RSS

Ngeteng Pesawat ke Pakistan

31 Jul

Seharusnya tulisan ini saya tulis 2 tahun lalu, setelah saya pulang dari Islamabad. Tapi tak apalah, tak ada kata terlambat untuk menulis.

Pakistan, adalah perjalanan abroad saya yang pertama.

Ceritanya saya mengikuti sebuah event pemuda International Youth Conference and Festival. Kenyataannya, karena waktu pengumuman lolos seleksi dan keberangkatan sangat mepet (hanya 3 minggu sebelum jadwal keberangkatan), kesempatan mencari sponsor pun lebih terbatas.

Setelah 3 minggu jungkir balik cari sponsor, kami (saya dan Fik), sempat hampir putus asa bahwa kami tak akan jadi ke Pakistan. Progres pencarian sponsor seret. Tapi kami masih saling menyemangati: kami percaya bahwa kami akan sampai ke sana, meskipun dengan jalan berputar. 

Dan di ujung hari-hari keberangkatan kami, jadilah saya hanya bisa mendapat 2 pembiayaan, yaitu dari Kemahasiswaan UI, dan Bupati Jepara. Biaya tersebut, baru mengcover 50% biaya yang saya perlukan untuk sekedar beli tiket pesawat yang harganya 8 jutaan, belum termasuk sangu dan visa.

Sisanya? Uang darimana?

Alhamdulillah, orang tua saya pun berbaik hati menambal biaya tiket. Sangu? Pakai uang sendiri hasil menang lomba. Haha.

Karena saya berangkat dengan biaya mepet, maka tak ayal semua harus disiasati. Apalagi kalau bukan cari tiket semurah-murahnya. Parahnya lagi, entah kenapa tiket pada saat itu sudah pada habis dan harganya sangat fluktuatif. Ketika sudah ada uang di kantong, harga tiket melonjak jadi 10 jutaan. Gilaaaa… Mahal amat ke Islamabad!

Akhirnya saya dan kak Histor, travelmate saya, berinisiatif ngeteng pesawat alias membeli pesawat dengan tiket terpisah. Flight yang harusnya dapat ditempuh hanya dengan sekali transit di Bangkok atau Dubai, kami akali dengan penerbangan dari Bali yang jauh lebih murah (7,4 juta via Bali, sedangkan via Jakarta lebih dari 9 juta). Jadilah penerbangan kami semakin panjang: Jakarta – Bali. Bali – Bangkok – Islamabad, naik Citilink dari Jakarta ke Bali, disambung Thai Airways si pesawat ungu dari Denpasar ke Islamabad, via Bangkok dengan transit 23 jam! Uyeeeyy!

Bagi kami yang saat itu statusnya mahasiswa traveler yang kere, transit 23 jam adalah berkah. Semacam sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui. Secara saya baru pertama ke luar negeri saat itu. Maklum kalau agak norak.😀

Belum lagi, ditambah kami extend di Bali 2-3 hari, lumayan icip-icip Bali lagi setelah 4 tahun tidak ke Bali. Kami pun melewati penerbangan yang panjang dengan penuh suka cita😀

Akan tetapi, kenyataan pun berlanjut dengan fakta bahwa ngeteng tak selamanya bikin irit. Tau kenapa? Karena ujung-ujungnya, di setiap transit kami selalu ingin jalan-jalan, liat sana sini, dan tak dapat dihindari: beli souvenir ini itu yang unyu-unyu. *dasar ibu-ibu

Biaya yang tadinya kami perkirakan semakin irit dengan berkurangnya harga tiket, justru di jalan semakin membengkak karena kami “tergoda” untuk mampir-mampir. Ujung-ujungnya, biaya yang dikeluarkan pun hampir sama jika kami tidak ngeteng pesawat. Haha. #gagalmaksud

 

—-

Depok, 31 Juli 2013

*Tepat setahun ngantor di ReLife🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: