RSS

Solo Traveling: It’s Fun!

11 Feb

Trip saya ke Beijing November 2011 lalu adalah solo traveling saya yang pertama. Yep, traveling sendirian. Yah, meskipun sebenarnya tidak pure traveling juga sih. Kan saya ke sana untuk mengikuti Asia Pacific Forestry Week yang diadakan oleh FAO. Tapi lumayan kan, bisa icip-icip Beijing di luar waktu conference, plus nambah cap di paspor dan nyoret visa China saya. Haha

It’s Fun

Pada awalnya, saya mengira solo traveling itu akan sedikit ‘horor’. Pasalnya, saya perempuan, udah gitu badan saya kecil. Kalau ada orang reseh, tangan saya buat nonjok juga paling rasanya ky dicolek doang, haha. Terus lagi, negara yang akan saya kunjungi adalah China! Which is orang-orangnya pada nggak bisa bahasa Inggris, dan identik dengan: kalo kesasar akibatnya fatal. Secara China gede banget dan Beijing juga kotanya luas banget. Hiii… Di negeri sendiri aja saya sering nyasar, nggak tahu jalan, apalagi di China yang ngomongnya cang cing cung ditambah a a u u alias mesti pake bahasa tarzan. Meneketehe?

Tapi ternyata, solo traveling saya tidak horor. Bahkan cenderung fun. Gimana nggak fun? Kalo sendirian, mau jalan ke mana kan ape kate gue, mau jalan jam berapa juga suka-suka gue, dan mau makan apa di mana mah urusan gue. Hehehe. Nggak perlu tuh proposing argument untuk pergi ke sini dan ke sana sama temen traveling kita, kalo seandainya tempat tujuan wisatanya beda-beda. Yang ujung-ujungnya, kalo nggak ada yang ngalah, atau ada yang merasa “tertindas” karena tempat impiannya di-skip, akan bete sebete betenya.

Be Prepared: Peta

Solo traveling saya, meskipun ke China, I was so fine. Buktinya sekalipun saya nggak nyasar sekalipun. Kuncinya: be prepared. Ketika ke Beijing, malam sebelum berangkat saya sudah ngeprin peta subway bilingual (mandarin & English) ukuran A3. Dan it’s so much helping me.

Kalau nggak bawa peta itu, mungkin saya sudah nyasar entah ke mana. Teman saya, yang ngetrip bareng pacarnya, bahkan sampai ketinggalan pesawat balik ke Jakarta karena nyasar. Dan mereka pun harus beli tiket balik yang harganya lebih mahal dibanding tiket PP mereka sebelumnya! Amit-amit deh ketinggalan pesawat, apalagi pas di luar negeri. Nangis garuk-garuk bandara langsung kalo saya, hehehe.

Meskipun di bandara-bandara besar biasanya menyediakan peta gratisan, tak ada salahnya kita siap-siap sendiri. Waktu itu, alasan saya ngeprin peta adalah karena saya nggak tahu apakah PEK (kode bandara Beijing) menyediakan peta gratisan macam itu atau nggak. Kalaupun disediakan, saya nggak jaga-jaga saja kalau peta yang ada pakai tulisan mandarin. Dan waktu itu, kebetulan saya lupa nyari peta di bandara, untungnya, saya sudah bawa sendiri. Jadi tenang…😀

Do: browsing and… asking!

Sebelum pergi ke tempat tujuan, jangan lupa browsing. Cari rute yang mesti kita pakai, apakah subway, bis, becak, jalan, atau kombinasinya, selengkap mungkin. Jadi ketika keluar penginapan kita nggak bego-bego amat.

Jangan lupakan catatan. Catat hasil browsing-an kita itu. Kalaupun mau nanya ke orang, dan kita lupa, kan tinggal buka catatan. Catatan itu penting karena kemungkinan kita lupa dengan nama-nama asing itu sangat mungkin terjadi. Karena semuanya pasti asing buat kita: nama stasiun kereta, halte bis, stasiun bis, dll. Belum lagi, meskipun hafal, pelafalan kita ketika bertanya ke orang juga sangat mungkin berbeda, sehingga orang juga nggak ngerti atau salah tangkep. So, lebih aman pake tulisan.

Rajin-rajinlah tanya saat di jalan. Yah, meskipun seringkali kalo nanya ke orang China, saya sering ditolak-tolak. Mereka nggak mau ditanyain karena nggak bisa bahasa Inggris. Tips saya sih, kalo mau tanya jangan ke bapak-bapak, ibu-ibu, apalagi kakek-kakek dan nenek-nenek. Pengalaman saya, belum nanya aja udah disuruh pergi. Haha.

Kalau mau tanya, cobalah bertanya pada anak-anak muda. Biasanya mereka relatif lebih welcome untuk ditanya. Kalaupun nggak bisa pake bahasa Inggris, saya biasanya pakai tulisan dan bahasa tubuh, dan mereka pun biasanya berusaha untuk membantu.

Bahasa Tarzan

“Wuuzzz…” kata saya sambil menggerakkan tangan seperti pesawat take off. Itu adalah cara komunikasi saya ketika mau naik taksi ke bandara. Secara sopir taksinya nggak ngerti bahasa Inggris sama sekali. Teman saya yang ketinggalan pesawat tadi, lebih ajib lagi. Katanya setelah sopir taksinya baru ngerti mereka mau ke airport setelah digambarkan pesawat, sambil bilang “Wuuuzzz…” dengan tangan menirukan pesawat take off. Itupun setelah ganti 5 sopir taksi. Hahaha.

Intinya, tetaplah berusaha berkomunikasi, kalau nggak bisa ngomong, ya pakai tulisan, atau bahasa tubuh, atau kombinasi semuanya. Percaya deh, Tuhan pasti membantu hamba-Nya yang mau berusaha, hehehehe.

Konteks Komunikasi

Nah, tak hanya bahasa tarzan. Berusaha memahami bahasa lokal dengan melihat konteksnya juga sangat membantu. Saya sering lho, selama di Beijing, berkomunikasi sama kenek bis dengan cara yang aneh: dia pakai bahasa China, saya pake bahasa Inggris. Tapi keduanya tetap nyambung. Saya tahu dia merespon apa, dia juga tahu saya ngomong apa. Bahkan sekali pernah saya waktu di bis, karena bosan, saya pun tralala trilili belajar angka 1-10 sama kenek bisnya (ibu-ibu). Saya diajarin kode tangan kalau di China itu bagaimana, dan apa bahasa Chinanya 1-10. Tapi ya keduanya tetap pakai bahasa masing-masing, hehehe.

Kemudian, ketika sopir taksi bandara tanya ke saya, “Terminal berapa?” pake bahasa China, tentunya saya nggak ngerti dia ngomong apa. Tapi karena waktu itu saya mau ke bandara, dan si sopir udah ngerti kalau saya mau ke bandara, tentunya saya nebak-nebak, dalam konteks seperti itu mestinya dia akan nanya, “Terminal berapa?” Apalagi si bapak sopir sambil mainin tangan 1 2 3 gitu. Dan that’s right, dia tanya: terminal berapa?

Meskipun begitu, solo traveling ke Beijing sangat tidak saya rekomendasikan buat yang baru pertama jalan-jalan ke luar negeri. Kecuali negara kita semaju Singapore yang ada subway-nya, jadi kita sudah terbiasa dengan subway ria sebelumnya. Keran buat saya, pengalaman ber-subway itu sangat penting. Karena kalau nggak, bakalan bingung gimana caranya, beli tiketnya gimana, jalur ini itu ke arah mana, di interchange station harus ganti kereta, dll. Ujung-ujungnya: salah jalur, nyasar, hehehe.

 

6 responses to “Solo Traveling: It’s Fun!

  1. lifeisabridge

    February 11, 2012 at 4:42 am

    Kirain travelling ke Solo #facepalm

     
  2. Brahmanto Anindito

    June 6, 2012 at 7:59 am

    Wah, pemberani ya… Tapi, ya, setuju! Kesasar atau nggak, masa’ sih Tuhan nggak bantu hamba-Nya? Hehehe….

    Salam kenal

     
  3. Nor Rofika Hidayah

    June 15, 2012 at 1:54 am

    Terima kasih sudah baca..
    Salam kenal juga..🙂

     
  4. ahartami

    October 12, 2012 at 11:17 am

    iya, asyik juga solo traveling. bisa bebas kenalan sama orang, tanpa ada yang ngeceng-ngecengin. tapi sedihnya, ga ada yang ngambilin gambar narsis…

     
    • Nor Rofika Hidayah

      October 15, 2012 at 3:37 am

      haha. bener pril. jd ketagihan solo traveling…😀

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: