RSS

Kutukan dari Bangkok (Insane Story in Bangkok, Part-2)

08 Feb

Tak hanya banyak cerita, tetapi juga banyak “kutukan” di Bangkok. Yang pertama saya sebut sebagai “Kutukan Wat Arun” (di mana teman-teman traveling saya, setelah pulang dari sana kemudian menjadi SMASH wannabe). Yang kedua, kami sebut dengan ”Kutukan Nana Empat”. Dan yang ketiga, saya sendiri menyebutnya dengan “Kutukan Kripik Durian”!

Kutukan Wat Arun

Wat Arun (glowing banget kalo malem)

Selesai dari forum, saya, Kak Erik, Kak Fadhli, Edwin, dan Endy berencana jalan ke Wat Arun yang berada di seberang sungai Chao Phraya. Dari depan Rajamangala, kami jalan menuju tepi sungai Chao Phraya dengan menggunakan Peta Bangkok yang saya ambil di Svarnabhumi Airport. *berasa jadi Dora

Perjalanan saya dan SMASH wannabe mencari ladyboy bermula dari sini…

Kenapa?

Karena meskipun ini malam kedua kami menghabiskan waktu jalan-jalan bersama di Bangkok, ini adalah malam kali pertama kami jalan-jalan hanya berlima…dan sejak itulah mereka menjadi SMASH wannabe (yang kemudian, mungkin karena masih galau dengan cita-cita sendiri, beberapa hari kemudian mereka pun berubah menjadi F4 wannabe).😀

Sampailah kami di tepi sungai Chao Phraya, di salah satu dermaga kapal-kapal yang memang disediakan untuk menyeberang Chao Phraya. Nah, dari situ, kami membayar masing-masing 14 baht (sekitar 7500 rupiah) untuk menuju Wat Arun. Ternyata kapal yang kami naiki itu tidak langsung sampai di Wat Arun, tetapi hanya sampai tepat di seberang Wat Arun (di belakang Royal Grand Palace). Dari sana, kami masih harus naik perahu lagi dengan membayar hanya 3baht atau 900rupiah! *Inilah asiknya Thailand, asik tapi murah…

mencari rute selanjutnya (di atas perahu Chao Phraya)

Setelah naik perahu lagi, sampailah kami di Wat Arun. Sayangnya, kami hanya bisa berada di halaman Wat Arun karena sudah tutup. Jadi kami pun tidak bisa naik ke Wat Arun. Di sana, tak ada yang kami lakukan selain foto-foto sambil menahan lapar (meskipun lapar kami tetap ceria!). Sambil mondar mandir sana sini, kami juga mengganjal perut dengan cookies monde dan sebatang coklat cangki bar-nya silverkwin.

Dari sinilah, mulai muncul kebiasaan nari-nari gaya smash, sambil tentu saja nyanyi-nyanyi bagian reff ”I heart you”nya SMASH.

”You know me so well….Girl I need you… Girl I love u…”

Hahahaha, dudul.

narsis sambil menunggu perahu di dermaga Wat Arun

narsis sambil menunggu perahu di dermaga Wat Arun

Aneh saja rasanya.

Karena ketika di awal-awal saya kenal mereka, sepertinya mereka itu tipe orang yang kalem-kalem saja (kecuali Endy yang gondrong tentunya, hahahaha).

Tapi setelah dari Wat Arun kenapa mereka jadi begitu??

Jadi kesimpulan saya, mungkin itu memang karena efek kutukan Wat Arun. Wkwkwk

Kutukan Nana Empat

Selanjutnya adalah cerita tentang Kutukan Nana Empat.

Begini sejarahnya….

Nana adalah nama suatu kawasan di Bangkok. Area Nana ini berada di jalan utama yang bernama Sukhumvit Road. Kawasan Nana sendiri terbagi menjadi banyak kawasan yang disebut Nana One, Nana Two, Nana Three, and so on (yang angka akhirnya saya sendiri tidak tahu). Salah satunya kawasan Nana yang bernama Nana Four, adalah salah satu red area di Bangkok. Di Nana Four atau Nana Empat ini, bertebaranlah ladyboy mau pun perempuan beneran yang ”nongkrong” di bar-bar atau pinggiran jalan Nana.

Parahnya, sejak dari Nana empat, kami jadi selalu ceng-cengan soal hombreng alias homo. Korbannya adalah Edwin dan Kak Erik. Dan itu kami sebut sebagai kutukan Nana Empat. Karena sejak dari Nana Empat itulah kami mencomblangkan Kak Erik dan Edwin…Kalau tidak percaya lihat saja foto-fotonya, *evil_smile

Edwin flirting sm Kak Erik *dampak beberapa hari di Bangkok

Kutukan Kripik Durian

Bagi yang suka durian, ini barangkali adalah kutukan yang sangat berbahaya, karena bisa berdampak membuat kita menghabiskan semua uang untuk beli kripik durian yang rasanya bisa membuat kita berekspresi berikut ini:

1. Hmmm,,,,,uenak bangeeeeettt…..(harap dibaca dengan mata merem dan slow motion geleng-geleng kepala)

Atau

2. Mmm! Enak mati!

Atau

3. Mmm! Enak mampus!

Dua ekspresi terakhir itu harap dibaca dengan mata melotot.

*Hahaha, apa banget deh saya….

Saya sebut begitu, karena saking enaknya kripik durian montong Bangkok. Sama sekali bukan me-lebay-kan rasanya, apalagi me-lebay-kan diri sendiri (istilah apa pula itu?). Tapi bagi penggemar durian (kalau tidak mau disebut ”penggila” alias jadi insane meskipun kalau baru lihat gambar durian), kripik durian montong adalah salah satu A-Must-Thing-To-Buy di Bangkok.

Tapi saran saya, mendingan beli kripik durian di akhir-akhir saja, jadi tidak kalap menghabiskan uang untuk nye-tok kripik durian di Indonesia. Karena bagi saya, kalau seandainya saya mencoba kripik durian itu pas saya masih berada di Bangkok, dan saya masih di hari-hari awal berada di bangkok, bisa jadi saya menghabiskan uang untuk membeli kripik durian. Yang kemudian bisa berdampak pada kehidupan masa depan jalan-jalan saya di Thailand di hari-hari berikutnya yang bisa jadi berakhir tragis, hahaha…

Setelah bertapa seharian di kamar kosan,

Depok, 8 Februari 2011

17.55 pm

 
2 Comments

Posted by on February 8, 2011 in experience, moment, trip/traveling

 

2 responses to “Kutukan dari Bangkok (Insane Story in Bangkok, Part-2)

  1. Ewn

    February 24, 2011 at 4:58 am

    eh itu fotonya….waduuuh. kenapa ga yang pelukan aja sih. haha

     
    • Nor Rofika Hidayah

      April 10, 2011 at 1:31 pm

      wkwkwkwk…..sbnrnya gw pgn uplod foto lo dicium banci… tapi apa daya, banci aja ga ada yg mau sm lo…. :p

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: