RSS

Off the Beaten Path #Lombok: Loyok & Pringgasela

29 Aug

Entah sudah berapa kali saya ke Lombok. Tapi destinasi wisatanya belum saya “habiskan” karena sebagian besar waktu saya habiskan di Svarga Resort (www.svargaresort.com). Mulai dari Gili Trawangan yang tak boleh terlewat, lalu Gili Nanggu yang bikin kita merasa punya pulau sendiri, Sembalun–kaki Rinjani–yang ijo royo-royo, Senaru dan air terjun Sendang Gile, serta beberapa desa kerajinan yang jarang dijamah, pelan-pelan saya telusuri setiap kali saya ke Lombok.

Kunjungan terbaru saya ke Lombok, saya mengagendakan khusus mengunjungi desa kerajinan bambu bernama Loyok (di Lombok Timur), serta desa tenun bernama Pringgasela.

Desa Loyok – Pengrajin Bambu

Saya yakin tak banyak yang mengenal bahwa di Lombok terdapat kerajinan bambu. Saya juga demikian, tadinya. Sampai akhirnya, beberapa bulan yang lalu (November 2013) saya dan kedua rekan saya (Arichi & Mutia) mblasak-mblasak di desa antah berantah di Lombok Timur. Desa ini sekilas terlihat biasa saja, tidak ada istimewanya. Bahkan tidak terlihat seperti desa wisata. Tidak terlihat aktivitas spesifik merakit-rakit bambu menjadi lampu, tas, tudung saji, dkk. Dan saya pun bingung, kenapa desa ini katanya adalah pusat kerajinan bambu? Padahal tidak ada apa-apa di dalamnya.

Kami terus saja menyusur desa dengan mobil, sampai akhirnya, kami melihat sebuah artshop lusuh dan tua. Tidak cukup besar memang, tapi cukup mudah dikenali bahwa itu sebuah showroom. Kami pun turun dan memarkir mobil. Dan, you know what? Sudah lusuh, semua barangnya berdebu, dan tak ada penjaga! Helow, siapa yang mau beli kalau begini cara jualannya? #prihatin

Akhirnya kami bertemu ibu-ibu pemilik artshop. Setelah mengobrol panjang, akhirnya kami deal untuk meminta beliau membuat sampel beberapa barang orderan yang kami perlukan. Orderan kami pun jadi di luar ekspektasi kami: manis dan good looking.

Kami mengatakan demikian karena memang tidak berharap begitu banyak dengan hasilnya, mengingat untuk berkomunikasi dengan pengrajinnya saja kami harus menggunakan bahasa se-sederhana mungkin. Dan melihat barang-barang yang ada di artshop sudah kumal dan tidak terlihat menarik. Tapi kami pun tetap meminta ibu tersebut membuat sampel. Niatnya, kami ingin memakai produk lokal sehingga maksa blusukan ke desa. Orderan kami yang jumlahnya lumayan pun jadi sekitar 3 bulan.

April kemarin saya akhirnya ke Loyok lagi. Khusus untuk mengeksplor pengrajin di sana, bagaimana cara pembuatan kerajinan bambu itu, serta untuk memperoleh gambaran sekilas masyarakat lokal Loyok. Dan hasilnya sungguh menarik (kalau tidak mau dibilang memprihatinkan). 

Entah kenapa, saya melihat kehidupan pengrajin tradisional seringkali memprihatinkan. Padahal untuk membuat karya itu tidak mudah. Tapi harganya murah. Di Loyok, membuat kerajinan bambu hanyalah sebagai sambilan, dengan mata pencaharian utama bertani. Dalam sebulan, seorang pengrajin bambu (yang kebanyakan wanita), maksimal mungkin bisa mendapat hanya 600 ribu rupiah saja per bulan dari hasil menganyam bambu. Pengrajin bambu laki-laki pun saya kira tidak jauh berbeda. Itu pun jika mereka ramai orderan.

Usut punya usut, ternyata masalahnya adalah mereka tidak tahu “cara berjualan” hasil karya mereka. Modal untuk membuat satu kerajinan bambu, tas misalnya, hanya berkisar sekitar 3000 rupiah saja, tapi waktu yang dihabiskan? Bisa 2 hari! Dan tas itu dijual dengan harga 20.000 ribu saja. Murah sekali bukan? Itu adalah harga yang mereka jual ke pembeli langsung. Jika ke pengumpul, harganya tentu lebih murah. Maka tidak heran jika kemudian masyarakat beralih profesi dan pelan-pelan mulai meninggalkan skill kerajinan menganyam bambu ini.

Salah seorang pengrajin bercerita bahwa kerajinan bambu yang banyak dijual di Bali sebenarnya banyak diambil dari Loyok. Tapi turis tidak pernah mengenal Loyok. Mereka hanya mengenal Bali, sehingga kesempatan menjual langsung kepada pembeli memanglah tipis. Pembeli langsung mereka didominasi oleh para pengumpul yang kemudian dapat mematok harga lebih rendah jika dibandingkan dengan harga jual kepada konsumen langsung.

Desa Tenun: Pringgasela

Jika ingat desa tenun Lombok, tentu yg pertama muncul adalah Desa Sukarara. Ya, benar, Sukarara memang salah satu desa tenun di Lombok. Saya juga tidak mengenal desa tenun lain selain Sukarara pada awalnya, sampai kemudian saya ke Pringgasela.

Sekilas desa ini juga tampak seperti desa biasa pada umumnya, tidak tampak seperti desa penghasil kerajinan. Aktivitas masyarakat tampak “normal” saja. Toko-toko tenun hanya terlihat beberapa, dan itupun hanya toko kecil, atau koperasi.

Akhirnya saya berhenti di koperasi tenun Pringgasela. Saat memasuki koperasi, tak seorang pun tampak berjaga. Hanya tampak beberapa etalase kaca dan hanger tenun tradisional. Tumpukan kain tenun ada di dalamnya. Setelah tengok kanan kiri dan tetap sepi, akhirnya kami mengetuk pintu salah seorang rumah warga terdekat dari koperasi tersebut. Ternyata istrinya adalah salah seorang penenunnya.

Setelah kami melihat-lihat… woalla!!! Dengan menyesal saya jatuh cinta pada motif-motif tenunnya. Motif tenun di Pringgasela lebih elegan dibandingkan dengan tenun Sukarara. Semuanya tentu handmade. Ada tenun dengan motif modern, ada juga yang tradisional. Dan semuanya: classy! Cocok untuk dijual di butik. Selain motifnya yang menurut saya lebih bagus, hasil tenunnya juga lebih bagus, dengan harga lebih murah!!! Bisa setengah atau bahkan sepertiga dari harga kain di Sukarara dengan kualitas yang sama. *perlu dicatat!

Saya pun pulang dengan menenteng 2 scarf tenun handmade, yg benangnya bahkan dibuat dengan pintalan tangan, dan harganya? Cukup 50 ribu saja! *Barangkali bisa lebih murah, tapi saya tidak tega menawarnya.😀

Saya bukan penggemar tenun tradisional (karena biasanya harganya mahal), tetapi kalau berburu tenun tradisional, lain kali lebih baik saya ke Pringgasela saja.😀

—-

Foto-foto menyusul karena file saya hilang akibat smartphone rusak :((

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: