RSS

Kenangan Waktu Kecil

08 Aug

Waktu kecil, saya suka sekali bermain layang-layang. Yah, tepatnya mungkin merecoki om-om saya yang bermain atau membuat layang-layang. Om Pang, Om Afi, dan Om Alam. Mereka lebih sering membuat daripada membeli layang-layang. Kata mereka, layang-layang buatan sendiri lebih “tangguh” daripada layang-layang yang dibeli di warung. Kadang saya suka request dibuatkan juga, tapi curangnya, layang-layang yang mereka buatkan untuk saya pastilah tidak sebagus yang mereka buat untuk diri sendiri.

Saya tidak bisa menerbangkan layang-layang, paling hanya berlari ke sana ke mari di jalan depan rumah mbah, dengan memegang benang sepanjang 3-4 meter yang berujung layang-layang. Atau, saya menunggui layang-layang om-om saya yang sudah jauh di atas langit, mungkin sudah kelap kelip ukuran 2 x 2 cm kalau dilihat dari bawah. Biasanya saya duduk di atas “tempolong” (bahasa jawa dari “kaleng”) yang tak lain adalah gulungan benang dari layang-layang yang sudah menjulang ke langit ke tujuh itu. Kadang-kadang saya berpikir sambil melihat layang-layang itu: pasti seru kalau saja saya bisa naik layang-layang itu, lalu terbang meliuk-liuk bersama angin di atas sana.

Dulu sering ada kompetisi layang-layang. Saya lupa istilahnya. Yah begitulah, yang berpeluang menang tentu saja yang punya skill bermain layang-layang yang bagus, dan punya benang yang lebih tajam (benang yang tajam itu biasanya lebih mahal harganya). Untuk hal ini, om-om saya punya cara jitu. Biasanya mereka membeli benang yang bukan top quality, jadi tidak terlalu mahal. Tapi sampai rumah, mereka akan “menggelas” benang itu agar jadi tajam. Benang itu semacam diasah dengan pecahan kaca/gelas, jadi akan lebih tajam untuk memotong benang lawan.

Kompetisi layang-layang ini bisa jadi spontan, atau sudah janjian. Kalau spontan, biasanya salah satu akan “mengompori” dengan cara mendekati layang-layang lain, lalu melilitkan layang-layangnya. Kalau sudah begitu, biasanya permainan jadi agak sengit, tarik menarik, dan tidak berhenti sampai ada satu layang-layang yang putus. Saat itu, tentu saja saya nggak boleh pegang kendali benangnya karena pasti akan kalah kalau saya yang main.

Kalau sudah ada 1 layangan yang putus, akan ada sorak sorai dari pihak yang menang, lalu anak-anak (kebanyakan laki-laki) sekampung berlari-lari mengikuti arah jatuhnya layangan. Itu adalah kompetisi kedua, yakni untuk mendapat layang-layang yang jatuh. Bukan layang-layangnya sebenarnya yang diburu, tetapi benangnya. Karena benang yang putus itu biasanya cukup panjang, dan menguntungkan karena bisa disambung dengan benang sendiri.

Saya juga ikut-ikutan lari ke sana ke mari, ke mana saja mereka lari, saya akan ikut, sok-sok-an ikut menyerbu layang-layang, padahal saya tahu, saya pasti kalah, karena mereka hampir semuanya cowok! Saya selalu lari di urutan paling belakang.

Tentu saja saya lari-lari dengan kebandelan saya–karena biasanya om-om saya itu tidak memperbolehkan saya ikut mereka. Intinya, kata mereka itu urusan cowok, hahaha. Selalu begitu, kalau sudah yang seru-seru saya dilarang ikut. Padahal saya suka sekali meskipun cuma lari-lari dengan mereka.

Mainan yang lain, pulang sekolah saya suka sekali sepedaan, boncengan dengan om-om saya itu, melewati gang-gang kecil yang nantinya kami sendiri tak tahu di mana keluarnya. Menganggap itu adalah petualangan seru melewati tikungan-tikungan sempit di antara rumah rumah di daerah panggang dan sekitarnya. Lalu setelah keluar jalan raya, kami akan berkata, “Ooo….ternyata keluarnya di jalan ini…” Lalu kami sepedaan keliling ke sana kemari lagi, dan saya selalu dibonceng di belakang, entah dengan sepeda federal, atau sepeda unta, atau sepeda jengki milik mbah.

Mainan yang tak kalah seru lainnya adalah getek. Nah, hobi ini puncaknya ketika saya mungkin kelas 3-5 SD. Saya tidak begitu ingat. Getek adalah semacam sampan dari bambu yang disusun mendatar seperti papan, dan di bawahnya diberi gabus (sterofoam) agar bisa mengapung. Getek ini dipakai di tambak untuk memberi makan udang/ikan. Untuk menggerakkannya, kami memakai bambu yang panjangnya kira-kira 3 meter.

Biasanya saya bermain getek dengan om Aji, dan satu orang temannya lagi saya lupa, temannya yang tinggal di dekat tambak di sekitar pantai Kartini. Waktu itu, saya mengganggap temannya itu pastilah “dewa angin”. Karena entah kenapa setiap kami bermain getek di tambak dengan temannya itu, angin tambak sepertinya langsung datang. Dan semua jadi lebih menyenangkan karena artinya kami tak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menggerakkan getek–karena sudah terdorong dengan angin. Biasanya setelah bermain getek, kami akan masuk ke komplek perkantoran BBAP (balai budidaya air payau), lalu mencari buah kresem/kresen. Tentu saja, selalu om saya itu yang memanjat, dan saya di bawah pohon membawa plastik kecil, mengambil buah-buah kresem yang dilemparnya dari atas. Setelah terkumpul cukup banyak, kami akan pulang sambil memakan buah kresem itu di sepanjang jalan pulang.

Hmm….masih ada mainan yang lain: kelereng. Sama seperti yang lain, saya juga “pupuk bawang” alias “anak bawang”. Cuma liat, sesekali ikut main kalau sudah merengek-rengek. Kalau pun kena (tapi biasanya sangat jarang, hihihi), nanti kelereng yang kena itu akan dikembalikan ke titik asalnya lagi. Jah. Selalu semena-mena mereka itu. Tapi ya mau gimana lagi, memang saya nggak bisa main. Bahkan pegang kelereng saja belum becus, haha.

Jadi lebih sering saya hanya menonton (terutama kalau main kelerengnya serius: kelereng yang kena akan dibawa pulang). Biasanya saya duduk atau jongkok di pinggiran, sambil sesekali pindah ke sana sini mengikuti arah kelereng, terkadang membawakan kelereng yang om saya peroleh di saku-saku baju, kantong plastik, atau kardus kecil. Dengan modal 10 biji kelereng, om saya bisa membawa pulang sekardus kecil kelereng. Karena itu kelereng di rumah mbah ada banyak sekali, hasil “kemenangan-kemenangan” om saya itu.

Sebenarnya masih ada banyak lagi yang lain: main pedang-pedangan dari kayu, truk-truk-an dari karton, ninja-ninja-an dengan sarung, bermain rumah-rumahan di atas pohon jambu, memancing di kali setelah hujan, juga bermain burung dara (istilahnya “keplekan”) di pinggir sawah. Tepatnya di sebuah gang di pinggir sawah yang sering disebut orang dengan “gang tai”, hahahahaha.┬áKenapa namanya begitu? Kapan-kapan mungkin saya ceritakan, kalau sedang ingin menghibur diri.

Intinya, mainan-mainan saya waktu kecil kebanyakan adalah mainan cowok, dan teman-teman saya kebanyakan juga cowok: om-om saya itu.

Jadi waktu mereka pergi kuliah (waktu itu saya masih kelas 3 SMP), saya kesepian sekali. Sesekali saya pernah naik pohon jambu biji di belakang rumah mbah, lalu menangis di situ sendirian. O ya, di bawah pohon jambu itu juga ada kuburan kucing om saya, namanya Cela dan Celi, yang mati karena keracunan air gamping. Saya menangis sesenggukan waktu kucing-kucing itu mati. Terkadang bahkan waktu malam saya mimpi kalau Cela hidup lagi, lari ke sana kemari di depan rumah mbah, sambil sesekali loncat-loncat.

 
1 Comment

Posted by on August 8, 2011 in Uncategorized

 

One response to “Kenangan Waktu Kecil

  1. jiut

    October 27, 2011 at 1:22 am

    haha… dia(Alam) emang begitu, itu alasan aja biar ga diganggu.. dan ternyata mmg bawaan dari kecil ya, saat2 kuliah jg kadang keluguan dan kekonyolannya keluar tanpa dia sadari… seringya dia bilang “.. oo ngono to, ko baru ngerti yo”… yg buat sontak kita smua ketawa…
    but so far his a good guy. semoga dia bisa mnjadi bapak yg baik bagi calon anak yg akan lahir….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: