RSS

Catatan Perjalanan: Pecahkan Rekor MURI Menyuluh 2010 Keluarga

30 Mar

Banyak hal yang kita peroleh jika kita mau turun ke lapangan. Mulai dari masyarakat yang buta huruf, orang-orang yang tidak bisa tanda tangan, ibu-ibu yang senang meski hanya diberi sebungkus bingkisan berisi sabun mandi dan odol, sampai bapak-bapak yang berteriak dengan kasar,”kalau kamu mau wawancara, lantas apa urusannya dengan saya?? Saya nggak mau diwawancarai. Pergi sana!”

Hari Sabtu kemarin (27 Maret 2010) saya mengikuti kegiatan bertajuk “Keluarga BERSATU, Ketuk 2010 Pintu”. “BERSATU” di sini adalah singkatan dari “BERSama berAntas TUberkulosis”. Kegiatan tersebut adalah program yang diadakan oleh Program Kemanusiaan Peduli Ummat (PKPU) untuk memperingati Hari Tubelkulosis Sedunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret. Selain itu, kegiatan tersebut juga untuk memcetak rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Kegiatan Penyuluhan Terbanyak, yakni menyuluh sebanyak 2010 rumah dalam waktu 1 hari (hanya beberapa jam sebenarnya).

Pantas saja masalah kesehatan tidak kunjung bisa teratasi. Lha wong masyarakat kita saja masih banyak yang buta huruf. Lha wong tanda tangan saja masih banyak yang tidak bisa. Dan banyak lagi lha wong-lha wong lainnya. Padahal itu adalah portrait orang-orang yang hidup di ibukota Jakarta—yang notabene salah satu kota paling padat dan metropolit di Indonesia. Maka saya benar-benar tidak berani berpikir dan membayangkan bagaimana dengan mereka yang hidup di pelosok Kalimantan, Sulawesi, papua. Atau mungkin mereka yang tinggal di pulau-pulau kecil yang belum sempat diberi nama.

Kita bisa saja mengatakan dengan enteng, “Salah satu cara untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah melalui penyuluhan, membuat media promosi berupa poster, leaflet, dan sebagainya.” Akan tetapi, kenyataannya semua tidak semudah itu. Apa gunanya leaflet-leaflet itu kalau ternyata masyarakat masih banyak yang buta huruf? Seberapa banyak manfaat penyuluhan yang kita berikan kalau mencerna penjelasan kita saja bagi mereka adalah hal yang susah?

Kita bisa saja dengan mudah menyebutkan teori, “agar bakteri TBC tidak tumbuh di rumah kita, kita harus sering membuka jendela dan pintu rumah (ventilasi) agar udara dan sinar matahari masuk. Dengan begitu bakteri-bakteri tersebut akan mati.” Tapi masalahnya adalah rumah tinggal mereka bahkan tidak memiliki cukup jendela. Mereka tinggal di rumah-rumah petak yang berdempet-dempetan, dengan jendela tunggal yang hanya ada di bagian depan. Di bagian kamar? Jangan tanya. Saya yakin pasti gelap dan lembab lantaran tak ada cukup ventilasi udara. Dengan demikian, permasalahannya bukan lagi sesederhana membuka pintu dan jendela rumah lebar-lebar, bukan lagi bagaimana menyebarkan kertas-kertas berisi pesan kesehatan. Akan tetapi, permasalahannya bertemu lagi pada masalah ekonomi, kemiskinan, rendahnya pendidikan, mitos, dan deretan permasalahan lain yang jika kita sebutkan tanpa jeda dan menarik napas mungkin bisa membuat kita mati kehabisan napas, saking kompleks dan banyaknya permasalahan tersebut. Sophisticated problems web, begitulah intinya.

Banyak hal yang kita peroleh jika kita mau turun ke lapangan. Mulai dari masyarakat yang buta huruf, orang-orang yang tidak bisa tanda tangan, ibu-ibu yang senang meski hanya diberi sebungkus bingkisan berisi sabun mandi dan odol, sampai bapak-bapak yang berteriak dengan kasar,”kalau kamu mau wawancara, lantas apa urusannya dengan saya?? Saya nggak mau diwawancarai. Pergi sana!”

Karena itulah (ada kalanya) saya suka turun ke lapangan. Setidaknya saya bisa melihat dunia bernama “realita” yang tidak bisa kita temui di kelas-kelas, seminar, bahkan kongres dan simposium internasional, apalagi kehidupan penuh fantasmagoria yang bisa dengan mudah ditemukan di sinetron-sinetron televisi.

 
Leave a comment

Posted by on March 30, 2010 in experience

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: