RSS

Catatan Kecil di Kereta Ekonomi

30 Aug

Rencana pulang hari ini akhirnya saya putuskan untuk menggunakan kereta ekonomi. Selain karena alasan berhemat, saya cukup penasaran dengan perkembangan dunia perkereta-apian di Jawa.

Cukup menarik ketika saya menemui kereta jabodetabek semakin rapi dan kinclong. Dengan bangga dan kikuk, ini ketiga kalinya saya mencoba naik kereta jabodetabek dengan sistem tiket yang menggunakan kartu, tak lagi dengan karcis. Jika hidup di Jakarta selama sekian tahun dan tak ada perubahan yang signifikan, maka melihat karcis kereta berubah menjadi kartu commuter line adalah sesuatu yang sangat pantas untuk diapresiasi. Pantas saja beberapa waktu lalu, Dirut PT KAI, mendapat penghargaan sebagai salah satu Marketer of the Year dari Hermawan Kertajaya cs.

Stasiun Senen sebagai salah satu hub terbesar di Jakarta, juga semakin terlihat rapi. Jalan-jalan raya menuju stasiun sekarang terlihat tak se-semrawut dulu. Dari pemerintahan gubernur sebelumnya, saya tidak tahu apakah Jakarta pernah serapi ini.

Loket-loket di Senen sekarang bertambah banyak, dan rapi. Ditambah dengan antrian khusus untuk menukarkan tiket yang kini dapat semakin mudah dibeli secara online. Jika dulu saya harus ke stasiun dulu sekadar untuk membeli tiket kereta jarak jauh, kini membeli tiket kereta hanya semudah membuka laptop, atau berjalan ke Indomaret dan Alfamart. Merchant yang bekerja sama dengan KAI pun semakin banyak, termasuk jenis tiket yang diperjualbelikan (ekonomi juga termasuk).

Kereta yang saya tumpangi adalah kereta kelas ekonomi jurusan Jakarta ke Semarang. Harganya 80 ribu rupiah. Beberapa bulan silam, harga tiket kereta masih 35 ribu. Ada kenaikan harga yang cukup signifikan, tetapi dengan melihat perbaikan yang ada, harga tersebut saya rasa cukup pantas.

Lima tahun lalu, ketika saya pertama kali naik kereta ekonomi, stasiun Senen terasa sangat asing dan menakutkan. Yang rasa rasakan hanya was-was, khawatir ada yang jahil, atau ada yang berniat buruk. Maklum, saat itu pertama kali saya naik kereta ekonomi.

Saat itu masih dijual tiket berdiri, dan saya pun membeli tiket tersebut karena tiket dengan tempat duduk sudah habis. Masuk kereta, saya lebih shock lagi karena selain kondisi interior yang menyedihkan, panas, pengap, bau, dan sangat amat jelek, terlihat orang-orang dengan santainya tidur bergelimpangan dengan kondisi carut marut. Mereka dengan santainya tidur di ‘aisle’ kereta, hanya dengan beralaskan koran atau tidak memakai alas apa-apa sama sekali. Tak hanya di aisle, bahkan banyak juga yang tidur nyenyak di bawah jok kereta. -_-”

Barang-barang yang dibawa pun tak kalah kumal. Kardus-kardus, tas pakaian lusuh, dll. Saya pun kapok naik kereta ekonomi kalau tidak terpaksa.

Kini semua berubah dengan cukup signifikan. Stasiun senen tampak lebih rapi. Masuk peron tak lagi ditarik uang peron. Kereta pun datang tepat waktu. Kereta ekonomi yang kini 80 ribu itu sekarang ber-AC, dan benar-benar terasa AC-nya. ‘Aisle’ kereta tak lagi berisi dengan gelimpangan orang-orang tidur beralaskan koran. Tak ada lagi penumpang yang berdiri.

Kursi kereta juga terasa lebih lega dan empuk. Jendela-jendela terlihat dalam kondisi baik, dan (tampaknya) bisa dibuka-tutup dengan benar. Tidak seperti dulu yang pecah-pecah dan bolong-bolong. Lantai juga bersih, sangat jarang terlihat sampah dan tampaknya lantai cukup sering dipel dan disapu. Dan yang perlu jadi catatan, sekarang meja kecil yang dulu lebih cocok sebagai tempat nongkrong kecoa, kini baru dan bersih. Lebih keren lagi karena sekarang kereta ekonomi juga memiliki colokan listrik! Uwow! Ah, dan di bawah colokan juga terdapat “Gantungan kantong plastik sampah”.

Hal lain yang saya amati adalah adanya pergeseran taraf ekonomi penumpang-penumpangnya. Jika dulu kebanyakan lusuh dan penguk, kini banyak penumpang terlihat lebih rapi. Sebagian bahkan bergadget Apple dan Tablet. Dari pakaian yang dipakai, ada lebih banyak orang dengan level ekonomi menengah yang kini mau menggunakan kereta ekonomi yang dulu dijuluki teman saya dengan “kereta tikus”.

Tas-tas yang bertengger di kabin kereta kini naik kelas. Jika dulu banyak yang lusuh, kini banyak tas punggung dengan standar polo. Bungkusan kardus-kardus juga terlihat lebih rapi. Dan yang penting lagi, orang-orangnya tak sepenguk dulu.
😀


Saya menuliskan posting ini ketika saya berada di dalam kereta ekonomi Tawang Jaya menuju Semarang.
30 – 8 – 2013, 23:07 GMT+7.

 
1 Comment

Posted by on August 30, 2013 in Uncategorized

 

Tags: ,

One response to “Catatan Kecil di Kereta Ekonomi

  1. eskaningrum

    October 22, 2013 at 3:54 am

    iya bener crut….. mantap kali lah KAI kite ini ya…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: