RSS

Thailand Baht & Redenominasi Rupiah

19 Jan

Beberapa waktu lalu, saat membaca wacana tentang redenominasi rupiah di koran-koran, saya merasa redenominasi tidak perlu dilakukan. Saya merasa kita tidak perlu sampai melakukan redenominasi, kalau alasan utamanya untuk memperkuat ”image” rupiah terhadap mata uang asing. Padahal toh hanya berganti angka dan nilainya tetap sama saja. Bagi saya, awalnya itu hanya akan membuang-buang uang negara untuk mencetak bertumpuk-tumpuk uang dengan angka baru, padahal nilainya tidak berubah. Saya tidak merasa redenominasi sangat penting dilakukan, sampai saya merasakan sendiri, bagaimana warga negara lain—yang notabene keadaan ekonominya tidak jauh berbeda dengan kita tetapi nilai tukar mata uangnya jauh lebih tinggi—memasang muka kaget, surprised, dan sangat senang karena merasa mata uangnya jauh lebih ”superior” dari mata uang saya, rupiah.

Saat itu, saya merasa malu sekali. Saya mencoba menjelaskan, bahwa memang mata uang kami memiliki banyak nol yang berderet-deret, tapi standar biaya hidup di tempat kami tidak jauh berbeda dengan mereka, bahkan seringkali lebih tinggi. Hanya saja, kami memang memiliki ”banyak nol”.

Awalnya, semua itu diawali dengan percakapan yang sangat sederhana saat kami menunggu bis Airport Svarnabhumi, di salah satu trotoar jalanan di Bangkok.

”Satu rupiah berapa Bath?” Tanya seorang tukang parkir sambil memegang koin Rp200,00.

Saya pun menjawab (dengan agak bingung—karena malu), ”Satu rupiah itu kira-kira sepertigaratus Bath”.

Tetapi karena orang Thailand itu bahasa Inggrisnya sangat ala kadarnya, dia kurang begitu mengerti ”sepertigaratus” dalam bahasa Inggris. Akhirnya saya mengatakan, ”Satu Bath itu kira-kira tiga ratus rupiah”, dan dia pun cengok, tersenyum-senyum, lalu bercakap-cakap dengan temannya dalam bahasa Thailand. Saya tidak tahu pasti apa arti dari kata-kata mereka, tapi kira-kira maksudnya semacam mengatakan, ”Gila, satu bath 300 rupiah! (mata uang kita jauh lebih tinggi dari mata uang negara mereka!)”

Rasanya sangat amat tidak enak sekali menyebutkan angka ”sepertigaratus” itu. Benar-benar tidak enak. Apalagi saat mereka malah menanyakan, ”Kalau begitu satu USD berapa rupiah??” Maka semakin nyahoklah saya untuk mengatakan  bahwa satu USD itu kira-kira s.e.m.b.i.l.a.n  r.i.b.u  rupiah! (Sambil membayangkan ada tiga angka nol berderet yang harus saya katakan)

Itu pertama kalinya saya merasakan bahwa mata uang rupiah benar-benar tidak ada harganya, bahkan di hadapan mata uang negara tetangga.

Lalu dalam perjalanan menuju ke Svarnabhumi Airport, saya dan Histor, teman saya, membahas tentang hal ini. Tentang rasa malu yang amat sangat yang kami rasakan saat harus menjawab pertanyaan itu. Tentang bahwa kami sangat setuju jika uang Rp 1000,00 diganti menjadi hanya Rp 1,00 saja. Tentang kesulitan masa transisi redenominasi yang akan rela kami jalani, asalkan bisa menaikkan harga diri Indonesia di mata penduduk negara lain.

Secuil Catatan Perjalanan, Bangkok, 3 Desember 2010.

Depok, 18 Desember 2010

5:32 p.m.

*Naasnya, kejadian yang hampir sama juga berulang di Islamabad.

 
5 Comments

Posted by on January 19, 2011 in trip/traveling

 

5 responses to “Thailand Baht & Redenominasi Rupiah

  1. ully

    February 10, 2011 at 6:29 pm

    yup, saya sangat setuju dg ide redenominasi
    pernah ngalamin hal serupa waktu ke Australi ketemu sama orang India, mereka tanya, “satu ASD berapa rupiah?”, saya jawab “kira-kira 8500 rupiah”. awalnya mereka kaget, “satu ASD cuma 40 rupee” kata mereka.

    “. Tapi dengan cerdasnya salah satu dari mereka tanya, “kamu bisa beli apa dengan 8500 rupiah?”, saya jawab lagi, “saya bisa beli satu liter susu (padahal waktu itu harga susu dah naik jadi 10.000, tp kan mereka gak tau ya..^_-)”, mereka bilang lagi, “wah, kalo gitu sama, 40 rupee juga bisa dapat 1 liter susu”. hehehe….ga jadi malu deh

     
    • Nor Rofika Hidayah

      April 10, 2011 at 1:35 pm

      hehehe, waktu di Pakistan juga gitu. ada yg nanya, satu rupiah berapa pakistan rupee? sy bilang, satu rupee 100an rupiah… dia langsung cengo. teriak2 ke temen2nya, smacam bilang, “eh, eh, tau ga, satu rupee tuh 100 nilai mata uang mreka (IDR)”. Sial. haha. Abis itu saya jelasin ke mereka, living cost di Jakarta tapi lebih tinggi daripada Islamabad… Tapi tetep aja, malu dg nilai tukar yg kaya’ begitu. hehehe

       
  2. imel

    July 22, 2015 at 10:57 am

    kakak kakak kerja apa ?. koq bisa keliling dunia gitu.. aku mau dong kak ?? .. pengen bnget jalan jalan keluar negeri ..

     
    • Nor Rofika Hidayah

      July 27, 2015 at 9:59 am

      saya kerjanya masih cari beasiswa tp inshaAllah suatu saat jadi orang yg ngasi beasiswa…heheh

       
  3. imel

    July 31, 2015 at 3:36 pm

    looh tapi kakak koq sering keluar negeri ??. kirain kerja diamana gitu .. iya kak Ammiiiinnnn entar kasih aku beasiswa ya kak buat kuliah di luar negeri hehe

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: