup rajin fashion show di kancah internasional: New York, Paris, Milan, London, dll.

Dian Pelangi di Svarga Resort Lombok

Dian Pelangi ketika menginap di Svarga Resort Lombok

Apa fakta yang saya temukan? Sejak Dian mengunggah foto pertamanya di Svarga, Follower akun instagram Svarga Resort Lombok, yang tadinya hanya berkisar 600-an, setelahnya langsung kebanjiran follower. Hampir setiap detik di dua hari pertama kunjungan Dian Pelangi, ada saja notifikasi follower baru. Belum lagi, satu foto yang diunggah oleh Dian, dalam kisaran waktu hanya 1 jam, langsung mendapat belasan ribu Likes. Belasan ribu! Bayangkan, apa kabar kalau yang datang Raisa ya??? hehehe. Dan hasilnya, hingga hari ini saya menulis tulisan ini, follower Svarga sudah mencapai 2144 followers. Naik lebih dari 3X lipat followers sebelumnya. Menarik, bukan?

Sebelumnya, Svarga pernah juga didatangi oleh beberapa public figures, misalnya Alvin Adam (Pembawa Acara Just Alvin), Nina Tamam (Personil grup musik WARNA), Ria Miranda, dan juga Lisa Namuri (instruktur yoga privat dan juga brand ambassador brand fenomenal, Wardah). Sejauh ini, follower mereka memang masih kalah banyak dengan Dian Pelangi, sehingga “imbas” kedatangan Dian Pelangi ini terasa cukup berbeda dan signifikan.

Pantas saja, sekarang ini banyak sekali produk barang dan jasa yang kemudian berbondong-bondong berburu endorsement para public figure. Lihat saja hadiah-hadiah yang diterima oleh Raffi-Gigi dan diupload di instagram pasca kelahiran anak mereka. Atau, coba amati beberapa public figure lainnya, dan bagaimana mereka “mention” dan “show off” produk yang mereka gunakan. Mereka tak hanya menyebutkan merek produk, tetapi juga menunjukkan mengapa mereka menyukai produk tersebut, keunggulannya, dll. Ternyata, ini kuncinya: social media marketing!

Awalnya, saya sendiri tak menyangka bahwa efek dari social media marketing itu akan cukup besar. Ternyata, memang dunia pemasaran telah memiliki babak baru yang mungkin belum banyak ditulis di buku-buku teks konvensional. Saya sendiri telah melihat hasilnya. 🙂

Well, again, welcome to new marketing world, fellass!

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 4, 2015 in Uncategorized

 

5 Tempat Wedding Outdoor di Jakarta

Beberapa hari lalu saya sempat keliling-keliling di beberapa venue yang biasa digunakan untuk garden party di Jakarta. Mulai dari yang berada di lokasi yang sangat mudah diakses di sekitaran Jakarta Selatan, hingga ke tempat yang agak “ngumpet” di Jakarta Timur. Rata-rata tempat yang saya kunjungi bergaya tradisional Jawa, namun ada juga yang modern minimalis. Berikut tempat-tempat yang saya kunjungi di sekitaran Jakarta yang bisa dijadikan referensi untuk mereka yang sedang mencari tempat untuk acara pernikahan.

Plataran Cilandak

Plataran Cilandak terletak di dekat Jalan Jagakarsa, tepatnya di Jalan Durian. Tempat ini sangat luas (2,5 Ha), dan memiliki area parkir tersendiri yang cukup memadai bagi tamu-tamu. Desain area agak mirip seperti resort-resort di area pintu masuk, dengan desain bangunan bernuansa Jawa – Bali. Plataran Cilandak memiliki pool kira-kira berukuran 7×15 meter, dikelilingi taman berumput dan beberapa Joglo di sekitarnya. Selain Joglo dan Pool side Garden, sesuai dengan namanya, tempat ini juga memiliki “plataran” yang tidak kalah luas dengan area poolside-nya. Area plataran ini biasanya digunakan untuk mereka yang mengadakan acara dengan Live Music. Terdapat panggung di area plataran ini. Selain itu, Plataran Cilandak memiliki 1 rumah joglo yang bisa digunakan oleh pengantin dan keluarganya untuk beristirahat/keperluan rias, serta 1 rumah joglo berukuran lebih kecil yang bisa digunakan untuk “markas” panitia. Kapasitas yang disarankan pengelola adalah 600-800 pax, dengan harga sewa Rp 55.000.000 untuk seluruh area yang sudah termasuk dengan valet parking, dan tidak termasuk dengan catering, dekorasi, dll. Website: http://plataranjakarta.com/cilandak

Omah Pawon/ Pawon Jawa (Restaurant)

Omah Pawon dulunya bernama Pawon Jawa. Tempat ini merupakan restaurant yang berada di tepi jalan Ampera, sekitar 200 meter dari lampu merah Jalan TB Simatupang/Ampera. Seiring berjalannya waktu, restoran Omah Pawon memperluas areanya untuk area Wedding, dengan 1 buah Joglo ukuran medium (biasanya untuk area pelaminan), dan 1 joglo kecil untuk live music dengan area poolside. Catering “harus” dari Omah Pawon. Jika catering berasal dari luar Omah Pawon, maka akan dikenakan charge tambahan sebesar 30%, begitu juga jika penyewa menggunakan vendor di luar rekanan Omah Pawon. Harga Sewa mulai dari Rp 12.500.000 jika digunakan untuk acara pernikahan (sewa tempatnya saja). Untuk acara garden party selain pernikahan, maka tidak dikenakan harga sewa, dan hanya dihitung biaya makanan per pax-nya minimal Rp 125.000, dengan minimal pemesaran 50 pax.

Rumah Sarwono

Rumah Sarwono memiliki lokasi yang cukup strategis di tepi Jalan Raya Pasar Minggu, tepatnya di seberang Carrefour Jalan Raya Pasar Minggu. Areanya cukup luas, dengan desain bangunan bergaya tradisional Jawa yang terdiri atas 2 joglo (besar dan kecil), 1 rumah Jawa, 1 area serbaguna, serta area taman yang cukup luas. Rumah Sarwono dapat menampung hingga 1500 pax, dapat disewa seluruh area atau hanya setengahnya saja, dengan biaya sewa per 7 jam. Harga sewa untuk seluruh area Rp 25.000.000 per 7 jam. CP Bapak Donny: donnyguy69@gmail.com

Rumah Saya

Rumah Saya berada dalam satu grup dengan Rumah Sarwono. Akan tetapi, lokasinya tidak se-strategis Rumah Sarwono, dengan luas area yang juga lebih kecil. Kapasitas Rumah Saya sekitar 600 pax, dengan fasilitas 1 Rumah Joglo, 1 Kamar Tidur, 1 Mushola, dan 2 taman di bagian depan dan samping rumah joglo. Harga sewa Rp 20.000.000 untuk seluruh area. Lokasi berada di Gang Arab, tidak jauh dari Rumah Sarwono. CP: Ibu Siska 0816789060

Azila Villa

Azila Villa berada tepat di depan PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) di Cipayung, Jakarta Timur. Desain bangunan bergaya modern minimalis, dengan poolside garden area, lobby, 1 kamar tidur utama, 6 kamar tidur, VIP Room, Pantry, Pool, Docking Area, dan Multifunction Hall. Azila Villa baru dibuka bulan Agustus 2015, dengan harga Sewa mulai dari Rp 9.500.000 untuk sewa seluruh area dan sudah termasuk dengan valet parking. Untuk sementara, tidak ada charge tambahan untuk catering, dekorasi, EO, dll. Cocok untuk digunakan sebagai tempat garden party, dengan kapasitas maksimal 500 pax. Di dalamnya juga banyak spot yang bisa digunakan untuk foto pre-wedding. Azila Villa ini bisa juga disewa hanya setengah area atau hanya untuk foto prewedding saja. Oh ya, Azila Villa baru dibuka sehingga area-area “kritis” seperti kamar mandi dan Mushola-nya lebih bersih daripada tempat lainnya. Email: azilavillajakarta@gmail.com

*Foto menyusul 😀

 
1 Comment

Posted by on August 18, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

A Note of A Working Mom #2

So today’s Maryam’s second day at her Daycare (Childcare). And yes, of course, yesterday was her first. Nanny-less days have come and the episode of morning-crying-along-the-way-to-office starts again. I said, it is this (unexpectedly) uneasy of leaving my daughter “alone”, even more at a Daycare, with some nannies I have just known for the last few days. But it is my and my husband’s choice of giving a trust at a Daycare. At least, there won’t be TV-series-without-value (sinetron–in Indonesia) she’ll going to watch during at the Daycare. And by then, as she growing, we hope that she’ll be more sociable than if she “just” staying at home with her “only” nanny.

She looked sad when I picked her up after around 4 hours staying at the Daycare. I knew she was looking for me and her dad. And when she woke up from her nap, she did not find either me or her dad. 😥

Though I’m starting to think of giving up my “formal” job. A bit. But it’s not that easy. I will only give up my job as I start pursuing my master degree, and start over something bigger after my master study. And that’s keeping me to be motivated to stay at the office a bit “longer”. This is what I chose. And all must have its trade-off. I chose to make my career as running my family life, so that I have to let some of my time not seeing my daughter at least half of my day. And this is how I train my self, that someday she’ll step her feet and see others, not to share her whole lifetime with only me, and that I have to let her run her own life.

 
Leave a comment

Posted by on August 5, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , ,

Tips Belajar IELTS (Band Score: 7.5) Part 2

Di blog post sebelumnya saya sharing pengalaman saya dalam belajar IELTS, yang lebih fokus membahas mengenai sumber bahan bacaan dan belajar. Di bagian ini, saya akan lebih memfokuskan tentang bagaimana sistem belajar saya dalam mempersiapkan IELTS.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, persiapan tes IELTS saya dapat dibilang tidaklah lama, hanya 1,5 bulan saja. Saya anggap itu agak nekat karena saya sebelumnya sama sekali belum pernah “menyentuh” IELTS. Bahkan tipe-tipe soalnya seperti apa saja tidak tahu, karena sebelumnya saya hanya belajar TOEFL. Otomatis, di tes IELTS ini saya harus mempersiapkan tes dari dasar, ditambah lagi saya juga sudah lama tidak “menyentuh” buku-buku berbahasa Inggris dan semacamnya. Jadilah saya cukup kagok, termasuk harus mengulang materi-materi grammar dan tenses.

Atur Jadwal Belajar, dan Komitmen!

Karena saya juga bekerja office hour, maka saya hanya punya waktu di pagi hari (sebelum berangkat kerja), siang saat istirahat, serta malam sepulang kerja. Dalam 1,5 hingga 2 bulan terakhir saya mengatur jadwal sebagai berikut:

Pagi      : Writing dan Reading

Siang    : Online course dari Youtube, IELTS-simon, dsb.

Malam  : Listening dan Speaking

Ketika siang hari waktu istirahat, saya terkadang menggunakan waktu istirahat siang saya dengan browsing internet dan Youtube, karena di rumah saya tidak punya bandwidth melimpah, hehe. Jadilah saya memanfaatkan jaringan internet kantor saat istirahat untuk belajar.

Intinya saya membagi waktu sesuai kemampuan saya, dan juga sesuai dengan karakter section tes-nya. Misal, karena reading comprehension saya jelek, pada pagi hari saya lebih memilih writing dan reading karena ketika reading saya membutuhkan (paling) banyak konsentrasi dibandingkan dengan listening dan speaking. Saya lebih memilih speaking pada malam hari karena latihannya bisa lebih santai menjelang tidur, begitu juga listening yang sifatnya lebih “sedikit menghibur” dibandingkan dengan tipe section tes lainnya. Pembagian jadwal belajar per section ini membantu saya mengorganisir IELTS comprehension saya di semua section tes, agar hasilnya tidak terlalu timpang.

Membuat Daily Progress Report

Selain membagi jadwal belajar, saya juga membuat tabel yang isinya adalah progress report harian saya. Jadi di setiap harinya, saya selalu punya catatan: belajar tentang A di Listening Section, belajar tentang B di Writing Section, perkiraan band score per section saat latihan soal (dengan presentase soal yg saya jawab betul), serta latihan soal mana yang saya gunakan, misalnya Cambridge 3, Barron’s Practice 1, dan sebagainya. Hal ini membantu saya untuk melihat bagaimana pembagian waktu saya dalam belajar, serta capaian saya dalam belajar, apakah mengalami kenaikan, penurunan, atau stagnan. Terlampir contoh tabel yang saya pakai untuk daily progress report. Silakan dipakai jika dapat membantu 🙂 –> IELTS Progress – Ika

Berdoa

Percaya atau tidak, selalu ada X-factor yang membantu kita. Jadi berdoalah supaya usaha kita berkah dan ketika ada kesulitan, X-factor itu akan ada, hehehe. Sebenarnya saya kemarin pesimis apakah saya akan mencapai target band score saya. Pasalnya, ketika mengerjakan tes, saya merasa kurang teliti sehingga dalam mengisi jawaban kurang sesuai dengan instruksi. Kalau tidak salah, perintahnya cukup dengan mengisi huruf, A, B, C, D, dsb. Akan tetapi, saya malah mengisi dengan kata-kata yang menjadi jawabannya, misalnya “pilot”, “aisle”, dsb. Sehingga sepulang tes pun saya agak pasrah karena menganggap saya tidak mengikuti instruksi dalam menjawab soal. Ternyata eh ternyata, Reading Section saya mendapat band score 8.5! #jingkrakjingkrak

Sekian sharing saya tentang pengalaman belajar IELTS. Semoga bermanfaat dan selamat belajar!

🙂

 
3 Comments

Posted by on July 28, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , ,

Tips Belajar IELTS (Band Score: 7.5)

Bulan Desember 2014 lalu saya mengambil tes Academic IELTS pertama saya. Hasilnya? Alhamdulillah cukup memuaskan. Overall Band Score saya 7.5, dengan nilai Listening 6.5, Reading 8.5, Writing 7.0, dan Speaking 7.0. Cukuplah untuk mendaftar 50 besar universitas dunia, tapi perkara diterima atau tidaknya itu urusan nanti. hehehe.

Persiapan tes IELTS saya bisa dibilang tidak lama, hanya sekitar 1,5 bulan efektif. Persiapan itu benar-benar saya mulai dari NOL. Mulai dari saya membaca apa saja yang akan diujikan di IELTS, bagaimana tipe soalnya (yang sudah tentu berbeda dengan TOEFL), latihan reguler (tidak setiap hari), serta mempelajari tips-tipsnya.

Bahan Belajar: Barrons, Cambridge, IELTS Simon, dan Youtube

Bahan belajar saya ambil dari buku IELTS terbitan Barron’s, IELTS dari Cambridge (Edisi 1-9), website IELTS Simon (www.ielts-simon.com), dan Youtube. Semua materi tersebut tidak saya lahap semuanya. Hanya saya ambil parsial, karena jika dalam 1,5 harus melahap semua materi yang ada bagi saya kurang feasible mengingat saya juga bekerja office hour dan pada saat yang sama juga menyiapkan aplikasi beasiswa (tetapi belum lulus, hehe).

IELTS Barron’s vs IELTS Cambridge

Buku IELTS terbitan Barron’s lebih saya pakai untuk tambahan materi dasar, seperti beberapa style dalam mengucapkan nomor telepon, membuat kerangka writing, tips-tips mengerjakan soal, dan sebagainya. Sedangkan buku IELTS terbitan Cambridge saya fokuskan untuk latihan soal sehari-hari dalam semua section soal baik listening, reading, writing, dan speaking. Hal tersebut karena menurut teman-teman saya yang sudah mengikuti tes IELTS terlebih dahulu mengatakan bahwa tipe soal lebih mirip ke IELTS Cambridge daripada Barron’s. Buku IELTS Barron’s dapat diperoleh di toko buku dengan harga sekitar 500-600 ribu rupiah (saya lupa tepatnya).

IELTS Simon

Website http://www.ielts-simon.com ini sebenarnya adalah sejenis blog yang dimiliki oleh (mantan) examiner IELTS. Di website ini, kita bisa belajar tips-tips dalam mengerjakan IELTS, termasuk juga latihan soal yang disertakan contoh jawaban dan review-nya. Meskipun demikian, contoh jawaban tidak diberikan di waktu yang sama dengan pemberian soal sehingga kita seperti belajar dengan tutor. Materi di dalam website ini di-update hampir setiap hari. Beberapa waktu terakhir, pemilik website juga memberikan materi dalam bentuk video gratis dan berbayar. IELTS Simon ini banyak membantu saya dalam writing section. 

Youtube

What we cannot find on Youtube? Sepertinya semua ada di youtube. Mulai dari video cover lagu, cara membuat kue, sampai siaran TV BBC semuanya ada, termasuk juga materi belajar IELTS. Saya sendiri menggunakan youtube untuk belajar tips-tips IELTS, dan melihat beberapa contoh speaking section, dari yang score-nya jelek sampai yang bagus. Dari sana, saya bisa mengukur bagaimana kualitas speaking saya, dan juga memperkirakan bagaimana kira-kira speaking section berlangsung. Untuk writing, kita dapat menemukan video bagaimana cara menyusun struktur tulisan dan mengatur waktu ketika mengerjakan soal.

—–

to be continued…

 
2 Comments

Posted by on June 23, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , ,

A note of a working mom

I never thought that it was this uneasy to be a working mom. It’s not that you have wake up earlier than ever: to clean a breast-pump, feeding bottles, cook sometimes, wash clothes sometimes, and take care some other things at home. It’s also not about that I have less “me-time” to just take an hour or two watching films on Youtube, or cinema; or go to a shopping mall to sit and chat with a couple of close friends. It’s also not about that I have to wake in mid night to change a diaper or feed my baby.

It was the hardest thing to see your sweet, innocent, cheerful little daughter who has fallen asleep in your hugs, but soon within the next minutes you have you leave her at home, “alone”. And when it was my first day back to work after 3 months of maternity leave (meaning I have almost 3 months seeing my baby growing in her every minutes), I cried along the way to my office. And it just needs a minute or two to miss your little baby girl.

The thing is completely different. Five to ten years ago, I said to my self that I will be a mom who will be just able to leave my kids at home, to do some academic research here and there. Even if it takes for weeks, or months. And all will be ok. I was dreaming to be a lecturer and researcher at the time, and I saw one of my aunt was doing so and everything was just fine and great. But then, it turns to be completely wrong, just after I raise my own kid. I do not want–and will not be able–to leave my kids for all those things.

to be continued

 
Leave a comment

Posted by on May 28, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , , ,

Menangkap Pangsa Pasar Wisata Halal (Halal-friendly Tourism)

Beberapa minggu lalu saya mengikuti sebuah konferensi bernama World Islamic Tourism Conference (WITM) di Jakarta. Konferensi ini adalah konferensi ketiga, setelah dua tahun sebelumnya diadakan di Malaysia. Malaysia adalah negara penggagasnya. Dalam konferensi ini, pembicara berasal dari Malaysia, Jepang, dan juga Indonesia, tetapi lebih didominasi dari negara Malaysia.

Ini merupakan konferensi yang menarik, karena membahas tentang peluang pasar wisatawan muslim dan pertumbuhannya di dunia. Tidak seperti jenis wisatawan pada umumnya, wisatawan muslim merupakan wisatawan yang spesifik. Mereka memiliki banyak kebutuhan ketika berwisata, khususnya akses kepada makanan dan minuman halal. Ditambah lagi dengan akses tempat beribadah (meskipun hal ini bisa menjadi lebih fleksibel). Selain destinasi wisatanya sendiri, turis muslim biasanya akan mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengan kemudahan aksesnya pada kebutuhan tersebut. Setidaknya itu yang saya rasakan sebagai muslim traveller ketika mengunjungi suatu destinasi wisata.

Kebutuhan mengenai akses makanan halal dan tempat ibadah masih relatif sederhana. Turis muslim timur tengah, terkadang malah memiliki requirements yang lebih jauh lagi. Mereka akan mencari destinasi yang memiliki akomodasi dengan kualifikasi tertentu, misalnya kolam renang yang terpisah antara laki-laki dan perempuan serta spa laki-laki dan perempuan (tidak hanya terapisnya tetapi juga ruangannya). Di Indonesia, setahu saya belum ada hotel atau resort yang melayani kebutuhan se-spesifik ini. Hotel atau resort sejenis ini banyak kita temui di Turki. Bahkan lebih jauh lagi, terkadang mereka sampai menyediakan akses pantai yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Akses pantai ini bisa dalam bentuk berlainan sisi (sehingga antara sisi satu dan lainnya tidak terlihat), atau resort dengan garis pantai yang saking panjangnya membuat area laki-laki dan perempuan hanya terlihat samar.

Dalam dunia marketing, pangsa pasar muslim traveller ini disebut dengan ceruk pasar, atau niche market. Sebuah pasar yang sangat spesifik, jumlahnya relatif tidak mendominasi, tetapi jika mau serius menekuninya akan berbuah manis karena biasanya tidak banyak pemain bisnis yang menggarapnya. Inilah pangsa pasar yang mulai dilirik oleh negara tetangga kita, Malaysia. Wisatawan muslim dari negara-negara timur tengah, Turki, Indonesia, dan lainnya, ternyata sangat menarik karena dalam beberapa tahun ke depan, jumlahnya dapat mencapai 13 persen dari total seluruh wisatawan dunia. Sebuah jumlah yang tidak sedikit. Malaysia, salah satunya melalui Islamic Tourism Center (ITC) yang didirikannya beberapa tahun lalu, mulai menggarap serius pasar ini. Dan hasilnya? Kini Malaysia mulai dikenal sebagai sebuah destinasi utama di Asia, yang menyediakan halal-friendly tourism products. 

Menariknya lagi, tak hanya Malaysia yang mulai menggarap pasar ini. Jika melihat lebih jauh, Hong Kong, Australia dan Jepang yang negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim, bahkan terlihat mulai memperhatikan niche market ini. Mereka memulainya dengan hal-hal sederhana, tapi menarik, misalnya dengan menyediakan informasi berupa daftar restaurant yang menyediakan makanan/minuman halal, serta alamat-alamat masjid di kota-kota tujuan wisata mereka. Jadwal solat 5 waktu juga terkadang disediakan. Semua itu disediakan dalam bentuk informasi digital yang bisa kita temukan di internet, dan juga media tercetak seperti flyer dan booklet panduan untuk wisatawan muslim. Penyedianya adalah langsung dari Tourism Authority negara tersebut. Negara-negara tersebut mengkampanyekan bahwa mereka adalah destinasi wisata yang halal-friendly. Hebat bukan?

Indonesia yang notabene merupakan negara penduduk muslim terbesar di dunia justru malah tidak lebih serius dalam menggarap pangsa pasar ini. Padahal potensinya sudah tidak perlu diragukan lagi. Untuk melakukannya pun relatif akan lebih mudah karena fasilitas sudah ada di mana-mana. Mencari makanan halal bukanlah hal yang sulit di Indonesia, begitu juga mencari tempat ibadah baik masjid maupun mushalla. Semua hanya tinggal tergantung dari bagaimana cara kita mengemasnya untuk lebih dikenal pangsa pasar terkait.

 
Leave a comment

Posted by on November 16, 2014 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , ,