RSS

Layang-layang dan Pernikahan

31 Dec

Kami berpikir, pernikahan itu seperti layang-layang….
Istri bagaikan kertas, dan suami bagaikan bambu tipisnya. Lalu benang yang mengikat mereka, adalah pernikahan.

Pertautan yang sebenarnya sederhana tetapi menarik, antara kertas, benang, dan bambu. Itulah pernikahan.
Ketiga hal tersebut sangatlah sederhana, tetapi lihatlah bagaimana keseimbangan (antara kertas, benang, dan bambu) itu bisa membuat mereka melintasi langit hanya dengan tiupan angin. Mereka bisa melihat warna-warna indah bumi dari angkasa raya. Mereka, bisa melihat segala sesuatu dengan cakrawala yang berbeda: cakrawala yang lebih luas dan dengan berbagai sudut pandang. Cakrawala yang lebih luas dibanding ketika dulu mereka masih tak terikat menjadi layang-layang. Cakrawala yang tadinya terlihat biasa saja dari kerendahan, bisa mereka lihat menjadi lebih indah dari ketinggian.

Istri bagaikan kertas. Kertas yang sederhana, yang ketika belum menjadi layang-layang, ia tetap bisa dengan mudah tertiup angin, dan terbang. Tetapi terbangnya mungkin seringkali tak tentu arah, seringkali hanya mengikuti arah angin.

Suami bagaikan bambu itu. Dia adalah penguat.

Dan benang, ia adalah tali pengikat. Benang itu umpama tali pernikahan, yang mengikat keduanya menjadi satu. Menjadi layang-layang.
Layang-layang itu, tak akan ke mana-mana, tak akan bisa terbang, kalau pertautan ketiganya tidak seimbang. Karena itulah, jika telah bertautan mereka harus seimbang, dengan begitu mereka bisa terbang melayang ke udara.

Kertas yang tadinya hanya terbang mengikuti arah angin itu, kini bisa menggapai langit, dengan tidak terombang-ambing karena ada benang yang mengikatnya. Bambu yang tadinya tak pernah bisa terbang, kini bisa turut melayang menggapai cakrawala. Dan mereka, bisa terbang karena ada benang itu. Benang pernikahan.
Begitulah jika mereka telah bersama.

Layang-layang itu, meskipun bisa menikmati keindahan di angkasa, tetapi tetap saja mereka terkadang harus terguncang angin. Karena itu, ketika telah bersama mereka harus selalu tetap saling menguatkan satu sama lain, agar tidak terombang-ambing oleh tiupan angin. Mereka harus tetap menguatkan dari goncangan yang mencoba menerpa mereka. Karena itulah bambu ada, untuk menguatkan. Karena itulah kertas itu ada, untuk membuat bambu terbang melihat keindahan. Karena itulah benang itu ada, yang membuat mereka bertautan, untuk menggapai angkasa, dan menahan terpaan angin bersama.

Catatan tentang sebuah fase kehidupan yang mungkin akan saya jalani kelak, jika Allah mengijinkan.
Depok, 2009

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2010 in love, social

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: