RSS

Kuala Lumpur: Less Vibrant than Jakarta

26 Mar
Image

Salah satu gedung kementrian Malaysia

Akhir bulan lalu saya ke Kuala Lumpur. Ceritanya ini my first overseas business trip. Haha. Yah lumayanlah, meski nggak sempat ke Melaka, Penang, dan destinasi lain di sekitar KL. It was more than enough: free return flights, hotel bintang 4 dengan kamar suite, dan bisa sedikit tengok kanan kiri (jalan-jalan) di luar agenda kantor, hehe. Jadilah saya mampir ke KLCC atau Twin Tower, Genting Highland, China Town, Central Market atau Pasar Seni, dan Orchard Road-nya KL, yaitu Bukit Bintang.

Kalau ditanya Kuala Lumpur seperti apa, saya sih bilang, biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang sangat berkesan. Malah, saya pikir, Jakarta lebih menarik, lebih hidup, meskipun dengan segala kemacetannya. Saya akui, KL memang memiliki transportasi publik yang jauh lebih nyaman daripada Jakarta. Kecuali taksi-taksinya yang seringkali tak mau pasang argo. Padahal mestinya tarif taksi resmi di KL lebih murah daripada tarif taksi Jakarta. Tapi ya itu, sopir-sopirnya sering pada reseh karena tidak mau pasang argo. Jalan cuma 5Km saja, saya diminta bayar RM 30 (Ringgit Malaysia). Kalau dirupiahkan ya sekitar 150 ribu. #Ngoookk

Twin Tower, dari dalam monorail

Twin Tower, dari dalam monorail

Karena saya menginap di hotel tepat di depan stasiun monorel Imbi (Berjaya Times Square), di KL saya lebih sering memakai subway (di KL istilahnya “commuter”), atau monorail. Ada semacam kartu EZ Link yang namanya Touch&Go. Kartu tersebut harganya hanya RM 10, dengan isi RM 7. Bisa diisi ulang sesuai kebutuhan, dengan nominal isi ulang RM 10. Selain dipakai untuk kereta, Touch&Go juga bisa dipakai untuk membayar tiket bis. Hanya saja, ketika tur dalam kota, saya belum pernah naik bus. Saya naik bus satu-satunya hanya ketika ke Genting. Di luar itu, saya merasa lebih nyaman naik kereta karena saya hanya punya peta monorail dan subway.

Salah satu stasiun monorail di KL

Salah satu stasiun monorail di KL

Bukit Bintang

Bukit Bintang intinya mirip seperti Orchard Road-nya Singapore. Isinya mal-mal dengan gerai-gerai brand semacam Guess, Zara, M&C, Cartier, Chanel, dan selevelnya atau bahkan lebih. Minimal sekelas UniqLo. Masuk tokonya aja saya nggak berani, wkwkwk.

Sengaja ke sini untuk malam, menu yang saya pilih agak apes. Mau cari makanan halal, adanya fine dining timur tengah yang 1 pax harganya bisa 400ribuan. Alhasil saya pun makan di TGIF, semacam kafe. Udah harganya mahal, rasanya super nggak jelas: spageti yang nggak ada rasanya, cuma mie dicampur bawang bombay, sayur entah apa namanya warna ungu marun, kembang kol, brokoli, dan entah apa lagi. Bikinnya mungkin cuma diurapin sama minyak zaitun. Huak! Kalau nggak ingat itu harganya 100 ribu, pasti udah nggak saya makan. Meskipun dibayarin kantor, tetep aja nyesek karena rasanya super nggak enak.

Genting Highland

Cable car di Genting Highland

Cable car di Genting Highland

Ini mah puncak versi KL. Hanya saja di Genting ada semacam TransStudio, taman bermain indoor. Saya sih nggak terlalu tertarik. Saya ke genting cuma penasaran dengan cable car-nya yang ada di tengah-tengah hutan, dihubungkan dari puncaknya Genting ke lembahnya dengan panjang bisa mencapai 4 Km-an. Cari makanan halal di dalam Genting juga agak susah, kecuali kalau mau makan fastfood. Di sana ada KFC, McD, Burger King yang pastinya halal. Masalahnya partner saya nggak mau diajak makan di fastfood, pusing kan. Jadilah malam itu akhirnya saya berakhir cuma makan yoghurt dan wafel. Untung enak. Haha.

Pos polisi, menuju Genting Highland

Pos polisi, menuju Genting Highland

Cerita yang lain tentang China Town dan Pasar Seni. Ketika saya di Pasar Seni, saya sempat lihat ada pertunjukan tari dengan lagu Rasa Sayange yang dikemas dengan apik. Di tengah pusat perbelanjaan souvenir, pengunjung yang rata-rata turis asing “dikagetkan” dengan show dadakan, yang sederhana tapi cukup meriah. Saya, jujur saja nggak ngerti mesti komen apa. Kenyataannya, tari-tarian tradisional kita tidak “dirawat” dengan baik oleh pemerintah. Tapi begitunya disenggol sama tetangga sebelah, baru kita merasa itu milik kita.

Tanya kenapa?

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: