RSS

Pre-Journey of A Week in Islamabad

03 Jan

Semua akan indah pada waktunya. Saya percaya itu. Dan tidak saya sangka, negara asing yang pertama kali saya tuju justru bukan negeri yang menjadi bagian dari benua Eropa, atau Australia. Bukan pula Jepang atau Korea Selatan, dan bukan pula Amerika Serikat.

Negeri itu justru adalah Islamic Republic of Pakistan. Sebuah tempat yang saya sendiri tidak pernah berpikir untuk menyengaja mengunjunginya. Takdir Allah memang misteri. Pada akhirnya saya justru “dikirim” ke Pakistan, dan karena itu saya sekaligus berkesempatan mencuci mata di Bangkok, dan ke-empat kalinya ke Bali. Ahaha! Dalam 2 minggu saya melakukan perjalanan ke Bali-Bangkok-Islamabad. What a life!

Pakistan memang negeri yang pertama kali saya tuju, tetapi negeri yang pertama kali saya datangi adalah Thailand, negara tetangga saya. Bukan menyengaja, tapi karena perjalanan saya ke Islamabad membuat saya harus transit selama 23 jam di Thailand, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan waktu transit tersebut untuk mengelilingi Bangkok.

Kadang lucu juga mengingat persiapan sebelum berangkat ke Pakistan, mulai dari membuat konten proposal, “merecoki” hidup seorang senior untuk membuatkan desain proposal, serta bolak-balik ke rektorat entah berapa kali. Belum lagi mengejar bis ke Jepara untuk mengirimkan proposal ke Pak Bupati.

Saya juga seringkali harus memelototi harga tiket pesawat. Berasa jadi seperti pialang saham saja rasanya. Harga tiket yang setiap menitnya bisa berganti angka, sempat membuat saya cukup frustasi karena harga pesawat sempat melonjak 2 kali lipat, dari 700an USD menjadi sampai 1300an USD. Saat itu ada sedikit rasa ingin menyerah. Tetapi saya kembali menyemangati diri sendiri, kalau itu memang sudah rizqi saya, ia tak akan lari ke mana. Saya percaya bahwa jika Allah menakdirkan, saya pasti akan sampai ke sana meskipun harus melalui jalan memutar. Saya akan berusaha sampai detik terakhir saya harus berangkat. Urusan apakah saya nantinya berangkat ke Pakistan atau tidak, biarlah saya serahkan saja kepada Allah. Yang jelas saya akan berusaha, dan berbaik sangka bahwa semua kesulitan yang saya temui hanya sekedar jalan yang harus saya lewati untuk sampai ke sana.

Dengan harga tiket yang melambung itu, saya akhirnya tetap melanjutkan proposal-proposal saya. Tetap mengurus visa dan lain-lain.

Mungkin ceritanya akan lain jika confirmation letter dari panitia saya terima setidaknya pada waktu yang lebih longgar. Saya menerima confirmation letter itu kira-kira 3,5 minggu sebelum jadwal pelaksanaan acara. Sama sekali bukan waktu yang lama karena saya masih harus mencari dana sponsor ke sana ke sini dan membuat proposal dengan konten yang berbeda-beda. Belum lagi proposal untuk ke DIKTI yang memiliki aturan yang ketat. Ditambah lagi saat itu saya sedang UTS. Jadilah saya mengorbankan UTS-UTS saya demi menyelesaikan proposal-proposal itu. Saking bingungnya, tanpa sadar saya pernah mengetik jawaban SMS justru bukan di HP, tapi di dalam proposal. Belum lagi terkadang membalas 2 SMS dari orang yang berbeda di dalam satu SMS. Benar-benar kacau, udah nggak ngerti lagi demi apapun.

Itu belum termasuk mengurus visa dan tiket, yang membuat saya berputar-putar di Kuningan sampai 6 kali, 2 kali bolak balik di Gatot Subroto, dan 1 kali di Thamrin dan 1 kali di Sudirman. Semua itu terjadi karena kenekatan saya untuk menemukan kantor Thai Airways dengan mengendarai motor sendirian. Padahal saya tahu betul kalau ingatan spasial saya buruk sekali. Dan pada akhirnya, setengah jam sebelum kantor Thai Airways tutup, saya menyerah. Saya menitipkan motor di Sarinah dan menyerahkan nasib pada tukang ojek untuk mengantarkan saya ke Thai Airways. Alhasil, saya sampai di kantor Thai Airways 10 menit sebelum kantor tersebut tutup! Fewh…

Keluar dari Thai Airways saya masih harus ke Kedutaan Pakistan untuk mengambil visa. Padahal saya sudah pernah ke sana. Tetapi, lagi-lagi, saya lupa jalannya, dan salah mengambil putaran jalan. Jadilah saya muter lagi di kuningan, yang kalau bisa mendapat hadiah piring cantik, pastilah saya dapat 2 piring cantik, karena saya 6 kali bolak-balik di Kuningan.

Dalam perjalanan ke Embassy tersebut, saya tahu waktunya tidak akan cukup. Embassy tutup jam17.00 dan saya yakin tidak akan sampai di sana dengan kondisi jalanan macet karena waktu pulang kerja. Di jalan rasanya saya ingin berteriak saja. Saya lapar, lelah, ngantuk, ditambah macet yang seperti itu. Belum lagi membayangkan Embassy yang sudah tutup ketika saya sampai di sana. Aaarrrrgghhh!

Lalu dengan nekatnya saya pun menelpon teman saya—yang sudah berada di Embassy—sambil mengendarai motor di tengah macet. Padahal menelpon saat mengendarai motor atau menyetir mobil adalah pantangan besar bagi saya. Saya meminta tolong ke dia agar dia membujuk orang embassy untuk menunggu sampai saya datang. Dan alhamdulillah, pertolongan Allah selalu ada. Bapak pegawai embassy yang baik itu mau menunggu, dan saya pun sampai di embassy jam17.15, lalu mengambil visa. J

(Semoga Allah membalas kebaikanmu, Pak… Amin..)

Cerita itu belum termasuk kejadian ketika saya menabrak palang parkir Mal Margo City, yang membuat dagu saya “tersangkut” cukup keras dan seketika membuat saya merasa mau mati di palang Margo City.

Ceritanya, setelah mengambil visa, saya pergi ke Margo City untuk belanja barang-barang yang harus saya bawa. Entah bagaimana, sepulang belanja, pikiran saya entah ada di mana. Saya benar-benar merasa sangat mengantuk dan lelah, ditambah lapar dan kurang minum.

Ketika akan keluar dari pintu parkir, pikiran saya seperti sadar tapi tidak sadar. Kosong. Setelah satu motor di depan saya melewati palang besi buka-tutup otomatis itu, saya tanpa sadar langsung menarik gas. Pada saat sama, palang itu menutup kembali, dan menimpa kepala saya. Tidak cukup sampai disitu. Palang itu lalu membuka lagi (diangkat petugas), dan dagu saya tersangkut lalu tertarik cukup keras ke atas. Pada detik itu, saya sempat berpikir, bahwa kepala saya akan putus dan hidup saya berakhir sampai di situ. Innalillah. Saya benar-benar merasa hampir mati.

Lalu dagu saya terlepas, dan palang pun terangkat ke atas lagi. Alhamdulilah saya tidak menabrak apapun, tidak juga menarik gas lebih keras. Saya dan motor saya masih berdiri tegak. Saya kaget, diam, tidak bicara apa-apa, dan langsung memegang leher saya. Tidak putus, tidak sobek! Tidak ada darah mengucur. Saya deg-deg-an sekaligus lega. Saya masih hidup. Hanya syok, kaget. Saya periksa kembali kepala saya. Jangan-jangan di secara fisik di luar tidak apa-apa, tetapi terjadi sesuatu di dalam kepala saya. Saya terdiam seperti patung sambil memegangi leher saya entah berapa lama.

Orang-orang yang naik motor di belakang barisan saya juga tidak protes, tukang parkir pun membiarkan saya terdiam seperti itu. Mereka tahu, saya syok.

Beberapa menit kemudian, tukang parkir menanyakan keadaan saya. Saya pun diam saja tidak menjawab. Lalu dia menanyakan kartu parkir saya, tanpa berkata-kata saya memberikan kertas parkir saya. Setelah diam sebentar, saya pun pulang dengan mengendarai motor sangat pelan. Pukul 22.30 WIB saya sampai di rumah. Alhamdulillah.

*dalam perjalanan ke rumah, saya baru ingat bahwa saya belum membayar parkir motor, hehehe.

Depok, 18 Desember 2010

23:04 p.m. (GMT+7)

 
4 Comments

Posted by on January 3, 2011 in trip/traveling

 

4 responses to “Pre-Journey of A Week in Islamabad

  1. NengEpa

    January 3, 2011 at 1:11 pm

    Pusiiiingg gw bacanya crutt..

     
    • setetestinta

      April 8, 2011 at 5:09 pm

      Pusing knp? baca gini doang pusing….dasar ibu2 GSB…. :p

       
  2. rita indrayani

    March 23, 2011 at 9:45 am

    wahh…seru juga ceritanya…boleh minta emailnya gak? saya mau nanya beberapa hal nih…thanks ya:)

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: