RSS

Monthly Archives: November 2016

Traveling with Baby #2: Singapore Trip

Ini tulisan kelanjutan dari blog post saya sebelumnya tentang Traveling with Baby. Agak telat update kali ya. Secara trip ini sudah dari akhir Mei 2016 lalu. Tapi tak apalah. Siapa tahu membantu mereka yang akan trip pertama kali membawa bayi.

Trip saya ke Singapore lalu lumayan seru, karena itu kali pertama membawa  Maryam trip overseas. Selain itu, karena pertama kali overseas trip sama Bapak, Ibu, Lala dan Dani, setelah sekian lama kami tidak jalan-jalan keluarga. Dulu sampai saat saya sudah kuliah dan kerja, kami sering jalan-jalan keluarga. Hampir setiap ada long weekend, pasti ada acara entah itu hanya ke Jogjakarta, atau ke Malang. Ke mana saja yang penting judulnya jalan-jalan sekeluarga. Ah, jadi kangen masa-masa itu.

Jujur sampai sekarang saya belum berani trip ke destinaasi non negara maju kalau membawa bayi. Thailand misalnya. Repotnya itu, bakalan berasa. Bukan isu repot saja sih. Kebersihan dan fasilitasnya selama trip itulah yang menjadi pertimbangan utama.

Nursery Room

Kalau menurut saya, Singapore itu sangat proper untuk wisata keluarga, terutama bagi para pembawa bayi. Semua fasilitas umumnya sangat memadai, mulai dari toilet, transportasi, tempat wisata, sampai infrastruktur jalan dan fasilitas lainnya. Toilet misalnya. Meskipun lebih dominan toilet kering, tapi tempatnya selalu bersih. Jadi karena kebanyakan toilet di sana adalah toilet kering, saya selalu membawa botol aqua untuk di toilet. Dan ini selalu saya lakukan setiap kali berkunjung ke Singapore (atau negara lain juga sih), jaga-jaga kalau toiletnya adalah toilet kering. Bagaimanapun, karena kami Muslim, kami tidak cukup hanya menggunakan toilet kering yang hanya disediakan tissue saja. 🙂

Tak hanya itu, di manapun itu selalu mudah ditemukan Nursery Room. Nursery Roomnya pun sangat nyaman dan memadai, apalagi di lokasi-lokasi wisata. Selain menggunakan instalasi water heater, tersedia tempat untuk changing diaper dan bisa juga untuk mandiin Maryam. Heheh. Bahkan tersedia air panas untuk membuat susu. Ini saya temui di Singapore Zoo. Ketika di Gardens by The Bay, saya tidak sampai masuk ke Nursery Roomnya, jadi tidak bisa menuliskan reviewnya di sini. Tapi saya yakin tempatnya juga proper.

Transportasi & Infrastruktur

Trotoar di Singapore selalu menyediakan jalur untuk stroller dan para disabled persons. Jadi saat membawa stroller tak perlu banyak angkat-angkat stroller karena jalanan yang beda tinggi. Tak hanya itu, instalasi air bersih dijamin mudah diakses. Tap water (air kran) di Singapore juga mostly layak minum saking bersihnya. Transportasinya? Jangan tanya. Meskipun agak mahal memang, tapi relatif mudah dijangkau dan again, proper. Dari naik bis umum, subway, semua selalu menyediakan tempat khusus untuk disabled person dan juga ramah keluarga. Seat khusus orang tua yang membawa anak-anak hampir selalu terjamin ketersediaannya karena penggunanya tertib sesuai aturan. Jadi selama trip kemarin, overall semuanya jauh lebih mudah daripada perkiraan saya. Maryam bahkan lebih banyak jalan kaki daripada digendong, sehari dia bisa berjalan 1.5KM maybe kalau ditotal. She was very much excited karena di jalan-jalan banyak burung-burung dan sesekali ada juga kucing gembul nan lucu berkeliaran.

Selama di Singapore, saya menggunakan kombinasi bus, subway atau MRT, dan juga Uber dan taksi biasa.

Akomodasi

Singapore adalah negara yang sadar wisata. Jadi, saya pikir, meskipun hospitality di negara ini relatif tidak seperti di Indonesia (yang tipe hospitality-nya ramah dan tulus, haha), Singaporean mampu memperlakukan tamu dengan proper. Meskipun tinggal di hostel, host di hostel kami cukup helpful. Bahkan saya diijinkan membawa rice-cooker untuk masakin Maryam. Saya juga membawa bottle sterilizer dan itu SANGAT membantu. Mentok-mentok ketika stok makanan Maryam hampir habis, saya bisa membeli telur dan mengukusnya dengan bottle sterilizer. And it was perfectly OK. Saya kurang paham bagaimana jika di hotel. Tapi biasanya hotel akan cukup tegas untuk aturan ini (alias biasanya tidak diijinkan). Jadi menurut saya, memilih akomodasi apartemen atau hostel lebih preferable daripada stay di hotel biasa (hotel 1-3 star). Hotel bintang 4 atau 5 boleh lah, dengan catatan hospitality mereka cukup OK, seperti misalnya, mereka bersedia memasakkan makanan khusus untuk bayi, lebih bagus lagi kalau sesuai request. Terus terang saja, untuk hotel di Singapore saya tidak begitu yakin mereka mau. Saya pernah juga menginap di Sheraton Tower Singapore, yang per malamnya saja di atas 4 juta. Tapi hospitalitynya menurut saya nilainya 5.5. Heheh. So I would still recommend Airbnb appartment or hostel instead of common hotel. 🙂

Oh ya, satu lagi. Microwave. Selama di hostel, saya sama sekali tidak menggunakan microwave hostel karena microwavenya bau daging babi. Padahal tadinya berharap bisa menghangatkan makanan pakai microwave hotel. Jadi makanan yang saya bawa untuk Maryam cukup dihangatkan dengan rice cooker saja.

Makanan dan Minuman

Sekali lagi, saya sendiri tidak bermasalah dengan makanan. Saya bisa makan apa saja selama itu halal. Dan di Singapore cukup banyak tempat makan halal. Di Orchard, biasanya saya makan di Foodcourt Orchard ION, hanya saya luma nama tempatnya. Di sana ada beberapa opsi, tapi menurut saya ada 1 “warung” yang tastenya cukup OK meskipun tetap ala-ala Chinese food. Tempat makan wajib yang harus saya kunjungi adalah Warung Kampong Glam yang letaknya dekat dengan Masjid Sultan. I think it’s still the best in town untuk rasa dan harga. Hampir semua menu yang pernah saya coba selalu enak, dengan menu pilihan masakan Indonesia dan Melayu. Ada modifikasi rasa tapi modifikasinya OK. Kampong Glam tidak pernah sepi pengunjung, bahkan waiting list over the weekend, dan buka dari pagi sampai dini hari.

Stroller

Hmm…Untuk stroller selama trip, ini wajib dibawa. Wajib pakai banget. Karena Maryam akan tidur di stroller saat kami jalan-jalan. Juga kalau sedang tidak dipakai Maryam, bisa untuk membawa tas dan perkakas Maryam, mulai dari makanan, botol, termos dan susu. Pilihan stroller saya akhirnya jatuh ke Pockit. Selain karena mudah sekali dilipat, strollernya juga cukup nyaman. Sayangnya stroller ini hanya bisa untuk 1 posisi, tidak bisa reclined (posisi tidur), dan spacenya tidak cukup luas. But that’s the trade off. Kalau mau stroller yang lebih nyaman, biasanya strollernya besar dan kurang handy. Karena saya cukup banyak perjalanan dengan kendaraan umum, jadilah menurut saya Pockit cukup mengakomodir kebutuhan. Selain itu harganya tidak terlalu mahal (sekitar 1,5 juta). Lagipula saat itu Maryam sudah cukup besar dan justru tidak mau jika pakai stroller dengan posisi tidur/ reclined.

Ok, menurut saya itu sih yang bisa saya share. Mungkin nanti akan share lagi tentang destinasinya ya.Tidak banyak karena hanya 3 hari 2 malam, but it’s Ok lah… 🙂

Happy traveling!

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 30, 2016 in trip/traveling, Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Note of A Working Mom #3

Fiuh, lama ya tak update blog. Sebenarnya banyak yang mau ditulis, tapi begitu waktu menginjak jam 5 sore, lebih pengen segera jemput Maryam di daycare daripada nulis blog. hehe. Mau nulis tengah malam juga mager kalau udah ngelonin Maryam. Jadi apa boleh buat? 😀

Kali ini saya ingin cerita sedikit tentang “emosi” Maryam. Hahah. Saya baru tahu nih kalau ternyata bayi juga bisa ngambek dengan cara khusus. Beneran ngambek. Dan saya menyadari kalau anak saya, Maryam, ngambek beberapa minggu lalu, setelah sekian lamaaaa…

Jadi begini ceritanya. Sejak Maryam di daycare, memang seringkali ayahnya yang antar dan jemput Maryam. Biasanya kami berangkat bersama, lalu saya turun di jalan, dan suami lanjut mengantar Maryam. Maklum karena suami saya waktunya lebih fleksibel, jadilah seringkali dia yang mengantar dan menjemput Maryam. Setelah itu, pas lewat kantor saya, saya ikut sekalian. Maryam dititip ke daycare mulai umur sekitar 6 bulan. Kecuali kalau ayahnya sedang di luar kota, barulah saya mengantar dan menjemput Maryam.

Ketika Maryam kira-kira mulai menginjak usia 9 – 10 bulan, Maryam sudah mulai memperlihatkan “preference”nya terhadap orang-orang di sekitarnya. Turning pointnya adalah waktu malam-malam di rumah, kami bertiga (saya, Maryam, dan Aldi) sedang bermain boneka di kamar. Nah entah tiba-tiba waktu itu Maryam nangis dan marah waktu bonekanya ketindih saya dan Mas Aldi. Wew. Kami pikir waktu itu, bonekanya nggak boleh disentuh sama ayahnya. Eh ternyata eh ternyata, bukan nggak boleh disentuh ayahnya, melainkan nggak boleh dipegang sama saya. Ibunya. Hahah. Syeeediiiihhh…. Waktu itu, kejadiannya cukup bikin saya nangis bombay dan drama. Wakakak. Semacam jealous kenapa anak saya lebih milih bapaknya daripada saya. Ternyata emak-emak juga bisa jealous ketika si anak lebih dekat sama bapaknya. Hahah.

Saya sendiri tidak tahu kenapa begitu, perkiraan saya sih, karena memang Maryam relatif lebih banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya. Pagi setelah bangun tidur, saya lebih banyak berkutat dengan pekerjaan rumah dan memasak dan menyiapkan piranti kebutuhan Maryam. Apalagi waktu itu dia masih MP Asi dan belajar makan, jadi step by step makanan dan snacknya lebih banyak saya buat sendiri meskipun sesekali juga memakai makanan yg instant. Sesekali saja tapi jarang. Mulai dari makan pagi, siang sore, dan juga snack pagi sore. Belum lagi susu dkk-nya. Suami saya lebih banyak “handle” Maryam. Mulai dari ada waktu bangun tidur, dan mandiin Maryam sampai ganti baju. Terkadang juga menyuapi ketika sarapan. Sepulang kerja, saya juga terkadang masih berkutat dengan cucian, hehe. Nyetrika baju dan beberes yang lain. Alhasil, Maryam pun lebih sering main dengan ayahnya.

Mungkin karena itu, Maryam lebih dekat dengan ayahnya ketimbang saya. Awalnya saya memang jealous, sejealous-jealousnya. Tapi ya lama-lama terbiasa dan saya “maklumi”. Ditambah lagi, kata orang-orang, anak perempuan memang commonly lebih dekat dengan ayahnya. Okelah.

Nah suatu ketika, tepatnya bulan September lalu, saya harus pulang malam karena pekerjaan. Jam 9 lebih  saya baru sampai rumah. Pulang-pulang di rumah saya temui Maryam belum tidur. Dia memang biasa tidur malam sih, jam 10 – 11 an bahkan. Maryam menangis ketika saya pulang dan entah kenapa raut wajahnya sedih sekali. Bukan menangis karena minta mainannya, haus ingin minum susu, dsb. Bukan menangis seperti biasanya. Dia semacam menunjukkan emosi lain dari sekadar tangis batita. Dia seperti sedih dan marah. Sambil melihat saya dengan tatapan agak aneh, dia masih saja menangis dan tampak sangat sedih. Bukan marah teriak-teriak, tapi marah kecewa. Ah entahlah. Tatapannya semacam berkata, “Kenapa ibu baru pulang??? I was looking and waiting for you after all day long…” Saya pun jadi ikut berkaca-kaca. Saya peluk Maryam sambil saya meminta maaf karena baru pulang.

Sejak itu, saya jadi curious, jangan-jangan selama ini semacam protes kepada saya. Setiap perjalanan di mobil, hampir selalu dia hanya mau nempel sama ayahnya. Tidak mau saya peluk atau duduk dipangku. Setiap kali diminta cium saya, dia juga tidak mau, tapi selalu mau cium ayahnya. Saya sampai kangen. Kangen anak saya sendiri meskipun dia ada di sebelah saya.

Akhirnya beberapa waktu terakhir saya coba tes. Saya coba untuk mengantar dan menjemput Maryam di daycare. Atau setidaknya, kalau saya tidak bisa mengantar, saya pasti ikut menjemput Maryam di daycare. Entah kenapa ya, sejak saat itu, Maryam jadi lebih dekat dengan saya. Setidaknya dia tidak menolak saya pangku di mobil, bahkan sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Semarang/Jepara dia lebih banyak spent waktu dengan saya. Hanya sesekali saja minta dipangku ayahnya sambil menyetir. Dan saya pun sempat test case: selama beberapa hari saya tidak mengantar dan tidak juga menyemput Maryam. Dan hasilnya? Dia ngambek lagi sama saya. Apa-apa semuanya hanya mau dengan ayahnya. Mulai dari cebok, mandi, makan, bahkan duduk di mobil hanya mau dengan ayahnya. Lihat tv juga hanya mau sama ayahnya. Hahah. Sooo…jadi mungkin memang selama ini Maryam protes. Protes karena dia merasa kurang diperhatikan oleh ibunya. Maybe.

 

 
Leave a comment

Posted by on November 16, 2016 in Uncategorized