RSS

Category Archives: Wonderful Indonesia

Off the Beaten Path #Lombok: Loyok & Pringgasela

Entah sudah berapa kali saya ke Lombok. Tapi destinasi wisatanya belum saya “habiskan” karena sebagian besar waktu saya habiskan di Svarga Resort (www.svargaresort.com). Mulai dari Gili Trawangan yang tak boleh terlewat, lalu Gili Nanggu yang bikin kita merasa punya pulau sendiri, Sembalun–kaki Rinjani–yang ijo royo-royo, Senaru dan air terjun Sendang Gile, serta beberapa desa kerajinan yang jarang dijamah, pelan-pelan saya telusuri setiap kali saya ke Lombok.

Kunjungan terbaru saya ke Lombok, saya mengagendakan khusus mengunjungi desa kerajinan bambu bernama Loyok (di Lombok Timur), serta desa tenun bernama Pringgasela.

Desa Loyok – Pengrajin Bambu

Saya yakin tak banyak yang mengenal bahwa di Lombok terdapat kerajinan bambu. Saya juga demikian, tadinya. Sampai akhirnya, beberapa bulan yang lalu (November 2013) saya dan kedua rekan saya (Arichi & Mutia) mblasak-mblasak di desa antah berantah di Lombok Timur. Desa ini sekilas terlihat biasa saja, tidak ada istimewanya. Bahkan tidak terlihat seperti desa wisata. Tidak terlihat aktivitas spesifik merakit-rakit bambu menjadi lampu, tas, tudung saji, dkk. Dan saya pun bingung, kenapa desa ini katanya adalah pusat kerajinan bambu? Padahal tidak ada apa-apa di dalamnya.

Kami terus saja menyusur desa dengan mobil, sampai akhirnya, kami melihat sebuah artshop lusuh dan tua. Tidak cukup besar memang, tapi cukup mudah dikenali bahwa itu sebuah showroom. Kami pun turun dan memarkir mobil. Dan, you know what? Sudah lusuh, semua barangnya berdebu, dan tak ada penjaga! Helow, siapa yang mau beli kalau begini cara jualannya? #prihatin

Akhirnya kami bertemu ibu-ibu pemilik artshop. Setelah mengobrol panjang, akhirnya kami deal untuk meminta beliau membuat sampel beberapa barang orderan yang kami perlukan. Orderan kami pun jadi di luar ekspektasi kami: manis dan good looking.

Kami mengatakan demikian karena memang tidak berharap begitu banyak dengan hasilnya, mengingat untuk berkomunikasi dengan pengrajinnya saja kami harus menggunakan bahasa se-sederhana mungkin. Dan melihat barang-barang yang ada di artshop sudah kumal dan tidak terlihat menarik. Tapi kami pun tetap meminta ibu tersebut membuat sampel. Niatnya, kami ingin memakai produk lokal sehingga maksa blusukan ke desa. Orderan kami yang jumlahnya lumayan pun jadi sekitar 3 bulan.

April kemarin saya akhirnya ke Loyok lagi. Khusus untuk mengeksplor pengrajin di sana, bagaimana cara pembuatan kerajinan bambu itu, serta untuk memperoleh gambaran sekilas masyarakat lokal Loyok. Dan hasilnya sungguh menarik (kalau tidak mau dibilang memprihatinkan). 

Entah kenapa, saya melihat kehidupan pengrajin tradisional seringkali memprihatinkan. Padahal untuk membuat karya itu tidak mudah. Tapi harganya murah. Di Loyok, membuat kerajinan bambu hanyalah sebagai sambilan, dengan mata pencaharian utama bertani. Dalam sebulan, seorang pengrajin bambu (yang kebanyakan wanita), maksimal mungkin bisa mendapat hanya 600 ribu rupiah saja per bulan dari hasil menganyam bambu. Pengrajin bambu laki-laki pun saya kira tidak jauh berbeda. Itu pun jika mereka ramai orderan.

Usut punya usut, ternyata masalahnya adalah mereka tidak tahu “cara berjualan” hasil karya mereka. Modal untuk membuat satu kerajinan bambu, tas misalnya, hanya berkisar sekitar 3000 rupiah saja, tapi waktu yang dihabiskan? Bisa 2 hari! Dan tas itu dijual dengan harga 20.000 ribu saja. Murah sekali bukan? Itu adalah harga yang mereka jual ke pembeli langsung. Jika ke pengumpul, harganya tentu lebih murah. Maka tidak heran jika kemudian masyarakat beralih profesi dan pelan-pelan mulai meninggalkan skill kerajinan menganyam bambu ini.

Salah seorang pengrajin bercerita bahwa kerajinan bambu yang banyak dijual di Bali sebenarnya banyak diambil dari Loyok. Tapi turis tidak pernah mengenal Loyok. Mereka hanya mengenal Bali, sehingga kesempatan menjual langsung kepada pembeli memanglah tipis. Pembeli langsung mereka didominasi oleh para pengumpul yang kemudian dapat mematok harga lebih rendah jika dibandingkan dengan harga jual kepada konsumen langsung.

Desa Tenun: Pringgasela

Jika ingat desa tenun Lombok, tentu yg pertama muncul adalah Desa Sukarara. Ya, benar, Sukarara memang salah satu desa tenun di Lombok. Saya juga tidak mengenal desa tenun lain selain Sukarara pada awalnya, sampai kemudian saya ke Pringgasela.

Sekilas desa ini juga tampak seperti desa biasa pada umumnya, tidak tampak seperti desa penghasil kerajinan. Aktivitas masyarakat tampak “normal” saja. Toko-toko tenun hanya terlihat beberapa, dan itupun hanya toko kecil, atau koperasi.

Akhirnya saya berhenti di koperasi tenun Pringgasela. Saat memasuki koperasi, tak seorang pun tampak berjaga. Hanya tampak beberapa etalase kaca dan hanger tenun tradisional. Tumpukan kain tenun ada di dalamnya. Setelah tengok kanan kiri dan tetap sepi, akhirnya kami mengetuk pintu salah seorang rumah warga terdekat dari koperasi tersebut. Ternyata istrinya adalah salah seorang penenunnya.

Setelah kami melihat-lihat… woalla!!! Dengan menyesal saya jatuh cinta pada motif-motif tenunnya. Motif tenun di Pringgasela lebih elegan dibandingkan dengan tenun Sukarara. Semuanya tentu handmade. Ada tenun dengan motif modern, ada juga yang tradisional. Dan semuanya: classy! Cocok untuk dijual di butik. Selain motifnya yang menurut saya lebih bagus, hasil tenunnya juga lebih bagus, dengan harga lebih murah!!! Bisa setengah atau bahkan sepertiga dari harga kain di Sukarara dengan kualitas yang sama. *perlu dicatat!

Saya pun pulang dengan menenteng 2 scarf tenun handmade, yg benangnya bahkan dibuat dengan pintalan tangan, dan harganya? Cukup 50 ribu saja! *Barangkali bisa lebih murah, tapi saya tidak tega menawarnya. 😀

Saya bukan penggemar tenun tradisional (karena biasanya harganya mahal), tetapi kalau berburu tenun tradisional, lain kali lebih baik saya ke Pringgasela saja. 😀

—-

Foto-foto menyusul karena file saya hilang akibat smartphone rusak :((

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Keindahan Tak Terpoles: Gili Nanggu

Image

Pemandangan siang hari di Gili Nanggu

Pernah menginap di private island?

Kalau belum pernah, cobalah sekali-kali. Rasanya seru! Yang jelas serasa jadi ratu/raja di pulau sendiri. hehe. Saya mampir ke Nanggu awal Desember lalu. Ditambah lagi, saat itu yang menginap hanya kami ber-empat: saya, om saya, om saya, dan om saya (maklum, hidup saya dikelilingi om-om), haha.

Sejak berkunjung ke Pulau Nanggu, saya jadi sering iseng, cari berapa sih rate kalau menginap di resort yang berada di private island? Ternyata oh ternyata, harganya nggilani. Rata-rata semalam minimal 500an USD alias lima juta-an. Ada juga sih yang harganya “cuma” 150an USD, tapi jarang. Kalau yang mahal, semalam ada yang sampai 200-jutaan bahkan lebih. Belum lagi kalau nginepnya nge-blok sepulau. Cari tahu aja sendiri. Hehehe.

Image

Salah satu kepiting yang kami temukan di tepi pantai. FYI, kepiting ini sudah mati, hanya tinggal cangkangnya yang cantik.

Nah, kalau yang belum pernah, bisa coba ke Gili Nanggu. Pulau yang sempat gempar karena diisukan dijual ke pihak asing ini hanya punya satu akomodasi. Namanya Gili Nanggu Cottage & Bungalows. Unit kamarnya pun tak sampai 20 buah. Dan lagi, yang jelas penginapannya tak sekelas resort atau hotel. Fasilitasnya sangat basic, karena pemiliknya memang tak bertujuan untuk mencari dollar dari penginapannya. Hanya cukup bertujuan supaya pulau ini terawat saja. Makanya dibuatlah cottage dan bungalow di dalamnya. Jangan berharap ada air panas, karena listrik terbatas (dari genset). Akan tetapi, suplai air tawar aman karena ada pipa langsung yang berasal dari mainland, yaitu Lombok.

Image

Pantai berkarang di salah satu pantai di Nanggu

Saya hanya menginap semalam di Nanggu. Tapi semuanya cukup menyenangkan. The island  is too beautiful, thus any basic facilities are more than enough. Saya pikir tamu yang mencari keindahan alam, bertujuan untuk escape, tak akan komplain apapun tentang Nanggu. Karena seperti yang saya bilang: the island is too beautiful!

Image

Pantai dengan pemandangan perbukitan yang hijau dan diselingi siluet anak-anak Rinjani

Ketika di sana, saya muterin pulau 360 derajat, and that was wonderful! Seolah-olah saya seperti disuguhi slideshow berbagai pemandangan. Pesona Nanggu benar-benar lengkap. Pantai cantik dengan gradasi air sebening kristal, toska, biru muda, dan biru gelap. Di sekelilingnya adalah pemandangan perbukitan Lombok, hijau dan siluet silih berganti. Mau cari pantai jenis apapun ada: yang pasirnya putih bersih, pantai pasir merica, pantai berkarang, hingga pasir hitam yang sparkling. Pasir mericanya pun ada dua jenis: golden grainy sands dan yang berwarna pink agak orange. Superb!

Jika mau snorkling, cukup 10 meter dari bibir pantai, maka ikan dan karang warna-warni sudah menjamur. Belum lagi ikannya “ramah”. Kalau kita pelototin, kadang mereka cuma balik melototin kita, sesekali mundur malu-malu, lalu melototin kita lagi. hehe. Bahkan waktu saya sekadar gerak-gerakin jari tangan, mereka bukannya lari tapi malah ramai mendekat. Dikiranya saya bawa roti, tapi setelah beberapa lama mereka sadar kalau saya tak bawa roti, jadilah mereka cuek setelah tahu saya cuma “ngibul” nggak bagi-bagi roti. Hehe

(To be continued…)

Cerita tentang Nanggu masih berlanjut. Will be posted soon 🙂

 

Highlights of Tourism in Indonesia

In the last 3 consecutive years, the number of international inbound tourist in Indonesia was increasing: 6,8 millions (2009), 7 millions (2010), and 7,6 millions (2011). The number is projected will be still growing for the upcoming years. This year, in January to May 2012, tourism in Indonesia even shows excellent results, indicating that Indonesia tourism continues to grow well with a growth rate of 8.8% (1). That is beyond the growth projection of Asia & the Pacific (4-6%), and even more than twice if comparing to the average of world’s tourism growth projected by the UN World Tourism Organization (UNWTO), which is only 3-4% (2).

In Indonesia, beauty is simply everywhere, starting from under and above the water, pristine culture to the buzz of metropolitan city of Jakarta and around. Without a doubt, by saying we comprise more than 17,500 islands, with over 700 local tribes & 400 local languages, we can simply agree to Lonely Planet writer that saying “It is everything for everyone, a choose-your-own-travel destination…”. (3) Historically strong, we have Borobudur as one of the biggest Buddhist Temple Compounds in the world, Prambanan Hindus Temple for its incomparable beauty, and other numerous reminiscences of dated period (4).

Nowadays, Indonesia yet becomes a choice destination for seekers of the outdoors, water sports, gastronomic delights, and spa (5)Bali itself still currently becomes the main destination in Indonesia. It is, even much more popular than the country it belongs. People visit and re-visit Bali more and more not only because of its white sandy beaches, sun and sunbathing activities, lake, river, paddy fields and so forth. People would love to come and re-visit Bali because it has more than just natural charms. The reason why Bali can be magical destination for tourist is because of the lifestyle of indulgent Balinese people, with its eclectic culture, and arts. Like no other, it strongly holds idyllic character: tropical island, Hindu & Bali are prettily inseparable as a whole.

So does Bali, other Indonesian Islands also have it own characteristics. One of them is Lombok, the one that we choose as our pilot project in spreading our wings to hospitality and tourism industry. Here, unlike Bali which has well-developed, filled with bunch of tourists annually, Lombok offers more natural yet quiet tropical ambiance.  As sister island of Bali, less number of high-end quality resorts & hotels, growing number of business & leisure travelers, and government’s support in developing Lombok as a new main destination outside Bali make this emerging travel destination worth for a new business development.

There’s still other opportunity offered by tourism in Indonesia. Along with the government, authorities are now attempting to develop a new tourism segment by developing a “retirement” concept for experienced “gray” traveler. It’s a concept which trying to accommodate a relatively mature and experienced community to not only travel in a longer period of stay (up to 6 months), but also to both experience and explore the existing culture and locality of the destination area. They can stay in villa, and will be accompanied by nurse, driver, and maid (6). Seven villages in Bali are currently being developed for receiving this new tourism concept and to be thriving retirement destinations (7).

It is a strong and potential market for Bali, but unlike in Thailand, this new market previously has not been facilitated in serious manner by the government & private sectors. The development of such concept will not damage the existing tourism market. Moreover, it will increase the employment opportunities. In Thailand, it’s estimated that the daily spending of the gray tourist is around USD 75-100. Seeing the amount, the spending level might seen lower than the “common” tourist. But by considering longer period of stay, the amount of the profit can be greater than the income gained from ordinary tourists (8).

References:

(1) Tourism Minister Confident of Tourism Prospects 2012 [http://travelbuck.net/read/2234/tourism-minister-confident-of-tourism-prospects-2012-2012/, accessed: 10 October 2012]

(2) International tourism: projection full year 2012, World Tourism Organization (UNWTO), 2012.

(3) Lonely Planet Indonesia, on “Getting Started” [http://www.lonelyplanet.com/shop_pickandmix/free_chapters/indonesia-9-getting-started.pdf, accessed: 10 October 2012]

(4) UNESCO. Borobudur Temple Compounds. [http://whc.unesco.org/en/list/592, accessed: 10 October 2012]

(5) Visa Survey: Indonesia Faces Bright Tourism Prospects. [http://indonesia.travel/en/news/detail/596/visa-survey-indonesia-faces-bright-tourism-prospects, accessed: 10 October 2012]

(6) Bali Discovery Tours. Bali Tourism Expert Underlines Potential of Senior Citizen Travel to Bali. [http://www.balidiscovery.com/messages/message.asp?ID=8696, accessed: 10 October 2012]

(7) Bali Discovery Tours. Bali Appoints Special Authority to Deal with Retirees. [http://www.balidiscovery.com/messages/message.asp?ID=8693, accessed: 10 October 2012].