RSS

Kata Pengantar Vs Ucapan Terima Kasih

05 Jul

Sebenarnya saya bingung, apakah “kata pengantar” itu cocok disebut “kata pengantar”? Pada skripsi, pada tesis, dan sebagainya. Saya kira term “kata pengantar” di Indonesia lebih pantas disebut “ucapan terima kasih”. Lihat saja isinya, semuanya adalah rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada si A B C D dan entah siapa lagi. Setidaknya, sejauh ini, begitulah yang seringkali saya temui.

Padahal, kalau dilihat di buku-buku (terutama buku asing), juga laporan-laporan macam reports internasional, dll, ucapan terima kasih atau acknowledgement dan kata pengantar atau foreword itu dua hal yang berbeda. Saya memang tidakk rajin membaca buku. Buku yang saya baca tidaklah banyak. Tetapi, sejauh yang saya amati—dari sedikit buku yang saya baca itu—ucapan terima kasih dan kata pengantar memang berbeda.

Kata pengantar, bagi saya, seharusnya mengantarkan peserta kepada apa dan bagaimana isi buku yang akan dia baca. Ibarat rumah, mungkin dia adalah terasnya, taman depan rumah, atau pintu gerbang. Sekali seseorang tertarik dengan kata pengantar yang dibuat, maka besar kemungkinan pembaca akan membaca isi buku lebih lanjut. Oleh karena itu, foreword memiliki peranan penting dalam membangun minat baca, yang selanjutnya menentukan apakah sebuah karya tulis—apapun bentuknya—akan laku dibaca atau tidak.

Berbeda dengan kata pengantar, ucapan terima kasih memang berisi ucapan terima kasih. Akan tetapi, saya merasa terdapat perbedaan ucapan terima kasih di karya tulis berbahasa Indonesia dan berbahasa Inggris. Entahlah.

Saya merasa ucapan terima kasih di karya-karya berbahasa Inggris lebih memiliki feeling. Acknowledgement bagi saya sering terlihat lebih informal, benar-benar menyampaikan apa kontribusi orang-orang yang tertulis di sana dengan gaya penulis masing-masing. Dengan ketidakformalannya, acknowledgement lebih bisa menyampaikan ungkapan terima kasih yang lebih memiliki emosi—tentang tumpah ruah kesulitan atau pun kesenangan yang dinikmati penulis bersama orang-orang yang membantunya.

Saya tidak tahu kenapa, tapi bagi saya, ucapan terima kasih seringkali terasa sangatlah formal, dan kurang memiliki emosi. Mungkin kuncinya ada pada put your feeling into your writing. Maksudnya, emosi dalam tulisan itu hanya akan bisa dirasakan, jika penulisnya juga menggunakan emosi dan perasaannya dalam menulis. Tanpa itu, tulisan akan terasa hanya rentetan huruf yang berjejer dan memiliki arti, tapi mungkin tidak hidup.

Saya sendiri seringkali lebih tertarik membaca foreword reports organisasi internasional, semacam UNEP, UNESCO, WHO, UNICEF, dll, daripada isi report-nya. Menurut saya, mereka bisa membuat foreword yang sangat powerful, membuka wacana untuk berpikir lebih global, dan membangun ketertarikan—bahkan kepedulian pembaca pada masalah yang diangkat dalam tulisan tersebut.

 

——————

Depok, 5 Juli 2011

Saat malas membuat kata pengantar skripsi, tapi tetap harus menulis kata pengantar karena besok deadline revisi skripsi.

 
Leave a comment

Posted by on July 5, 2011 in soliloquy

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: