RSS

Random Notes of My Life

22 May

Sebagian teman saya pergi S2 ke luar negeri. Belanda, Korea, Jepang, Inggris. Kebanyakan yang lain bekerja di bidangnya, di perusahaan multinasional. Beberapa yang lain tetap di perusahaan multinasional, meskipun bukan di bidangnya. Yang lain lagi, tetap mengejar mimpi-mimpinya, entah itu bekerja di UN, meneliti, dan sambil mencari beasiswa ke luar negeri, tentunya. Yang lain lagi, seperti saya, bekerja di bukan bidangnya, tapi tetap saja, adalah bidang yang saya sukai, saya cintai bahkan. Yang anehnya, justru baru saya sadari akhir-akhir ini. Ketika tadinya (mungkin tanpa sadar) saya malu mengakuinya, bahwa ternyata saya merasa tidak cocok menjadi seorang peneliti–pada titik ini, saya bersyukur, saya akhirnya memutuskan untuk menjalani apa yang memang ingin saya tekuni.

Juli 2012. Pertama kalinya saya melangkahkan kaki, secara formal, diterima menjadi salah satu bagian dari PT Relife Property. Sesuatu yang mungkin agak sulit diterima oleh ibu saya, pada awalnya. Karena sejak awal, saya selalu berkoar-koar bahwa kehidupan kampus dan menjadi akademisi adalah passion saya. Karena sejak awal, ibu saya sangat membanggakan adik-adiknya–di depan saya–yang menjadi akademisi. Karena alasan simpel itulah, tanpa sadar saya merasa ingin menjadi akademisi. Seperti om-om saya yang sangat dibanggakan ibu saya itu. Kalaupun ada alasan lainnya, itu hanyalah justifikasi yang sifatnya objektif dan reasonable. Mungkin, bagi ibu saya, kalaupun bekerja di perusahaan, kenapa harus Relife? Kenapa bukan yang lain?

Keluarga saya adalah keluarga yang bertumbuh dari bawah. Jika sekarang setiap lebaran di depan rumah mbah berjejer mobil-mobil yang relatif tak bisa dibilang murah, itu bukanlah hasil tidak kerja keras. Orang seringkali tidak mengira bahwa keluarga mbah adalah keluarga yang broken home, mbah “hanya” penjahit yang dulu hidupnya sangat pas-pasan, dan lain-lain. Sekali cerita ibu saya mengatakan, beberapa kali orang mengira bahwa kakek atau nenek saya, barangkali adalah dosen. Dan kala itu, ibu saya hanya menjawab, “Tidak…” sambil tersenyum dan bersyukur, bahwa orang tsb berbaik sangka pada keluarga kami.

Hidup kami berubah karena satu jembatan: pendidikan. Di saat yang sulit itu, mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti ini, jika saja mbah tidak “memaksa” anaknya untuk kuliah nun jauh di sana. Mungkin, semuanya tidak seperti ini jika saja mbah “menuruti” pesimisme orang-orang di sekelliling kami bahwa mbah tak mungkin mampu menyekolahkan om-om saya itu. Dan memang, tak bisa dipungkiri bahwa kemampuan ekonomi mbah saat itu secara objektif tidak mumpuni, sehingga barangkali semuanya tidak seperti ini, jika om-om saya, tidak bekerja keras untuk tetap kuliah: jadi kuli bangunan, ikut proyek di tengah hutan, diusir dari kosan dan tidur di masjid karena tak ada uang, ngamen di jalanan, dan lain-lain. Mungkin, jika sekarang saya lihat anak-anak kuliah banyak yang nyambi mengajar, jaman dulu mungkin itu adalah tingkatan teringan bagi om-om saya itu untuk mencari uang. Jika ibu saya tidak memutuskan untuk tidak kuliah dan memilih jadi PNS untuk membantu ekonomi keluarganya saat itu, mungkin, hari ini tidak seperti ini adanya.

Di tengah sulitnya hidup mereka itu, om-om saya tetap menjadi pribadi yang bagi saya ‘outstanding’. Berprestasi adalah hal biasa, tapi berprestasi di tengah himpitan hidup dan keluarga yang tak lengkap sama sekali bukanlah hal biasa. Om Iin dengan summa cumlaude-nya (IPK S2 4,00; sbg lulusan master tercepat, terbaik, dan termuda) dan kemudian S3 ke Swedia, sesuatu yang bagi keluarga kami adalah beyond the reach, kala itu. Ke luar negeri, dengan cara apapun itu adalah kemewahan. Kemewahan yang belum pernah kami peroleh sebelumnya. Maka pada titik itu, mungkin adalah sebuah turning point dalam hidup saya: saya mulai bermimpi tentang sekolah dan luar negeri. Bahwa saya hanya bisa ke luar negeri dengan beasiswa. Bahwa untuk mendapatkan beasiswa saya harus menjadi yang terbaik, di mana pun saya berada.

Pada suatu ketika, saat hari telah petang, di teras rumah mbah, saya mengobrol dengan ibu dan Om Bilal–yang sekarang menjadi dosen Geodesi UGM. Tentang kehidupan kami, tentang masa depan saya, tentang sekolah, dan entah apa lagi saya tidak ingat. Yang saya ingat, Om Bilal mengatakan, bahwa menjadi dosen, adalah pekerjaan yang paling cocok. Secara ekonomi, mungkin tidak kaya raya, tetapi lebih dari cukup. Secara sosial, sangat mendapat tempat dan respek dari masyarakat. Waktunya pun fleksibel, apalagi buat saya yang perempuan. Lalu ibu saya pun mengiyakan, dan mengatakan, “besok kamu jadi dosen aja gimana?”

Pada titik itulah, saya semakin bermimpi untuk menjadi dosen. Di otak saya hanya ada: dosen, luar negeri, dan beasiswa. Dan untuk mendapatkan ketiganya, cara termudah adalah saya selalu menjadi yang terbaik, berprestasi.

Sejak itulah, saya mulai berpikir tentang raport saya di sekolah, nilai 8, 9 versus 10, ranking, dan paralel. Saya mulai mengenal istilah “bersaing”. Saya mulai peduli apakah saya akan membawa pulang piala kelas atau tidak. Saat itu, saya masih kelas 5 SD, dan saya telah menemukan mimpi saya untuk menjadi seorang dosen.

Semuanya pun berlanjut saat saya memasuki bangku SMP, SMA, kuliah, bahkan pasca lulus sarjana. Saya, masih saja bermimpi menjadi dosen. Sampai-sampai rasanya saya enggan beranjak dari kehidupan kampus. Saya masih asyik ikut proyek-proyek dosen, kebanyakan proyek training, dan justru bukan proyek penelitian.

*to be continued…

 
1 Comment

Posted by on May 22, 2013 in Uncategorized

 

One response to “Random Notes of My Life

  1. nanay

    May 24, 2013 at 8:54 am

    mana lanjutannya, crut??

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: