RSS

Time We Spent at School

01 Sep

Apa yang sama?

Yang sama adalah cerita kami setiap ngumpul. Memang, you’ll never call a friend: a bestfriend, till they listen to your-old-same-foolish-story, and you still laugh together, no mattter how many times you repeat to tell it everytime you meet.

May be it’s seems a boring thing. Telling the same story, mostly a foolish story we ever experienced. Selalu saja cerita tentang itu: gigi anas yang nggasruk di tembok kelas 3 PIA 5, lalu bekas cacat di tembok itu dilingkari dengan kapur, sebagai bukti prasasti hasil smack down anas dengan Fandy. Bekas gigi Anas seperti gigi kelinci yang digarukkan di tembok, hingga cat tembok pun mengelupas, hehehe.

Semuanya tentang ketololan kami, cerita yang sebenarnya bikin malu anak cucu. Hahaha. Tapi tetap saja, membahas semua itu tak pernah bosan.

Cerita lainnya adalah Yayan yang sms wali kelas, “Bu, anak-anak PIA 5 mau nyawung, ibu ikut nggak?” Lalu wali kelas kami bingung, “Nyawung itu apa? Saya baru denger isitilah nyawung. Saya tanya ke semua guru di TU (tata usaha) juga nggak ada yang tahu nyawung itu apa.” Kata wali kelas saya bercerita tentang SMS anonim yang berisi “nyawung”. Lalu kami tertawa di kelas, dan menjelaskan kalau nyawung itu adalah istilah kami kalau kami makan ikan bakar di rumah makan bernama Sawung Kuring. Jadilah istilah nyawung itu diciptakan. Yayan pun, si pelaku pengirim SMS nyawung, tak mau mengaku hingga sekarang.

Cerita lain yang tak akan terlewatkan adalah Aldi yang ngontek ketika ulangan agama di kelas 1C. Gara-gara saya, dia ketahuan nyontek oleh Bu Guru Agama kami.

“Aldi, kamu nyontek ya?”

“Eh, nggak, Bu. Cuma satu.” Lalu seisi kelas tertawa. Padahal, ceritanya dia mau bilang, “Nggak satu pun, Bu.” Tapi malah bilang, “Cuma satu,” Hahaha. Sejak itu, dia dendam kesumat sama saya. Hahahaha

Lalu ketika kelas 3 SMP, Aldi dipanggil oleh wali kelas kami ke ruang guru, dimarahi karena menurut wali kelas kami, cara Aldi duduk itu terlihat ondal-ondol (baca: songong).

“Kamu tuh jangan ondal-ondol…” Kata wali kelas kami ke Aldi.

“Apa, Pak? Jangan ondel-ondel?” Aldi yang tak tahu istilah ondal-ondol pun bingung. Dia malah mengira wali kelas kami itu mengatakan ondel-ondel, dan bukan ondal-ondol. Kami pun ngakak mendengar ceritanya.

Lalu ada cerita tentang Charis, yang selalu Prima panggil dengan cara, “Ris….Charis…” dengan nada khasnya. Charis itu teman kami yang pintar tapi super pendiam, dan sekarang malah kuliah di jurusan komunikasi. We completely can not imagine that: Charis the silent boy itu masuk jurusan komunikasi. Charis, tangannya patah waktu kelas 3 SMP. Waktu ditanya, usut punya usut ternyata dia main sepakbola sama anak-anak SD. Anak-anak laki-laki yang hobi rusuh pun tertawa ketika tahu fakta bahwa Charis tangannya patah waktu main bola dengan anak SD.

Cerita lainnya masih ada. Ketika Yayan dan Disti dikeluarkan dari kelas oleh guru sejarah. Gara-gara mereka berdua menghitung berapa kali guru kami itu bilang, “Ya…coba ya…” dalam satu sesi pelajaran. Guru kami itu memang hobi sekali berkata, “Ya…coba ya….”. Dalam satu sesi pelajaran, entah berapa ratus “Ya…coba ya…” yang dikatakan oleh beliau. Yayan dan Disti duduk di bangku baris kedua dari depan, sehingga mereka ketahuan waktu menghitung. Apalagi mereka sambil cengengesan. Saya juga sebenarnya ikut-ikutan menghitung, tapi saya duduk di belakang, jadi nggak ketauan, hahaha.

Lainnya, apa ya? Hm…. Oya, ada lagi. Tentang Yayan yang main pesawat-pesawatan dari kertas di dalam kelas, ketika kami kelas 2 SMA. Saat itu, kami sedang mengikuti pelajaran bahasa Indonesia. Anak laki-laki di kelas sedang demam main pesawat kertas, tentu saja biang keroknya adalah Yayan.

Saat guru kami menjelaskan, dengan sengaja Yayan menerbangkan pesawatnya dari bangku paling belakang, dan nasib, pesawat kertasnya itu menabrak kepala guru kami yang sedang duduk di kursi guru. Saya menahan tawa. Yayan pun langsung disuruh maju ke depan dan disuruh keluar.

“Yan, kalau mau main pesawat di lapangan aja kamu, Yan..”

“Ya, Bu…” Kata Yayan sambil menunduk dan senyum-senyum khasnya. Lalu dia keluar kelas, dan benar-benar main pesawat kertas di lapangan sekolah. Kami yang di dalam kelas hanya geleng-geleng kepala.

 
Leave a comment

Posted by on September 1, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: