RSS

Tag Archives: Bangkok

Pariwisata Kita: Belajar dari Singapore dan Thailand

Setiap kali membaca tulisan Trinity di buku Naked Traveler, saya seperti diingatkan pada mimpi saya yang lain: kelak punya restoran, resort, travel agent. Intinya bergerak di sektor pariwisata.

Entahlah, rasanya aneh saja. Apa yang aneh? Saya juga tidak tahu. Saya pernah bilang, bahwa saya ingin punya restoran, yang lebih cantik dari The Hills: restoran paling perfect yang pernah saya datangi (terlepas dari dengan siapa saya makan di sana, hehe), yang terletak di atas bukit Gombel di Semarang itu. Atau, sky dinning di mana pun itu, yang terkenal mahal, meskipun tidak semuanya benar-benar mahal–katanya. The Hills juga mahal sebenarnya. Sekali makan, per kepala taruhlah 100-150 ribu untuk sajian berupa main course (makanan utama), minuman, dan dessert (“s”nya dua ya, kalau “desert” s-nya satu artinya gurun pasir, *mengingatkan diri sendiri, hehehe). Tapi dengan tempatnya yang sangat cozy, pelayanan yang sangat baik, serta kualitas masakannya, 100-150 ribu itu worth enough, meskipun untuk orang seperti saya yang tak hobi makan. Sejak itu, saya, dalam hati, selalu punya mimpi baru: tak apa jadi ibu rumah tangga saja, tapi mengelola restoran minimal semacam The Hills, hehehe.

Mimpi lain adalah punya resort. Yah, sebenarnya intinya sih pengen bekerja di sektor tourism alias pariwisata. Karena, saya miris dengan resort-resort yang ada di Indonesia, yang sepertinya didominasi oleh kepemilikan orang asing. Kita, orang pribumi, tetap saja jadi “babu” di negeri sendiri. Padahal, potensi pariwisata Indonesia itu luar biasa. Saya pikir, kita bahkan akan bisa “hidup”, meskipun dari sektor pariwisata saja, kalau saja mau benar-benar serius mengembangkannya.

Tilik saja Singapore. Negeri seuprit itu, yang sebenarnya (kalau menurut saya) tak punya daya tarik apa-apa compare to Indonesia, bisa bergantung sedemikian besar dari sektor pariwisatanya. CBS bahkan memberitakan data pariwisata Singapore pada tahun 2010, bahwa 49% pendapatan Singapore berasal dari pariwisatanya. Jumlah turis yang berkunjung berjumlah 11,8juta orang, dimana 80% turis berasal dari Asia yang didominasi oleh orang Indonesia!

Saya mengambil sisi positifnya saja: belajar bagaimana negara-negara semacam Singapore mampu menarik turis 11,8juta setahun dengan daya tarik yang itu-itu saja, sedangkan Indonesia hanya menarik 7 juta turis dalam setahun. Coba kita bertanya, mengapa orang rela datang ke Singapore lalu dengan bangga foto di Patung Singa di Merlion Park, yang sebenarnya cuma begitu saja. Seolah tak afdhol kalau ke Singapore tak foto di Merlion Park. Atau mengapa Singapore bisa membuat hutan mangrove-nya di Pulau Ubin, sehingga orang rela membayar sekitar 500ribu rupiah untuk kayaking di hutan mangrovenya yang lagi-lagi cuma seuprit itu.

Ternyata Singapore mengemas kayaking mangrovenya dengan apik: perlengkapan yang lengkap berupa kayak (semacam perahu) beserta dayung, dengan perlengkapan keamanan personal semacam helm, pelampung, dll yang sesuai dengan standar. Ditambah guide atau instruktur juga.

Kenapa kita tidak bisa (atau belum bisa) seperti itu? Padahal Indonesia punya hutan mangrove terluas di dunia (19%), dengan biodiversitas tertinggi pula. Tapi boro-boro membuat orang mau kayaking dengan membayar 500ribu. Membayar 50ribu untuk wisata mangrove saja orang ogah.

Selain itu, coba kita tengok bagaimana Singapore dan Thailand “memperlakukan” turis bahkan dari sejak mereka menginjakkan kaki di bandara.

Di Singapore, ketika menginjakkan kaki ke bandaranya saja, kita sudah merasa nyaman. Jangan bandingkan Changi dengan bandara Soetta. Di Changi, ngampar di bandara pun nyaman dan menyenangkan: ada kursi pijat gratis, air minum (tap water)gratis, bandara full AC dan berkarpet, dan musholanya pun sangat nyaman, lebih nyaman daripada mushola bandara Soetta. Bahkan, ada layanan tour Singapore gratis yang disediakan oleh bandara, seandainya kita memiliki waktu transit cukup lama, setidaknya 6 jam. Tak hanya itu, ada juga pusat informasi pariwisata yang sangat helpful. Peta dan informasi wisata pun tersedia gratis dan ada di berbagai sudut bandara.

Edwin dipijat sm kursi pijat @Changi Airport

Di satu sudut bandara, mereka juga menyediakan satu meja besar dengan berbagai “cetakan” icon Singapore, beserta krayon warna-warni, dan kertas gambar. Di situ kita bisa mendapat gambar goresan krayon yang bermacam-macam, hanya dengan meletakkan kertas di cetakan dengan gambar tertentu, lalu menggoresnya dengan krayon. Anak-anak, tua, muda pun asyik menggambar berbagai icon Singapore ketika sedang transit menunggu penerbangan berikutnya. Menurut saya, itu adalah salah satu cara kreatif untuk membuat pengunjung tidak bosan. Dengan pelayanan seperti itu, sebagai turis saya sendiri merasa sangat nyaman dan dimanjakan.

Killing time - Drawing at Changi Airport

Atau, tengok saja bandara Svarnabhumi – Bangkok. Ketika pertama kali menjejakkan kaki di bandara, kita sudah langsung disambut Tourism Information desk ketika akan keluar bandara. Mereka bertanya apa kita sudah punya penginapan, tahu bagaimana ke sana, sudah ada yang jemput atau belum dan lain-lain. Jika menjawab belum, mereka pada umumnya akan menawarkan paket tur, hotel, rental mobil, dll. Jika mengatakan tak berminat atau sudah booking, mereka akan “mundur” dengan ramah, sambil menawarkan peta Bangkok, gratis, siapa tahu kita membutuhkan.

Itulah wajah keramahan wisata Thailand dan Singapore yang coba mereka wujudkan dengan pelayanan ekstra-nya, bahkan sejak kali pertama kita menginjakkan kaki di bandara mereka.

Bisakah kita bandingkan dengan Bandara Soetta-yang sama-sama terletak di ibukota negara? Sayangnya jawabnya tidak. Bandara kita, yang merupakan salah satu pintu gerbang turis, terlalu “dingin” dalam memperlakukan turis sebagai tamu. Kita bahkan tak punya tourist information booth, atau office, dan semacamnya untuk membantu para traveler. Tak ada juga peta wisata gratis yang menyambut di rak-rak bandara. Toiletnya pun seringkali kotor dan sesekali becek, dengan sabunnya yang habis, atau tempat tisu toilet yang kosong.

Lalu, kapankah kita akan benar-benar serius membenahi pariwisata sendiri? Haruskah selalu orang-orang asing itu yang memiliki resort dengan standar internasional, sedangkan “orang kita” kebanyakan hanya mampu menyediakan homestay-homestay dengan fasilitas seadanya itu?

Setidaknya itulah yang akhir-akhir ini mengusik pikiran saya untuk terjun di dunia tourism. Jujur, setidaknya itu membuat saya merasa lebih bisa “hidup” untuk banyak orang, ketimbang menjadi akademisi, meneliti ini itu, yang hasil penelitiannya kemudian entah ditumpuk di mana dan untuk apa, atau melakukan kegiatan proyek pengabdian masyarakat yang dalam prosesnya seringkali terhenti begitu saja begitu dananya habis.

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on December 1, 2011 in Uncategorized

 

Tags: , ,