RSS

I (don’t) Love Winter

31 Dec

Bagi penduduk negara di daerah tropis yang hanya memiliki 2 musim, yakni panas dan sangat panas, merasakan dinginnya winter, apalagi salju, tentu merupakan hal yang sangat menarik. Saya pun demikian. Kapan lagi bisa pakai baju tebal berlapis-lapis, coat panjang, memakai sarung tangan, syal, dan sepatu boot hangat? Hahaha. Dasar perempuan.

Akan tetapi, ketika merasakan sendiri, saya jadi berpikir ulang untuk mengatakan, “I love winter.”

Jangan dikira, winter itu definitely menyenangkan. Winter itu tidak selalu seindah yang dibayangkan. Dinginnya menusuk-nusuk tulang. Rasanya kulit masih akan beku meskipun sudah memakai sarung tangan, syal, baju lapis 4, dan sepatu boot (yang misalnya dipakai di Indonesia rasanya pasti panas sekali). Belum lagi udaranya yang kering. Udara saat itu masih tidak terlalu kering, tetapi cukup untuk membuat kulit wajah saya mulai mengelupas.

Kalau di Indonesia, berada di depan arang sate bukanlah merupakan hal yang menyenangkan karena terasa panas. Akan tetapi, ketika winter, tempat favorit saya ketika malam tentu saja duduk di depan perapian, atau di depan heater listrik yang besi-besinya tampak merah membara, atau….bersembunyi di balik selimut yang tebal. Just feel like in heaven there. Jangan tanya jika berada di dalam ruangan tanpa pendingin. Brrrrr….it’s freezing!

Suasana di depan perapian, menjelang dinner IYCF

Suasana di depan perapian, menjelang dinner IYCF

Padahal suhu di sana baru berkisar antara 2-10 derajat. Ah, apa jadinya kalau saya tiba di sana ketika salju sudah turun? Yang jelas saya tidak akan jadi putri salju seperti di cerita dongeng waktu saya SD itu.

Ketika winter, yang paling menyenangkan adalah siang hari. Karena selain warna langitnya yang luar biasa cantik, saya juga masih bisa merasakan sinar mentari yang hangat ketika menerpa kulit. Kalau sudah begitu, rasanya saya ingin berlari-lari lalu memeluk matahari! Hahaha, lebay. Tapi memang seperti itulah rasanya.

Birunya langit ketika memasuki awal musim dingin di Islamabad

Birunya langit ketika memasuki awal musim dingin di Islamabad

Perjalanan saya ke Pakistan yang sedang memasuki musim dingin di awal Desember lalu merupakan pengalaman tersendiri, yang kemudian mengubah view saya tentang winter. Saya yang seringkali membenci cuaca panas, di sana berubah menjadi “I love summer!”
Ternyata, winter tidak se-menyenangkan yang saya bayangkan.

Depok, 31 Desember 2010
*sedang merindukan langit biru Islamabad ketika winter.

 
Leave a comment

Posted by on December 31, 2010 in experience, moment, trip/traveling

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: