RSS

Sasak, Songket, dan Teletong Sapi

20 Nov
Image

Lumbung Padi Tradisional Sasak di Desa Sade

Pernah dengar tentang Suku Sasak? Itu adalah suku asli yang ada di Lombok. Yang lucu adalah, mereka mengepel lantai rumahnya dengan tai sapi! #Ngeeekk!

Tapi uniknya, meskipun lantai rumahnya dipel dengan tai sapi, teletong sapi, kotoran sapi, atau apalah itu namanya, ketika masuk ke rumah tradisional Sasak yang berlantaikan aci-an semen itu, rumah itu tidak bau tai sapi. Tapi sih, jujur saja, kalau disuruh glesotan di situ saya pikir-pikir juga meskipun tidak bau.

Terdapat beberapa desa Sasak yang masih melestarikan budaya kehidupan Sasak hingga sekarang. Beberapa desa tersebut diantaranya adalah Desa Bayan yang terletak di Lombok Utara (dekat dengan Rinjani), dan Sade Rembitan, yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah.

Ketika saya keliling Sade akhir Oktober lalu, guide-nya menceritakan bahwa masyarakat Sade bertani hanya satu kali setahun. Itu karena kendala iklim, di mana curah hujan hanya mendukung pertanian sekali setahun. Hasil panen tersebut biasanya hanya cukup dikonsumsi untuk keluarga sendiri, dengan jumlah anggota 5-6 orang, untuk konsumsi selama 6 bulan.

Di samping bertani, masyarakat Sade mencari nafkah sampingan dengan membuat tenun Songket. Akan tetapi, pekerjaan menenun biasanya hanya dilakukan oleh wanita. Laki-laki juga dapat memintal, tetapi bukan tenun songket, melainkan tenun ikat. Dalam tradisi masyarakat asli Sasak, perempuan baru boleh menikah setelah dapat terampil menenun songket, dan pada umumnya, mereka telah belajar menenun sejak usia 9 tahun.

Image

Penenun di Desa Sade

Harga songket memang relatif mahal. Tetapi jika mengetahui prosesnya yang rumit dan panjang, harga selembar kain yang rata-rata beberapa ratus ribu itu, sama sekali tak berlebihan.

Pembuatan songket sendiri memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk memproduksi selembar kain songket sepanjang 2 meter, diperlukan waktu setidaknya 1-2 bulan, bahkan lebih untuk motif yang rumit. Rata-rata, dalam sehari, pengrajin songket hanya dapat menghasilkan songket sepanjang 17-25cm saja. Itu belum termasuk jika pengrajin memintal benang mereka sendiri.

Selain di Sade, desa penghasil tenun lainnya yang terkenal di Lombok adalah Desa Sukarara. Perbedaannya adalah, Desa Sukarara relatif sama dengan desa-desa pada umumnya, tidak seperti Sade di mana masyarakatnya tinggal di rumah tradisional. Di Sukarara, benang songket yang digunakan rata-rata adalah benang pabrikan, sedangkan di Desa Sade, masyarakatnya memintal sendiri benang songket tersebut, yang terbuat dari kapas. Di Sukarara sendiri, harga songket bervariasi, mulai dari 65 ribu hingga 5 juta rupiah. Dan saya akui, yang harganya 5 juta itu memang cakep sekali. hehe

Image

Salah seorang penenun di Desa Sukarara

Overall, Desa Sade itu menarik. Sayangnya, guide-nya kurang sadar wisata. Atau mungkin saya yang lagi apes saja? Guide yang mengantar saya memiliki attitude yang kurang bagus. Bayangkan saja, ketika awal-awal berkeliling, dia mengantarkan saya keliling-keliling dengan sikap yang sangat welcome dan ramah. Sangat ramah, sampai kemudian dia mengajak saya mampir di “kios” songket milik kakaknya. Ya untuk menghormati karena dia mengajak saya ke situ, saya lihat-lihat saja. Sebenarnya saya tertarik, tapi tidak ada budget untuk membeli songket. Jadilah saya hanya melihat-lihat saja. Bahkan tanya harga pun saya tidak berani daripada cuma jadi PHP (PHP = pemberi harapan palsu—red). Setelah “merayu” saya panjang lebar untuk membeli songketnya, dan sayangnya saya tetap tidak berhasil dibujuk, wajahnya langsung asam sam sam. Dia yang tadinya ngoceh tentang kehidupan masyarakat Sade, pasca dari kios kakaknya itu jadi kicep alias diam, berbicara hanya kalau saya tanya. Dasar. Niat saya yang tadinya masih ingin keliling-keliling, jadi bubar jalan karena mood saya pun sudah berubah gara-gara guide-nya resek. Saran saya sih, mungkin kalau dari awal tidak berniat membeli songket, menolak secara halus saja sejak di awal.🙂

Image

Narsis di salah satu kiod tenun songket di Desa Sade

 
Leave a comment

Posted by on November 20, 2012 in Uncategorized

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: