RSS

Random Notes of My Life

Sebagian teman saya pergi S2 ke luar negeri. Belanda, Korea, Jepang, Inggris. Kebanyakan yang lain bekerja di bidangnya, di perusahaan multinasional. Beberapa yang lain tetap di perusahaan multinasional, meskipun bukan di bidangnya. Yang lain lagi, tetap mengejar mimpi-mimpinya, entah itu bekerja di UN, meneliti, dan sambil mencari beasiswa ke luar negeri, tentunya. Yang lain lagi, seperti saya, bekerja di bukan bidangnya, tapi tetap saja, adalah bidang yang saya sukai, saya cintai bahkan. Yang anehnya, justru baru saya sadari akhir-akhir ini. Ketika tadinya (mungkin tanpa sadar) saya malu mengakuinya, bahwa ternyata saya merasa tidak cocok menjadi seorang peneliti–pada titik ini, saya bersyukur, saya akhirnya memutuskan untuk menjalani apa yang memang ingin saya tekuni.

Juli 2012. Pertama kalinya saya melangkahkan kaki, secara formal, diterima menjadi salah satu bagian dari PT Relife Property. Sesuatu yang mungkin agak sulit diterima oleh ibu saya, pada awalnya. Karena sejak awal, saya selalu berkoar-koar bahwa kehidupan kampus dan menjadi akademisi adalah passion saya. Karena sejak awal, ibu saya sangat membanggakan adik-adiknya–di depan saya–yang menjadi akademisi. Karena alasan simpel itulah, tanpa sadar saya merasa ingin menjadi akademisi. Seperti om-om saya yang sangat dibanggakan ibu saya itu. Kalaupun ada alasan lainnya, itu hanyalah justifikasi yang sifatnya objektif dan reasonable. Mungkin, bagi ibu saya, kalaupun bekerja di perusahaan, kenapa harus Relife? Kenapa bukan yang lain?

Keluarga saya adalah keluarga yang bertumbuh dari bawah. Jika sekarang setiap lebaran di depan rumah mbah berjejer mobil-mobil yang relatif tak bisa dibilang murah, itu bukanlah hasil tidak kerja keras. Orang seringkali tidak mengira bahwa keluarga mbah adalah keluarga yang broken home, mbah “hanya” penjahit yang dulu hidupnya sangat pas-pasan, dan lain-lain. Sekali cerita ibu saya mengatakan, beberapa kali orang mengira bahwa kakek atau nenek saya, barangkali adalah dosen. Dan kala itu, ibu saya hanya menjawab, “Tidak…” sambil tersenyum dan bersyukur, bahwa orang tsb berbaik sangka pada keluarga kami.

Hidup kami berubah karena satu jembatan: pendidikan. Di saat yang sulit itu, mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti ini, jika saja mbah tidak “memaksa” anaknya untuk kuliah nun jauh di sana. Mungkin, semuanya tidak seperti ini jika saja mbah “menuruti” pesimisme orang-orang di sekelliling kami bahwa mbah tak mungkin mampu menyekolahkan om-om saya itu. Dan memang, tak bisa dipungkiri bahwa kemampuan ekonomi mbah saat itu secara objektif tidak mumpuni, sehingga barangkali semuanya tidak seperti ini, jika om-om saya, tidak bekerja keras untuk tetap kuliah: jadi kuli bangunan, ikut proyek di tengah hutan, diusir dari kosan dan tidur di masjid karena tak ada uang, ngamen di jalanan, dan lain-lain. Mungkin, jika sekarang saya lihat anak-anak kuliah banyak yang nyambi mengajar, jaman dulu mungkin itu adalah tingkatan teringan bagi om-om saya itu untuk mencari uang. Jika ibu saya tidak memutuskan untuk tidak kuliah dan memilih jadi PNS untuk membantu ekonomi keluarganya saat itu, mungkin, hari ini tidak seperti ini adanya.

Di tengah sulitnya hidup mereka itu, om-om saya tetap menjadi pribadi yang bagi saya ‘outstanding’. Berprestasi adalah hal biasa, tapi berprestasi di tengah himpitan hidup dan keluarga yang tak lengkap sama sekali bukanlah hal biasa. Om Iin dengan summa cumlaude-nya (IPK S2 4,00; sbg lulusan master tercepat, terbaik, dan termuda) dan kemudian S3 ke Swedia, sesuatu yang bagi keluarga kami adalah beyond the reach, kala itu. Ke luar negeri, dengan cara apapun itu adalah kemewahan. Kemewahan yang belum pernah kami peroleh sebelumnya. Maka pada titik itu, mungkin adalah sebuah turning point dalam hidup saya: saya mulai bermimpi tentang sekolah dan luar negeri. Bahwa saya hanya bisa ke luar negeri dengan beasiswa. Bahwa untuk mendapatkan beasiswa saya harus menjadi yang terbaik, di mana pun saya berada.

Pada suatu ketika, saat hari telah petang, di teras rumah mbah, saya mengobrol dengan ibu dan Om Bilal–yang sekarang menjadi dosen Geodesi UGM. Tentang kehidupan kami, tentang masa depan saya, tentang sekolah, dan entah apa lagi saya tidak ingat. Yang saya ingat, Om Bilal mengatakan, bahwa menjadi dosen, adalah pekerjaan yang paling cocok. Secara ekonomi, mungkin tidak kaya raya, tetapi lebih dari cukup. Secara sosial, sangat mendapat tempat dan respek dari masyarakat. Waktunya pun fleksibel, apalagi buat saya yang perempuan. Lalu ibu saya pun mengiyakan, dan mengatakan, “besok kamu jadi dosen aja gimana?”

Pada titik itulah, saya semakin bermimpi untuk menjadi dosen. Di otak saya hanya ada: dosen, luar negeri, dan beasiswa. Dan untuk mendapatkan ketiganya, cara termudah adalah saya selalu menjadi yang terbaik, berprestasi.

Sejak itulah, saya mulai berpikir tentang raport saya di sekolah, nilai 8, 9 versus 10, ranking, dan paralel. Saya mulai mengenal istilah “bersaing”. Saya mulai peduli apakah saya akan membawa pulang piala kelas atau tidak. Saat itu, saya masih kelas 5 SD, dan saya telah menemukan mimpi saya untuk menjadi seorang dosen.

Semuanya pun berlanjut saat saya memasuki bangku SMP, SMA, kuliah, bahkan pasca lulus sarjana. Saya, masih saja bermimpi menjadi dosen. Sampai-sampai rasanya saya enggan beranjak dari kehidupan kampus. Saya masih asyik ikut proyek-proyek dosen, kebanyakan proyek training, dan justru bukan proyek penelitian.

*to be continued…

 
1 Comment

Posted by on May 22, 2013 in Uncategorized

 

Yang Unik-unik di Gili Nanggu

Sudah pernah baca posting saya tentang Gili Nanggu?

Dermaga Sekotong - Menuju Gili Nanggu

Dermaga Sekotong – Menuju Gili Nanggu

Nah, postingan ini adalah lanjutannya. Singkat cerita, Nanggu adalah pulau kecil di barat daya Pulau Lombok, yang superb, dan ngangenin. Para pecinta pantai seperti saya, kalau sudah sekali ke Nanggu pasti ingin balik lagi. Apalagi kalau traveler bule-bule Eropa yang memang mencari destinasi pantai-pantai tropis.

Saat makan malam di Nanggu, saya sempat mengobrol panjang dengan pengelolanya. Namanya Pak Yusuf. Seingat saya, waktu itu beliau bercerita bahwa beliau sudah 8 tahun mengelola Nanggu. Dan selama beliau di Nanggu, ada banyak cerita yang beliau bagikan. Mulai dari jungkir balik memasang instalasi air tawar dari mainland Lombok ke Nanggu, keindahan hutan kecil di Nanggu saat musim panas, bunga flamboyan yang sangat flamboyan, hingga tentang Bintang–seekor anjing jantan yang menghuni Nanggu.

Hutan Kecil di Nanggu

Image

Forest path Gili Nanggu

Jika pergi ke Nanggu, sempatkanlah keliling pulau. Ini tak akan memakan waktu 2 jam untuk berputar 360 derajat. Tips: bawa payung atau topi, karena panasnya benar-benar menyengat. Di salah satu ujung Nanggu, ada hutan kecil dengan pohon setinggi 10-20an meter. Dari cerita Pak Yusuf, dulu Nanggu adalah pulau kecil yang indah tapi gundul. Tak ada pepohonan rindang seperti sekarang. Sekarangpun Nanggu tetap indah, tetapi sudah rimbun dengan pepohonan besar, termasuk flamboyan cantik yang saat peralihan musim berbunga sangat semarak.

Usut punya usut, ternyata pepohonan di Nanggu sengaja ditanam: sejak 20 tahun-an lalu. Gili yang tadinya gundul seperti Gili Tangkong sekarang (hanya ada pohon kelapa, bahkan lebih gundul), kini sudah rimbun dan hijau. Saat musim kemarau, bahkan lebih indah, pepohonan di hutan kecil Nanggu menggugurkan daunnya. Hanya ranting-ranting kering yang nampak di pohon, sehingga ada sisi di mana ada autumn kecil di Nanggu. Autumn dengan suhu tropis tentunya, hehe.

Tak Ada Money: Ngebon Dulu

Saking cintanya dengan Nanggu, banyak turis yang tiap tahun datang ke Nanggu saat musim panas. Bahkan, mereka para Nanggu Mania ini sudah booking kamar sejak 1 tahun sebelumnya! Gile bener niatnya. Yang aneh lagi, ada yang bela-belain ngebon dulu alias ngutang sama pengelola karena pengen ke Nanggu tapi nggak punya duit buat bayar nginepnya. haha. Mereka yang ngebon ini bisa nginep berminggu-minggu. Mereka akan membayar tagihan menginap setelah balik ke negaranya, dan setelah punya duit! Ckckck. Baik banget Pak Yusuf nerima tamu tipe tukang ngebon. :)

Lain cerita dengan tamu yang ngebon, ada juga tamu yang hampir setiap tahun menyimpan deposit uang di Nanggu. Jadi di tahun berikutnya, ketika berkunjung kembali ke Nanggu, dia sudah punya “tabungan”. Deposit itu kadang bahkan masih bersisa, sehingga masih disimpan untuk tahun berikutnya lagi.

Image

Makan siang dengan Pak Yusuf (Kaos Putih) – GM Gili Nanggu

Aktivitas Long Stay Guest

Kalau yang parah, tamu Eropa yang menginap di Nanggu tidak hanya menginap seminggu dua minggu, tapi bahkan bisa sebulan dua bulan! Gileee, itu nginep apa pindahan? Kata saya dalam hati, waktu diceritain Pak Yusuf. Dan ngapain aja mereka selama itu di Nanggu? Jawabannya: snorkeling, berjemur, ke cottage. Baca buku, renang, berjemur, ke cottage. Baca buku, snorkeling, ngobrol sama pegawai Nanggu. Renang, snorkeling, tidur. Begitu terus sampai mereka bosen dan bingung mau ngapain.

Kalau sudah bingung mau ngapain, tapi mereka belum pengen pergi dari Nanggu, tingkah mereka akan mulai aneh-aneh. Mulai dari ikut masak di dapur bareng tukang masak di Nanggu, bikin pizza, panen cabe, bahkan iseng pinjem perahu dayung nelayan, lalu melaut dan mancing seharian. Hasil tangkapannya akan dimasak rame-rame dengan penghuni (a.k.a. pegawai) Nanggu. Yang lebih parah lagi, ada yang sampe ngejar-ngejar ayam-ayam di Nanggu. Kalau udah ketangkep ayamnya, mereka akan ngakak-ngakak, dan penghuni Nanggu cuma bengong-bengong sambil ngekek juga. -_-?

PizzaNanggu-Mania

Selama saya di Nanggu, masakannya enak-enak. Nasi gorengnya, ikan gorengnya, ikan bakarnya, jusnya, tempenya, tahunya. Pokoknya semua enak, hehehe. Padahal tak ada chef di sana. Para penghuni dapurnya adalah orang-orang lokal yang pendidikannya tidak tinggi, bahkan tidak sekolah dan mereka yang buta huruf.

Yang cukup legendaris adalah pizza lokal buatan Nanggu. Menurut saya, tak ada pizza seenak di Nanggu. Saya yang tak begitu suka pizza bahkan suka pizza buatan Nanggu. Bahkan, ada orang Bali, pelanggan pizza Nanggu yang kalau ingin makan pizza sengaja nyebrang ke Nanggu (dari Bali): cuma untuk makan pizza! #Maknyaakkk!

Keenakan pizza Gili Nanggu, bahkan diakui oleh para tamu yang asalnya dari Negeri “Pizza” Italia.

Kata mereka, “Saya ini hidup di Italia, tapi belum pernah nemu pizza seenak ini…” Uwow!

Image

Pizza Enak ala Gili Nanggu

Kisah Bintang dan Bulan

Di Nanggu, ada seekor anjing jantan lucu yang ramah. Namanya Bintang. Dia tidak mengganggu, tapi karena saya takut kalau kena najisnya, jadi saya takut-takut kalau Bintang ngikutin saya ke mana-mana. Aslinya, kata Pak Yusuf, Bintang suka mengajak tamu yang baru datang untuk keliling pulau. Kalau tidak dihalau, dia akan ngekor kita ke mana-mana, terkadang nunjukin jalan untuk muter-muter pulau.

Ternyata Bintang dulu punya pasangan betina, namanya Bulan. Mereka anjing yang sejenis, dan tumbuh besar bersama dari kecil. Jadilah di mana-mana, kalau ada Bintang di situ juga ada Bulan. Mereka sama-sama ramah dan lucu. Pada suatu hari, Bulan tanpa sengaja ikut terbawa kapal angkut yang setiap hari mengangkut air tawar dari Lombok ke Nanggu. Pada saat itu, instalasi air tawar di Nanggu belum terpasang, sehingga pengelola harus mengangkut air setiap hari dari Lombok ke Nanggu dengan kapal angkut. Bulan pun ikut terbawa sampai Lombok. Setelah turun di pulau, Bulan kebingungan karena merasa asing dengan Lombok, dengan kendaraan dan keramaian orang-orang. Sejak kecil memang tumbuh di Nanggu di mana sepeda pun tidak ada. Dia jalan ke sana-sini dan tidak terbiasa menyingkir saat ada kendaraan. Sedihnya, Bulan akhirnya tertabrak mobil.

Beberapa hari setelah Bulan hilang, warga lokal pun memberi tahu pengelola Nanggu bahwa bulan tertabrak mobil. Setelah itu, Bintang setiap malam melolong-lolong tidak karuan, sampai berhari-hari lamanya. Kasian sekali si Bintang.

*Foto Bintang menyusul ya…

Begitulah cerita yang saya dapat selama menginap semalam di Nanggu. Kalau nginepnya seminggu, ceritanya mungkin bisa ditulis jadi buku :D

—-

Depok, 20 Mei 2013

 

Tags: , ,

Kapankah Indonesia Punya Homestay Resmi?

Sudah pernah dengar tentang Koreastay?

Kalau belum, Koreastay adalah program homestay yang secara resmi diselenggarakan oleh pemerintah Korea Selatan. Menarik, tentu saja.

Jika kebanyakan homestay  di berbagai negara lebih banyak ditujukan khusus untuk pelajar/mahasiswa, homestay yang dirancang pemerintah Korea ini dibuat untuk semua umat, alias tidak hanya untuk pelajar/mahasiswa saja. Dengan begitu, para turis tidak melulu untuk “dipaksa” tinggal di akomodasi semacam hotel, hostel, inn, resort, dll. Mereka yang datang untuk merasakan pengalaman budaya Korea yang kental bisa memilih homestay: a home away from home.

Setiap hari turis bisa makan dan tinggal bersama sebuah keluarga Korea dengan adat istiadatnya. Turis juga sangat dianjurkan untuk mengenal bagaimana norma yang berlaku di keluarga Korea. Tata cara makan bersama, etika ijin keluar rumah dan sejenisnya, semua diperkenalkan lebih awal melalui website Koreastay.

Tak sembarang homestay, pemerintah benar-benar melakukan kontrol yang ketat atas host (tuan rumah)nya. Persyaratannya sangat komprehensif dan mendukung program pengenalan budaya Korea ke dunia internasional. Beberapa diantaranya host diwajibkan dapat berbahasa Inggris aktif dan memiliki pemahaman toleransi budaya. Kualitas kamar yg disediakan (meliputi kebersihan, luas kamar, tingkat kebisingan, ventilasi, dll) dinilai. Lingkungan di sekitar rumah, termasuk juga motivasi host dan orientasi servis bahkan diperhatikan, termasuk juga akses kepada keragaman budaya Korea dan transportasi umum. Homestay-homestay resmi tersebut disertifikasi oleh Komenterian Pariwisata, dan dievaluasi secara berkala. Keren bukan?

Setelah saya korek-korek di internet, ternyata program homestay yang resmi seperti Koreastay tidak hanya dimiliki oleh Kementerian Pariwisata Korea. Negara tetangga kita, Malaysia, juga memiliki program serupa lewat Kementerian Pelancongan Malaysia. Lebih ajib lagi, program homestay Malaysia yang disebut Go2Homestay ini malah sudah memiliki apps untuk iPhone dan Blackberry. Meski dengan video yang sedikit amatir, setiap negara bagiannya memiliki video masing-masing untuk memperkenalkan program homestay dan budaya yang ada. Homestay tersebut bisa dinikmati dengan range harga RM 150 – 250 atau sekitar 450 – 750 ribu rupiah.

Banyak negara yang memiliki program homestay. Akan tetapi, sedikit diantaranya yang mengolah dan mengemasnya dengan apik semacam Korea dan Malaysia. Di Jepang, Spanyol, dan Vancouver – Canada, ada pengelolaan homestay tetapi dikelola oleh agen secara komersial. Koreastay dan Go2Homestay juga bersifat komersial, tetapi komersialisasi tersebut terkontrol kualitasnya, dan tidak dilepas begitu saja. Kementerian pariwisatanya secara resmi mendukung program yang secara langsung memberikan “freshmoney” ke masyarakat melalui pariwisata.

Indonesia, kapankah akan punya program homestay semacam itu? #iri sekali rasanya.

 

Tags: , ,

Am I properly described? An Attainer

Ini nih hasil analisis HR di kantor.

Katanya, saya begini:

A loyal friend, she is patient and caring when attending to the needs of others. She is usually an even-paced individual who thrives in a peaceful, harmonious environment. She tends to be quite predictable, sticking with proven, reliable methods of dealing with situations rather than taking chances with a new, unproven approach.

She is motivated by her ability to lead groups and influence others around her. She is someone who takes the responsibility of leadership seriously when it is given to her, and is typically able to make important decisions without delay. She exudes confidence and others respond to her natural ability to be a front runner.

A thoughtful, caring person who likes to be around others, she is one who appreciates relationships. She enjoys being involved in social functions, but does not usually care to be the center of attention. She seeks balance between personal and social time, and enjoys a quiet evening with a few close friends as a good mix of the two.

Not afraid to take a bold approach, she is willing to challenge the status quo. She is original and creative, and acts with confidence when implementing new solutions. She will tend to use a balance of intuition and facts when making decisions, and once she has made a decision, she will not be afraid to take action upon it.

She is an objective, analytical person. She typically prefers to be in charge of situations, but she is also willing to offer help and support. Motivated internally by personal goals, Ika loves people, but also has the ability to be task oriented when necessary. Because of her dogged determination, she is successful at many things; her calm, steady and perseverant character contributes to her success.

Tenacious after starting a project, she will fight hard for her objectives. Independent and questioning in approach, she is thorough and possesses a strong ability to follow-through. She can be reserved even though she is people-oriented; and in situations where she is not comfortable, she prefers to support the leaders instead of being in charge of the situation.

She tends to be a practical person who evaluates herself and others by results. She is able to blend determination with patience and supportiveness. She likes to finish what she starts and do it thoroughly. She prefers to work with just a few people or independently. She does not like to be rushed or pressured; she operates best when she works at her own pace. Steadfast and persevering, she will work hard for positive outcomes to situations.

She is determined and stable. While she is patient and open to others’ ideas, she embraces deep personal beliefs. Enjoying a slow, steady pace and possessing an optimistic attitude, she utilizes logic to make decisions most of the time. However, when excited, she may make emotional decisions but then will be sure to work hard to make sure the outcome is what she desired.

 
Leave a comment

Posted by on March 27, 2013 in Uncategorized

 

Kuala Lumpur: Less Vibrant than Jakarta

Image

Salah satu gedung kementrian Malaysia

Akhir bulan lalu saya ke Kuala Lumpur. Ceritanya ini my first overseas business trip. Haha. Yah lumayanlah, meski nggak sempat ke Melaka, Penang, dan destinasi lain di sekitar KL. It was more than enough: free return flights, hotel bintang 4 dengan kamar suite, dan bisa sedikit tengok kanan kiri (jalan-jalan) di luar agenda kantor, hehe. Jadilah saya mampir ke KLCC atau Twin Tower, Genting Highland, China Town, Central Market atau Pasar Seni, dan Orchard Road-nya KL, yaitu Bukit Bintang.

Kalau ditanya Kuala Lumpur seperti apa, saya sih bilang, biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang sangat berkesan. Malah, saya pikir, Jakarta lebih menarik, lebih hidup, meskipun dengan segala kemacetannya. Saya akui, KL memang memiliki transportasi publik yang jauh lebih nyaman daripada Jakarta. Kecuali taksi-taksinya yang seringkali tak mau pasang argo. Padahal mestinya tarif taksi resmi di KL lebih murah daripada tarif taksi Jakarta. Tapi ya itu, sopir-sopirnya sering pada reseh karena tidak mau pasang argo. Jalan cuma 5Km saja, saya diminta bayar RM 30 (Ringgit Malaysia). Kalau dirupiahkan ya sekitar 150 ribu. #Ngoookk

Twin Tower, dari dalam monorail

Twin Tower, dari dalam monorail

Karena saya menginap di hotel tepat di depan stasiun monorel Imbi (Berjaya Times Square), di KL saya lebih sering memakai subway (di KL istilahnya “commuter”), atau monorail. Ada semacam kartu EZ Link yang namanya Touch&Go. Kartu tersebut harganya hanya RM 10, dengan isi RM 7. Bisa diisi ulang sesuai kebutuhan, dengan nominal isi ulang RM 10. Selain dipakai untuk kereta, Touch&Go juga bisa dipakai untuk membayar tiket bis. Hanya saja, ketika tur dalam kota, saya belum pernah naik bus. Saya naik bus satu-satunya hanya ketika ke Genting. Di luar itu, saya merasa lebih nyaman naik kereta karena saya hanya punya peta monorail dan subway.

Salah satu stasiun monorail di KL

Salah satu stasiun monorail di KL

Bukit Bintang

Bukit Bintang intinya mirip seperti Orchard Road-nya Singapore. Isinya mal-mal dengan gerai-gerai brand semacam Guess, Zara, M&C, Cartier, Chanel, dan selevelnya atau bahkan lebih. Minimal sekelas UniqLo. Masuk tokonya aja saya nggak berani, wkwkwk.

Sengaja ke sini untuk malam, menu yang saya pilih agak apes. Mau cari makanan halal, adanya fine dining timur tengah yang 1 pax harganya bisa 400ribuan. Alhasil saya pun makan di TGIF, semacam kafe. Udah harganya mahal, rasanya super nggak jelas: spageti yang nggak ada rasanya, cuma mie dicampur bawang bombay, sayur entah apa namanya warna ungu marun, kembang kol, brokoli, dan entah apa lagi. Bikinnya mungkin cuma diurapin sama minyak zaitun. Huak! Kalau nggak ingat itu harganya 100 ribu, pasti udah nggak saya makan. Meskipun dibayarin kantor, tetep aja nyesek karena rasanya super nggak enak.

Genting Highland

Cable car di Genting Highland

Cable car di Genting Highland

Ini mah puncak versi KL. Hanya saja di Genting ada semacam TransStudio, taman bermain indoor. Saya sih nggak terlalu tertarik. Saya ke genting cuma penasaran dengan cable car-nya yang ada di tengah-tengah hutan, dihubungkan dari puncaknya Genting ke lembahnya dengan panjang bisa mencapai 4 Km-an. Cari makanan halal di dalam Genting juga agak susah, kecuali kalau mau makan fastfood. Di sana ada KFC, McD, Burger King yang pastinya halal. Masalahnya partner saya nggak mau diajak makan di fastfood, pusing kan. Jadilah malam itu akhirnya saya berakhir cuma makan yoghurt dan wafel. Untung enak. Haha.

Pos polisi, menuju Genting Highland

Pos polisi, menuju Genting Highland

Cerita yang lain tentang China Town dan Pasar Seni. Ketika saya di Pasar Seni, saya sempat lihat ada pertunjukan tari dengan lagu Rasa Sayange yang dikemas dengan apik. Di tengah pusat perbelanjaan souvenir, pengunjung yang rata-rata turis asing “dikagetkan” dengan show dadakan, yang sederhana tapi cukup meriah. Saya, jujur saja nggak ngerti mesti komen apa. Kenyataannya, tari-tarian tradisional kita tidak “dirawat” dengan baik oleh pemerintah. Tapi begitunya disenggol sama tetangga sebelah, baru kita merasa itu milik kita.

Tanya kenapa?

 
 

Keindahan Tak Terpoles: Gili Nanggu

Image

Pemandangan siang hari di Gili Nanggu

Pernah menginap di private island?

Kalau belum pernah, cobalah sekali-kali. Rasanya seru! Yang jelas serasa jadi ratu/raja di pulau sendiri. hehe. Saya mampir ke Nanggu awal Desember lalu. Ditambah lagi, saat itu yang menginap hanya kami ber-empat: saya, om saya, om saya, dan om saya (maklum, hidup saya dikelilingi om-om), haha.

Sejak berkunjung ke Pulau Nanggu, saya jadi sering iseng, cari berapa sih rate kalau menginap di resort yang berada di private island? Ternyata oh ternyata, harganya nggilani. Rata-rata semalam minimal 500an USD alias lima juta-an. Ada juga sih yang harganya “cuma” 150an USD, tapi jarang. Kalau yang mahal, semalam ada yang sampai 200-jutaan bahkan lebih. Belum lagi kalau nginepnya nge-blok sepulau. Cari tahu aja sendiri. Hehehe.

Image

Salah satu kepiting yang kami temukan di tepi pantai. FYI, kepiting ini sudah mati, hanya tinggal cangkangnya yang cantik.

Nah, kalau yang belum pernah, bisa coba ke Gili Nanggu. Pulau yang sempat gempar karena diisukan dijual ke pihak asing ini hanya punya satu akomodasi. Namanya Gili Nanggu Cottage & Bungalows. Unit kamarnya pun tak sampai 20 buah. Dan lagi, yang jelas penginapannya tak sekelas resort atau hotel. Fasilitasnya sangat basic, karena pemiliknya memang tak bertujuan untuk mencari dollar dari penginapannya. Hanya cukup bertujuan supaya pulau ini terawat saja. Makanya dibuatlah cottage dan bungalow di dalamnya. Jangan berharap ada air panas, karena listrik terbatas (dari genset). Akan tetapi, suplai air tawar aman karena ada pipa langsung yang berasal dari mainland, yaitu Lombok.

Image

Pantai berkarang di salah satu pantai di Nanggu

Saya hanya menginap semalam di Nanggu. Tapi semuanya cukup menyenangkan. The island  is too beautiful, thus any basic facilities are more than enough. Saya pikir tamu yang mencari keindahan alam, bertujuan untuk escape, tak akan komplain apapun tentang Nanggu. Karena seperti yang saya bilang: the island is too beautiful!

Image

Pantai dengan pemandangan perbukitan yang hijau dan diselingi siluet anak-anak Rinjani

Ketika di sana, saya muterin pulau 360 derajat, and that was wonderful! Seolah-olah saya seperti disuguhi slideshow berbagai pemandangan. Pesona Nanggu benar-benar lengkap. Pantai cantik dengan gradasi air sebening kristal, toska, biru muda, dan biru gelap. Di sekelilingnya adalah pemandangan perbukitan Lombok, hijau dan siluet silih berganti. Mau cari pantai jenis apapun ada: yang pasirnya putih bersih, pantai pasir merica, pantai berkarang, hingga pasir hitam yang sparkling. Pasir mericanya pun ada dua jenis: golden grainy sands dan yang berwarna pink agak orange. Superb!

Jika mau snorkling, cukup 10 meter dari bibir pantai, maka ikan dan karang warna-warni sudah menjamur. Belum lagi ikannya “ramah”. Kalau kita pelototin, kadang mereka cuma balik melototin kita, sesekali mundur malu-malu, lalu melototin kita lagi. hehe. Bahkan waktu saya sekadar gerak-gerakin jari tangan, mereka bukannya lari tapi malah ramai mendekat. Dikiranya saya bawa roti, tapi setelah beberapa lama mereka sadar kalau saya tak bawa roti, jadilah mereka cuek setelah tahu saya cuma “ngibul” nggak bagi-bagi roti. Hehe

(To be continued…)

Cerita tentang Nanggu masih berlanjut. Will be posted soon :)

 

Sasak, Songket, dan Teletong Sapi

Image

Lumbung Padi Tradisional Sasak di Desa Sade

Pernah dengar tentang Suku Sasak? Itu adalah suku asli yang ada di Lombok. Yang lucu adalah, mereka mengepel lantai rumahnya dengan tai sapi! #Ngeeekk!

Tapi uniknya, meskipun lantai rumahnya dipel dengan tai sapi, teletong sapi, kotoran sapi, atau apalah itu namanya, ketika masuk ke rumah tradisional Sasak yang berlantaikan aci-an semen itu, rumah itu tidak bau tai sapi. Tapi sih, jujur saja, kalau disuruh glesotan di situ saya pikir-pikir juga meskipun tidak bau.

Terdapat beberapa desa Sasak yang masih melestarikan budaya kehidupan Sasak hingga sekarang. Beberapa desa tersebut diantaranya adalah Desa Bayan yang terletak di Lombok Utara (dekat dengan Rinjani), dan Sade Rembitan, yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah.

Ketika saya keliling Sade akhir Oktober lalu, guide-nya menceritakan bahwa masyarakat Sade bertani hanya satu kali setahun. Itu karena kendala iklim, di mana curah hujan hanya mendukung pertanian sekali setahun. Hasil panen tersebut biasanya hanya cukup dikonsumsi untuk keluarga sendiri, dengan jumlah anggota 5-6 orang, untuk konsumsi selama 6 bulan.

Di samping bertani, masyarakat Sade mencari nafkah sampingan dengan membuat tenun Songket. Akan tetapi, pekerjaan menenun biasanya hanya dilakukan oleh wanita. Laki-laki juga dapat memintal, tetapi bukan tenun songket, melainkan tenun ikat. Dalam tradisi masyarakat asli Sasak, perempuan baru boleh menikah setelah dapat terampil menenun songket, dan pada umumnya, mereka telah belajar menenun sejak usia 9 tahun.

Image

Penenun di Desa Sade

Harga songket memang relatif mahal. Tetapi jika mengetahui prosesnya yang rumit dan panjang, harga selembar kain yang rata-rata beberapa ratus ribu itu, sama sekali tak berlebihan.

Pembuatan songket sendiri memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk memproduksi selembar kain songket sepanjang 2 meter, diperlukan waktu setidaknya 1-2 bulan, bahkan lebih untuk motif yang rumit. Rata-rata, dalam sehari, pengrajin songket hanya dapat menghasilkan songket sepanjang 17-25cm saja. Itu belum termasuk jika pengrajin memintal benang mereka sendiri.

Selain di Sade, desa penghasil tenun lainnya yang terkenal di Lombok adalah Desa Sukarara. Perbedaannya adalah, Desa Sukarara relatif sama dengan desa-desa pada umumnya, tidak seperti Sade di mana masyarakatnya tinggal di rumah tradisional. Di Sukarara, benang songket yang digunakan rata-rata adalah benang pabrikan, sedangkan di Desa Sade, masyarakatnya memintal sendiri benang songket tersebut, yang terbuat dari kapas. Di Sukarara sendiri, harga songket bervariasi, mulai dari 65 ribu hingga 5 juta rupiah. Dan saya akui, yang harganya 5 juta itu memang cakep sekali. hehe

Image

Salah seorang penenun di Desa Sukarara

Overall, Desa Sade itu menarik. Sayangnya, guide-nya kurang sadar wisata. Atau mungkin saya yang lagi apes saja? Guide yang mengantar saya memiliki attitude yang kurang bagus. Bayangkan saja, ketika awal-awal berkeliling, dia mengantarkan saya keliling-keliling dengan sikap yang sangat welcome dan ramah. Sangat ramah, sampai kemudian dia mengajak saya mampir di “kios” songket milik kakaknya. Ya untuk menghormati karena dia mengajak saya ke situ, saya lihat-lihat saja. Sebenarnya saya tertarik, tapi tidak ada budget untuk membeli songket. Jadilah saya hanya melihat-lihat saja. Bahkan tanya harga pun saya tidak berani daripada cuma jadi PHP (PHP = pemberi harapan palsu—red). Setelah “merayu” saya panjang lebar untuk membeli songketnya, dan sayangnya saya tetap tidak berhasil dibujuk, wajahnya langsung asam sam sam. Dia yang tadinya ngoceh tentang kehidupan masyarakat Sade, pasca dari kios kakaknya itu jadi kicep alias diam, berbicara hanya kalau saya tanya. Dasar. Niat saya yang tadinya masih ingin keliling-keliling, jadi bubar jalan karena mood saya pun sudah berubah gara-gara guide-nya resek. Saran saya sih, mungkin kalau dari awal tidak berniat membeli songket, menolak secara halus saja sejak di awal. :)

Image

Narsis di salah satu kiod tenun songket di Desa Sade

 
Leave a comment

Posted by on November 20, 2012 in Uncategorized

 

Tags: , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.