RSS

How a Child Learn from Stories

19 Apr

Tanpa disadari seorang anak pasti selalu memiliki keinginan untuk membuat orang tuanya, dan orang-orang yang dicintainya merasa bangga atas keberadaannya. Dorongan itulah yang terkadang membuat seorang anak selalu ingin berprestasi. Tanpa disadari, seorang anak akan berusaha mengimitasi orang-orang yang dibanggakan oleh kedua orang tuanya atau orang-orang terdekatnya. Tanpa disadari, seorang anak bertumbuh dengan keinginan meniru apa yang bagi orang terdekatnya itu adalah sesuatu yang dianggap membanggakan. Tanpa disadari, sebenarnya seorang anak belajar dari apa yang seringkali diceritakan kepadanya: tentang prestasi, budi pekerti, keramahan, dan tentang gambaran seperti apa yang dia inginkan kelak: sebuah zaman bernama “masa depan”.

Itu adalah teori saya sendiri. Saya tidak membaca buku psikologi perkembangan apa pun, juga tidak membaca teori psikologi anak (pernah sih, tapi sudah lupa juga apa isinya). Itu saya simpulkan berdasarkan pada apa yang saya baca pada diri saya sendiri, pada adik saya, ketika kami bertumbuh dari kecil hingga sekarang.

Ibu saya, yang lulusan SMA, sama sekali bukan tipe ibu yang rajin membaca buku tentang bagaimana cara mendidik anak. Tapi, (mungkin tanpa disadarinya) ibu saya adalah ibu yang baik. Ibu jarang sekali menggurui saya dengan teori-teori bagaimana bersikap ramah kepada orang lain. Tapi, ketika melihat saya nyelonong begitu saja ketika melintas (lewat) di depan tetangga tanpa menyapa, beliau akan mengingatkan saya, bahwa kita harus tersenyum dan menyapa orang tersebut.

Ibu saya (hampir) tidak pernah mengatakan bahwa seseorang yang memakai tas merek Prada, sepatu Charles & Keith, sandal Converse adalah orang yang keren. Ibu saya tidak pernah mendefinisikan “keren” atas apa merek pakaian, sepatu, sandal, dompet yang dipakai oleh seseorang. Karenanya, meskipun pada dasarnya saya senang bisa membeli sepatu, tas atau apapun itu yang bermerek (baca: berkualitas), di sisi lain saya juga tidak ambil pusing dengan sepatu harga 20.000 yang saya pakai setiap hari, tas export yang sudah mulai butut, atau sandal 10ribu-an yang saya beli di malioboro.

Ibu saya juga tidak pernah menuntut saya menjadi seorang siswa, atau mahasiswa yang prestatif. Sekali pun, tidak pernah. Tapi beliau seringkali menceritakan kebanggaannya kepada adik-adiknya yang menjadi dosen di UGM, mendapat beasiswa S3 di luar negeri, paper yang diterima di sana sini, IPK sempurna (4,00), dll. Dan dari cerita itulah, saya (merasa) tahu, ibu saya ingin saya seperti om-om saya itu. Berprestasi. Meskipun demikian, sekalipun ibu saya tidak pernah menuntut, bahkan mengatakannya pun tidak. Itulah yang saya kagumi dari ibu. Beliau tidak menuntut kepada saya, dan anak-anaknya yang lain, untuk melakukan sesuatu yang meskipun itu membahagiakannya.

Love U, Mom…

 
Leave a comment

Posted by on April 19, 2010 in child, love, social

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: