RSS

Kehidupan Setangkai Perasaan

30 Mar

Ada kalanya kita tak bisa melepaskan seseorang yang pernah menggoreskan asa dalam hidup kita. Saya sendiri pernah mengalaminya. Merasakan bagaimana harapan itu memberontak dan mengoyak sepenggal napas saya. Membuat saya selalu ingin berlari meninggalkan masa lalu, sekaligus ingin memeluk hari-hari yang sirna agar tidak semakin memudar. Padahal, saya tahu, saya tidak perlu berbuat seperti itu. Saya tidak harus berlari, tidak pula harus memeluk hari-hari yang lalu. Karena masa lalu adalah hal terjauh dalam kehidupan manusia. Dia tidak bisa mengejar, dikejar, diraih, apalagi digenggam agar tidak meninggalkan kita.

Terkadang, bahkan seringkali, kita tidak rela dengan sekotak perasaan yang berpindah. Kita seringkali tidak rela memiliki kisah tentang segenggam hati yang tak lagi bersedia mendefinisikan keberadaan kita. Saya juga pernah mengalaminya. Saya pernah berharap agar waktu bersedia menggerus saya, agar angin mau menerbangkan saya menjadi debu-debu yang tak perlu diingat dan dikenang siapa pun.

Saya ingin berlari, tapi seringkali saya merasa tidak punya tempat untuk berlari. Saya (merasa) kehilangan sahabat. Seorang yang tadinya paling sering saya ajak bercerita, berbagi tentang banyak hal. Tiba-tiba saja, saya benar-benar merasa sendirian.

Saya merasa lupa bagaimana caranya untuk tersenyum, terkikik dan tertawa lepas seperti dulu. Tawa saya seringkali terasa “formal”. Seringkali saya tertawa hanya untuk membuat saya tampak normal seperti yang lain. Saya tertawa ketika orang lain menertawakan hal-hal yang mereka anggap lucu. Kenyataannya seringkali saat itu saya tidak benar-benar ingin tertawa.

Padahal, jika kita mau dan mampu memahami bahwa perasaan hanyalah setangkai kehidupan, kita mungkin tidak perlu bersikap demikian. Seperti layaknya tumbuhan, tangkai itu bisa bertumbuh, berbunga, layu, mati, atau mungkin mati suri seperti rumput teki.

Dan pada akhirnya, kita tidak perlu memaksa diri…

Perasaan hanyalah setangkai kehidupan. Semua rasa itu akan tumbuh jika memang ia harus bertumbuh. Dan sebaliknya, ia akan layu dan mati jika memang harus layu dan mati. Atau mungkin, rasa itu akan menjelma menjadi rumput teki, yang mati, tetapi kemudian hidup dan bertumbuh lagi jika disirami.

 
Leave a comment

Posted by on March 30, 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: